Skip to main content

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Demokrasi


Sebagai persiapan dalam mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Salihara, saya menjadi baca-baca pemikiran Jacques Rancière. Karena agak tergesa-gesa, saya tidak bisa dikatakan tuntas dalam membaca pemikiran Rancière (bukunya juga cukup banyak), tetapi setidaknya dalam tulisan ini saya mencoba untuk menuangkan apa yang saya dapatkan dari pembacaan yang seadanya itu. 

Selama ini, pemikiran saya tentang demokrasi banyak dipengaruhi oleh Rousseau dan sedikit tentang Habermas. Dalam pandangan Rousseau, demokrasi adalah perkara kehendak umum (general will) yang dibentuk dalam suatu kesepahaman kolektif. Rousseau menganggap mereka yang punya kepentingan berbeda secara individu sebagai orang yang tercemar oleh peradaban modern yang mengunggulkan cinta-diri secara berlebihan. Artinya, peradaban modern adalah katalisator bagi sifat-sifat mau menang sendiri yang membuat kehendak umum menjadi rusak dan gagal mencapai tujuannya (untuk menjadi maslahat bagi kepentingan bersama). 

Bagaimana dengan Habermas? Habermas mengedepankan dialog rasional dalam demokrasi, yang mengacu pada prinsip deliberatif untuk menghasilkan semacam konsensus. Salah satu sumbangsih pemikiran demokrasi Habermas yang saya sukai adalah perkara ranah publik. Bagi Habermas, ruang-ruang publik yang dibuka oleh kaum borjuis justru membuat rakyat bisa berdemokrasi secara sehat tanpa kendali otoritas. Contoh gampangnya, jika kita ngopi di Starbucks, kita justru lebih bisa membicarakan marxisme ketimbang misalnya, di alun-alun atau taman kota yang notabene di bawah pengawasan pemerintah. 

Keduanya sukar dibantah, sekurang-kurangnya punya semangat yang mirip dengan demokrasi Yunani Kuno dimana hampir seluruh populasi laki-laki dewasa nimbrung untuk membicarakan kepentingan umum dalam bentuk musyawarah. Mungkin mirip juga dengan sila keempat Pancasila yang mengedepankan musyawarah dalam mencapai mufakat. Bentuk semacam ini juga, setidaknya mengacu pada pemikiran Rousseau, sekaligus menjadi kritik atas demokrasi perwakilan yang seringkali timpang antara kedudukan wakil dan mereka-mereka yang diwakilkan. 

Namun gagasan Rancière membuat saya mempertanyakan: benarkah mereka yang berbeda harus langsung dituding sebagai individu yang tercemar perasaan cinta-diri? Jika demokrasi mesti berujung pada konsensus, tidakkah hal demikian adalah utopis dalam corak kehidupan masa kini yang diwarnai jutaan kepentingan? Bagaimana mungkin bisa terjadi kehendak umum, jika di media sosial saja, orang berseliweran mencuit apapun dan keinginan mereka benar-benar berbeda satu sama lain secara individual? Mungkin pandangan Rousseau dan Habermas bisa dipahami dalam konteks musyawarah kelompok kecil, tetapi sama sekali sukar dibayangkan dalam populasi besar yang melibatkan banyak keinginan. 

Maka itu Rancière menawarkan pandangan bahwa demokrasi justru adalah membuat segalanya menjadi tampak, yang berdampak pada terjadinya disensus. Rancière beranggapan bahwa setiap orang adalah setara tanpa kecuali, berhak berpikir, berhak berbicara, berhak mengutarakan kegelisahan tentang kehidupan bermasyarakat, yang membuat setiap ungkapan-ungkapan itu menjadi sekaligus politis, sekaligus menciptakan ketidaksetujuan dalam proses demokrasi apapun. 

Misalnya, saya seorang tukang sepatu. Saya tidak pernah punya urusan dengan kehidupan bermasyarakat secara lebih luas karena fokus saya sehari-hari hanyalah mengerjakan sepatu. Lalu suatu hari jalanan menuju tempat kerja tiba-tiba macet parah. Rupanya ada orang-orang yang sedang berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah. Saya kemudian ikut mengemukakan pendapat tentang peristiwa tersebut, entah soal kemacetannya, entah soal poin tuntutannya, tapi saat saya serta merta terlibat dalam kehidupan bermasyarakat tersebut, saya pasti menciptakan ketaksepahaman atau disensus. 

Konsensus, bagi Rancière, di sisi lain, justru kerap mensyaratkan pembungkaman yang lain. Sebuah konsensus tidak pernah selalu konsensus untuk semuanya, melainkan harus ada yang mengalah, harus ada yang tidak dilibatkan, atau bahkan disingkirkan. "Konsensus" tentang Pancasila di masa Orde Baru misalnya, adalah sekaligus tentang penyingkiran atas tafsir Pancasila yang lain, katakanlah dari kaum marxis. Padahal marxis juga secara historis dan ideologis terlibat di dalam perumusan Pancasila dan sudah semestinya mereka diberi tempat. 

Bagi Rancière, demokrasi adalah tempat dimana setiap suara diberi tempat, termasuk mereka yang tersingkirkan dan terpinggirkan. FPI mungkin sempat meresahkan, tapi mereka adalah bagian dari demokrasi juga. Memberangus suara mereka berarti menempatkan demokrasi pada konsensus yang memaksa. Apalagi suara-suara dari kelompok LGBT, disabilitas, dan kelompok minoritas, mesti diangkat meski pastinya menciptakan disensus. 

Saya menikmati disensus setiap menceburkan diri pada pergolakan di Twitter. Setiap orang bicara, setiap orang bisa berdebat dengan siapa saja, setiap orang bisa saling membenci, setiap orang bisa saling menyumpahserapahi. Tidak perlu ada yang sepaham, karena demokrasi bukanlah tentang kesepahaman. Demokrasi adalah pengradikalan suara-suara.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...