Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Sasaran


Tidak berapa lama setelah saya mengetikkan kata "makanan kucing" di pesan WhatsApp untuk istri, di YouTube tiba-tiba muncul iklan Whiskas. Tidak berapa lama saya membicarakan soal pizza bersama teman lewat WhatsApp, di YouTube muncul juga iklan pizza. Di kendaraan saat mendengarkan Spotify, sedang asyik-asyiknya mendengarkan albumnya Michael Franks, iklan selalu menyela, yang mengarahkan kita pada playlist atau siaran lain (maklum, bukan premium). Saya tidak tahu, tapi pastilah dunia algoritma ini sudah canggih, mereka sudah mencatat tempat-tempat yang sering saya kunjungi di GMaps sehingga iklan-iklannya pun pasti menyesuaikan. Iya, iklan kopi. 

Hampir setiap saat kita dibombardir iklan. Iklan-iklan tersebut tidak lagi seperti era media massa yang tembakannya membabibuta seperti machine gun. Iklan-iklan hari ini menembakkan sasarannya seperti sniper. Mengeceng dengan hati-hati, tapi tembakannya diusahakan langsung sekali mati. Lucunya, kita bukan benar-benar dicari oleh sniper, tapi kita sendirilah yang menyodorkan diri pada si penembak jitu. Kita sendirilah yang mengumbar informasi tentang siapa diri kita, termasuk apa yang kita suka, apa yang kita cari, siapa pasangan kita, bahkan dimana kita tinggal. Mungkin kita tidak benar-benar vulgar menginformasikan dimana kita tinggal via media sosial, tapi masa sih, tidak pernah bagi-bagi alamat via fitur chat pada orang terdekat? Bahkan kita pun sering diminta persetujuan lokasi setiap akan mengakses aplikasi atau situs tertentu. 

Teman saya bahkan pernah melakukan tindakan bodoh. Ia dengan bangganya mengetes password-nya sendiri di sebuah aplikasi "pengecek kekuatan password" dan mengaku bahwa password-nya tidak dapat dijebol hingga jutaan tahun cahaya. Di mata platform yang berkuasa, teman saya itu tidak sedang mengecek kekuatan password-nya, melainkan sedang menjebol keamanannya sendiri. Belum lagi fitur-fitur di media sosial seperti Instagram Story atau cuitan di Twitter / X yang memungkinkan kita melaporkan apa yang sedang kita lakukan di waktu dan lokasi yang spesifik. Kita lagi-lagi menyerahkan diri sendiri sebagai sasaran tembak bagi sniper-sniper bernama advertiser (bahkan mungkin juga orang-orang jahat!). 

Menariknya, seolah-olah tidak ada yang dirugikan di sana. Semua dibuat seolah-olah konsekuensi atas putusan kita sendiri. Salah sendiri tidak bayar premium, dibombardir iklan deh. Salah sendiri isi profilnya lengkap, disasar iklan deh. Salah sendiri kegiatannya diceritain via story, ketahuan deh lagi apa dan dimana. Namun di sisi lain kita tidak benar-benar punya pilihan: tidak bayar premium karena mungkin tidak ada uang; kita mengisi profil selengkap mungkin karena percaya bahwa semakin lengkap data, semakin tinggi kredibilitas seseorang; kita rajin update story atau cuitan supaya terlihat senantiasa aktual dan banyak kegiatan. Semua yang dilakukan itu hampir seperti standar kebaikan sekaligus cara bertahan hidup di masa sekarang. Pada pokoknya, kita dibuat "normal" atas segala yang kita perbuat di media sosial. 

Problem sasaran lainnya adalah perkontenan. Saat ini tidak semua perbuatan baik menjadi tulus dan mengharap ridho ilahi untuk dibalas berlipat ganda. Ridho ilahi diterjemahkan menjadi monetisasi lewat konten. Saya mau memberikan informasi pada kalian secara gratis, tapi dengan kalian menontonnya, saya mendapat uang dari sana. Saya mau memberi uang pada pengemis, tapi mereka harus mau direkam dan menjadi konten yang menggugah bagi netijen. Saya mau menghibur kalian dengan adegan berbahaya, tapi mesti sekalian menggenjot traffic. Lagi-lagi orang-orang menjadi sasaran untuk pengemasan sedemikian rupa demi konten digital, untuk ditonton oleh sasaran lainnya. 

Dengan demikian, privasi adalah omong kosong karena segala bentuk kegiatan privat, pertama, bisa jadi kita sendirilah yang menyebarluaskannya menjadi konten dan yang kedua, kemanapun kita bersembunyi atas nama kegiatan privat, selama terhubung dengan internet, maka kita sekaligus sasaran empuk oleh berbagai iklan. Kita bisa saja memutus hubungan dengan internet dan hidup melebur bertatap muka secara luring kemana-mana. Namun ingat, para pembuat konten tetap mengintai, mengobjektivikasi kita untuk menjadi tontonan dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...