Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pembebasan


Suatu ketika saya menolak Adorno, karena idenya tentang emansipasi lewat musik Schoenberg itu terlalu elitis. Siapa bisa paham Schoenberg, kecuali telinga-telinga yang terlatih dan pikiran-pikiran yang telah dijejali teori musik? Bagaimana mungkin teknik dua belas nada yang tak punya "jalan pulang" tersebut dapat membebaskan kelas pekerja dari alienasi? Namun setelah ngobrol-ngobrol dengan Ucok (Homicide/ Grimloc) awal April kemarin, tiba-tiba saya terpantik hal yang justru berkebalikan. Kata Ucok, memang seni itu mestilah "elitis". Lah, apa maksudnya? 

Lama-lama aku paham, dan malah setuju dengan Adorno. Pembebasan bukanlah sebentuk ajakan atau himbauan, dari orang yang "terbebaskan" terhadap orang yang "belum terbebaskan" (itulah yang kupahami sebelumnya). Pembebasan bukanlah sebentuk pesan, seperti misalnya musik balada yang menyerukan ajakan untuk demo, meniupkan kesadaran tentang adanya eksploitasi, atau dorongan untuk mengguncang oligarki. Oke, yang demikian juga sebentuk pembebasan, tapi mengandung jebakan yang lain. 

Pertama, jebakan bahwa orang yang mengajak merasa diri sebagai "si paling sadar", yang menempatkannya pada posisi superordinat, sementara orang-orang lainnya, yang "belum tersadarkan", sebagai orang di posisi subordinat. Kedua, jebakan bahwa ajakan-ajakan tersebut dimaksudkan untuk "melayani massa". Musik yang dibuat sengaja di-setting untuk disukai publik. Masalahnya, si pembuat musik sendiri jadinya "tidak terbebaskan" (karena terperangkap keharusan untuk melayani). Ketiga, sesuai pandangan Adorno, bahwa pembebasan melalui musik-musik dengan format "populer" (dengan jumlah birama, progresi akor, yang nyaris seragam dengan lagu manapun yang ramai di dunia), sebenarnya tak terbebaskan secara musikal. 

Apa yang dipikirkan Adorno lewat musik Schoenberg, pada dasarnya adalah pembebasan secara musikal. Teknik dua belas nada tak memiliki pengulangan notasi dalam setiap putarannya. Padahal pengulangan itulah "senjata" musik populer, yang membuat orang manapun yang dicekoki menjadi hapal dan terbius, menempel kemana-mana ibarat "Kita bikin romantis"-nya Maliq n D'Essentials. Pembebasan secara musikal ini memang sangat spesifik, dan berpotensi jatuh pada elitisme, tetapi saya mungkin paham maksud Adorno: Adorno ingin agar secara internal, karya seni itu sendiri sudah terbebas, dari segala rupa hal-hal di luar seni, seperti kepentingan untuk melayani massa atau penjara format-format tertentu yang populer atau bertendensi semata-mata untuk membuat orang lain senang. Itulah mengapa Adorno memberi contoh Schoenberg: Schoenberg terbebaskan, tak butuh validasi massa, tak butuh diputar di media-media. Itulah pembebasan. 

Maka itu, sebagaimana obrolan saya dengan Ucok, kekeliruan besar jika melihat musik free jazz Ornette Coleman tidak membebaskan ketimbang musik - aktivisme seperti misalnya yang dibunyikan Bob Geldof atau Iwan Fals dalam konteks lokal. Free jazz itu sendiri membebaskan, dan memahami logika internal dalam musik tersebut akan membuat apresiatornya turut terbebaskan. 

Itu sebabnya, ketika saya mencari ke dalam diri, dari mana asal usul sikap kekirian saya, ternyata bukan dari literatur Marxis yang sebenarnya baru empat tahun atau lima tahun terakhir saja saya baru intens membacanya. Sejak remaja, saya lebih akrab dengan musik klasik dan musik jazz. Ternyata, saya kira, dari situlah saya mendapatkan ide tentang pembebasan. Hanya lewat apresiasi terhadap apa yang telah terbebaskan, kita turut terbebaskan bersamanya. 

Dengan demikian, pembebasan bukanlah sebentuk narasi semata-mata, melainkan pembebasan total, dimulai dari pembebasan penginderaan. Apa yang kita lihat, apa kita dengar, mestilah terlebih dahulu teremansipasi dari jebakan-jebakan hubungan subordinat - superordinat yang kadang terselubung via aktivisme serta bentuk estetika yang terkurung dalam kepentingan melayani selera massa. Jadilah elitis, bebaskan dirimu sendiri, baru bebaskan orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...