Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Guru yang Tidak Tahu: Pendidikan yang Mengemansipasi Versi Jacques Rancière

 

Mengajar dan mendidik adalah dua konsep yang bisa dibedakan. Terence W. Moore dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Education menuliskan bahwa pendidikan adalah konsep yang melibatkan kegiatan mengajar yang lebih spesifik pada apa yang layak untuk diketahui dan sikap yang secara moral diterima (Moore, 2010: 33). Mengacu pada pengertian Moore tersebut, kita bisa saja menjadi guru yang mengajarkan cara untuk mencopet, misalnya, tetapi hal demikian bukanlah sesuatu yang mendidik. 

Pengertian pendidikan sebagaimana dituliskan oleh Moore tersebut dapat dikritisi. Menurut siapa sesuatu itu layak diketahui? Dari sudut pandang siapa suatu sikap dapat dikatakan bermoral atau tidak? Tanpa perlu menjawabnya, kita dapat melihat bahwa Moore secara tidak langsung telah menempatkan guru atau pengajar dalam posisi “si paling tahu” - yang memutuskan mana ilmu yang layak diketahui dan mana sikap yang dianggap bermoral. 

Pandangan Moore menjadi pandangan yang cukup umum dalam dunia pendidikan. Aliran perenialisme adalah salah satu perwujudan dari pandangan tentang “guru sebagai si tahu segala” yang berprinsip bahwa materi yang diajarkan pada murid-murid haruslah bersumber pada kanon / sumber klasik. Kanon yang dimaksud ini ada pada buku-buku seperti Iliad (karya Homer), The History (Herodotus), The Republic (Plato), The Discourses (Epictetus), dan seterusnya hingga karya-karya Dostoevsky, James, dan Freud. 

Poinnya, perenialisme menekankan bahwa dalam kanon-kanon tersebut, sudah dimuat ilmu-ilmu yang layak diketahui, sekaligus panduan moral yang terbukti dapat diandalkan. Dengan demikian, perenialisme tidak bisa diajarkan oleh “sembarang guru”. Mesti guru yang spesial, yang bisa memahami kanon dengan baik saja yang dipandang layak untuk memberikan pendidikan. 

 

Cara pandang perenialisme tersebut mendapat berbagai kritikan. Progresivisme misalnya, beranggapan bahwa kanon-kanon tersebut bukannya tak diperlukan, tetapi hal yang lebih pokok adalah mengajarkan murid-murid dengan kemampuan yang lebih relevan dengan kemajuan zaman. Urusan digital marketing, sebagai contoh, apakah dapat ditemukan solusinya dalam Iliad, Critique of Pure Reason, atau The Brothers Karamazov? Kritik progresivisme tersebut pelan-pelan menggeser arah pendidikan dari yang mulanya bersumber pada “guru sebagai si paling tahu” menjadi berbasis kebutuhan murid. Murid adalah masa depan sehingga mereka mesti dibekali oleh kemampuan-kemampuan yang dapat menunjang kehidupannya nanti. Murid-murid tidak hidup di masa lalu, bergumul dengan kanon-kanon! 

Kritik lebih keras datang dari Paulo Freire dengan pandangan pedagogi kritis yang berangkat dari problem pendidikan di Amerika Latin, tepatnya di Brasil. Gaya pendidikan yang serba bersumber dari guru ini disebutnya sebagai “pendidikan gaya bank” (banking education). Murid, dengan demikian, ditempatkan seperti “celengan” yang pasif, menunggu dimasuki oleh ilmu-ilmu yang dianggap baik dan benar oleh gurunya. Pedagogi kritis menawarkan moda dialog dalam kegiatan belajar – mengajar. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang memancing murid-muridnya untuk berpikir lebih kritis, terutama terhadap situasi sosial di sekitar. Guru dalam versi Freire mesti senantiasa “memprovokasi” keingintahuan murid dan bahkan tak pernah takut jika ditanya “kenapa” untuk konsep yang paling mendasar sekalipun – dalam pendidikan gaya bank, kata Freire, guru lebih sering membagikan ilmu tanpa tahu “kenapa”. 

Namun gaya Freire tersebut belum cukup radikal bagi pemikir post-Marxis asal Prancis, Jacques Rancière. Dalam bukunya yang berjudul The Ignorant Schoolmaster (1987), Rancière mengambil contoh dari seorang guru di Prancis pada awal abad ke-19 yang bernama Joseph Jacotot. Pada tahun 1818, Jacotot ditugaskan untuk mengajar bahasa Prancis di Universitas Louvain, Belgia. Dengan menggunakan buku Les Aventures de Télémaque karangan François Fénelon, Jacotot membuat anak-anak mampu belajar bahasa Prancis tanpa perlu banyak-banyak diberi penjelasan oleh dirinya selaku guru. Hal yang dilakukan oleh Jacotot adalah mendorong murid-muridnya untuk membaca Télémaque perlahan-lahan dari mulai per huruf, per kata, per kalimat, per paragraf, hingga mampu menganalisis makna dan membaca keseluruhan cerita. Di tengah-tengah proses tersebut, Jacotot juga mengajak murid-muridnya untuk mendiskusikan apa yang mereka lihat dan rasakan. 

Hal menarik dari gaya Jacotot tersebut, sebagaimana ditekankan oleh Rancière – dan cukup membedakan dari Freire – adalah titik berangkatnya bahwa semua orang memiliki kapasitas intelektual yang setara. Kesetaraan adalah titik mula dan bukanlah tujuan akhir. Rancière kerap mengkritisi cara pandang Marxis yang menjadikan ketidaksetaraan sebagai poin awal, sehingga hal yang dilakukan oleh para pemikir Marxis pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh guru-guru kanonik dalam perenialisme: menempatkan dirinya sebagai “si paling sadar” yang bertugas “menyadarkan” murid-murid. 

Asumsi demikian ditolak oleh Rancière yang berpandangan bahwa penjelasan (explication) justru menegaskan posisi guru yang lebih superior terhadap murid. Alih-alih mengemansipasi, guru yang melakukan penjelasan, bagi Rancière, akan mematikan semangat anak didiknya. Bahkan lebih radikal lagi, Rancière menyarankan guru-guru untuk tidak saja mengajarkan materi yang mereka kuasai, melainkan justru yang mereka tidak kuasai – seperti Jacotot yang mengajarkan piano dan melukis. Untuk apa? Supaya murid-murid semakin tersadarkan akan kesetaraan ini. Bahwa guru-guru pun sama seperti mereka, ikut belajar. 

Poinnya, bagi Rancière, murid-murid diajak untuk menemukan gairah dan keinginan dalam melakukan eksplorasi. Guru tidak lagi perlu untuk menjelaskan panjang lebar, tetapi guru dalam hal ini berperan untuk memastikan semangat pada muridnya terus menyala. Semangat tersebut, sebagaimana ditekankan Rancière, bukan berasal dari dikte-dikte yang membosankan dari pengajar, melainkan keyakinan penuh bahwa setiap orang secara intelektual adalah setara dan mampu memberikan instruksi bagi dirinya sendiri. Saat semangat tersebut senantiasa berkobar, maka disitulah, bagi Rancière, terjadi emansipasi. 

 

Pertanyaannya, apakah gaya Rancière itu mungkin diterapkan secara luas? Konteks murid-murid yang diajarkan oleh Jacotot dan Freire bisa jadi sangat berbeda. Jacotot mengajarkan murid-murid di Belgia, sementara Freire di Brasil, yang secara kondisi struktural sudah sangat timpang. Mungkin mudah saja bagi Jacotot membiarkan murid-murid di Louvain untuk membaca Télémaque dan mengembangkan pikirannya sendiri. Namun apakah bisa dengan mudah diterapkan pada murid-murid di negara berkembang yang bahkan tidak semua orang bisa membaca? 

Rancière sebenarnya tetap berkeyakinan bahwa hal tersebut adalah mungkin. Setia dengan pandangannya terhadap kesetaraan, Rancière yakin percaya murid-murid yang tidak bisa membaca pun mampu memahami Télémaque meski harus diawali dari instruksi serta pertanyaan dari gurunya. Tanpa harus bisa membaca, setiap murid, lanjut Rancière, mestinya bisa memikirkan dan merasakan apa yang diceritakan dalam Télémaque

Barangkali gaya Rancière dalam The Ignorant Schoolmaster ini tidak perlu dijadikan suatu metode yang bisa diterapkan secara umum. Masih terdapat pelajaran-pelajaran yang memerlukan penjelasan dari guru, yang malah jika penjelasannya baik, bisa menimbulkan semangat dalam diri murid-murid sebagaimana dijadikan tujuan dalam pedagogi versi Rancière. Meski demikian, The Ignorant Schoolmaster tetap memberikan sumbangsih penting dalam “desakralisasi” peran guru yang selama ini seolah memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya membuat murid-muridnya jadi baik dan berpengetahuan, tapi juga mengemban tugas aktivisme untuk membuat para pembelajar menjadi sadar. Rancière, sebaliknya, menyingkirkan beban-beban tersebut dan menempatkan guru malah sebagai “orang yang tidak tahu” demi menjadikan murid teremansipasi untuk dirinya sendiri.  

Sumber bacaan 

  • Freire, P. (2017). Pedagogy of the Oppressed. Penguin Classics. 
  • Moore, T. W. (2010). Philosophy of Education (International Library of the Philosophy of Education Volume 14): An Introduction. Routledge. 
  • Rancière, J. (1991). The Ignorant Schoolmaster: Five Lessons in Intellectual Emancipation. Stanford University Press. Stanford, CA.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...