Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Ideologi


Bermula dari pertemuan dengan Pak Awal Uzhara tahun 2013 hingga wafatnya beliau tahun 2016, cara pandang saya terhadap ideologi yang melekat pada seseorang menjadi begitu berbeda. Mungkin perlu diceritakan kembali, bahwa Pak Awal adalah mantan eksil yang pernah tinggal enam puluh tahun di Rusia karena alasan politik. Pergi ke Moskow tahun 1958 untuk sekolah film di Institut Sinematografi Gerasimov (dulu namanya VGIK), paspornya dicabut akibat pergolakan politik tahun 1965 di tanah air. Kita tahu bahwa orang-orang yang pergi ke negara-negara Eropa Timur atau negara-negara sosialis pada masa itu adalah "orang-orang utusan Soekarno" yang perlu disingkirkan oleh rezim orde baru, termasuk salah satunya adalah Pak Awal. Pak Awal berhasil pulang tahun 2011 ke Indonesia dan tinggal di Bandung hingga akhir hayatnya. 

Meski sering ketakutan bahwa ia masih "diincar" selama di Indonesia, Pak Awal, di usianya yang kepala delapan, tidak kehilangan keyakinannya atas ideologi yang ia anut. Puluhan tahun di Uni Soviet membuat dirinya lekat dengan ajaran kekirian, meski kadarnya mungkin tidak sekental dulu (saya tidak tahu dulunya Pak Awal bagaimana). Misalnya, setiap kami menonton film bersama, Pak Awal selalu menyelipkan kekesalannya pada film-film Hollywood. Bisa dimaklumi, sebagai lulusan salah satu sekolah film paling bergengsi di dunia, Pak Awal langsung diajar oleh para dosen yang hebat-hebat dari Uni Soviet, yang pada masa itu sangat berseberangan dengan Amerika dan segala produknya. Pak Awal mungkin tidak tahu, bahwa dunia hari ini sudah tidak dipecah berdasarkan ideologi sebagaimana Barat - Timur sewaktu Perang Dingin, tetapi cara pandang dikotomis tersebut masih menempel dan kelihatannya tidak mungkin hilang. 

Begitupun saat saya berjumpa orang lainnya, yang mungkin tidak perlu saya sebutkan namanya. Meski sudah sepuh dan telah merasakan represi begitu berat di era orde baru, ideologi yang mereka anut tidak pernah luntur. Mungkin di masa-masa tertentu, mereka pernah sangat menyembunyikannya (demi keselamatan diri), tetapi menyembunyikan tidak berarti menghilangkan. Malah bisa jadi akibat disembunyikan itulah, ideologi yang ditahan-tahan menjadi semakin menggumpal, dan menunggu momentum untuk meledak. Perasaan kuat terhadap ideologi tersebut membuat saya yakin bahwa lingkungan, sebagaimanapun memaksanya, tidak bisa begitu saja mengubah pendirian seseorang. 

Sebagai contoh, jika ajaran Marxisme dengan materialisme historisnya menganggap agama hanya sekadar produk material yang bertalian dengan sejarah (bukan turun dari langit), maka orang-orang yang saya temui juga rasanya masih punya pandangan demikian (meski tentu menjadi agak kompromis karena usia). Dulu pikiran naif saya mengatakan: orang semakin tua pasti semakin dekat pada agama. Alasannya tentu, mereka takut akan mati, sehingga lambat laun mulai bertaubat, atau bahkan hijrah. Ternyata tidak selalu demikian. Mereka yang sedari muda telah ditanamkan ajaran bahwa agama tidak lebih dari sekadar produk material masyarakat, mungkin akan tetap menganggapnya demikian, meski lingkungan di sekelilingnya beragama, meski ia dikepung adzan lima kali dalam sehari, meski ia dicekoki doktrin bahwa komunis itu bahaya laten karena salah satunya, tidak percaya Tuhan! 

Semakin tua, orang belum tentu kian beragama dan kian percaya Tuhan. Orang semakin tua, kemungkinannya ada dua: entah ia bermanuver dari kepercayaannya yang lama karena sudah tidak relevan dengan usianya, atau apa yang ia percayai sejak lama semakin mengeras, mengkristal dalam tubuhnya. Pada opsi yang kedua, orang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, mereka sudah benar dalam konteks pikirannya sendiri. Meski kita mampu membongkar kekeliruan jalan pikirnya, hal tersebut bisa saja ditolak karena keyakinan yang telah mengakar dalam memori dan tindakannya. Itulah ideologi.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...