Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kegaduhan


Sesekali, jika sedang luang, saya menonton pertandingan NBA. NBA selalu menarik. Tidak hanya tentang aksi dari para pemainnya, tetapi juga bagaimana pertandingan-pertandingannya kerap dikemas layaknya pertunjukan dengan teknik kamera yang "hidup". Bagi saya, NBA adalah "keberhasilan" kapitalisme. NBA bukan hanya berhasil menjual olahraga basket, tetapi juga membuat mutu basket di Amerika juga menjadi terdepan. Intinya, NBA bukan hanya menjual bungkus, citra, tetapi juga kualitas. 

Ada hal menarik dalam setiap pembukaan pertandingan NBA, yakni MC yang selalu meneriakkan, "Make some noise!" sebagai tanda bagi penonton untuk membuat keriuhan. MC tersebut juga akan memprovokasi penonton untuk meneriakkan "defense!" saat tim tuan rumah diserang, atau memprovokasi penonton untuk memberikan dukungan lebih gaduh jika dirasa tim tuan rumah sedang lesu atau justru tengah mengejar poin. Intinya, ada usaha membuat gaduh, membuat berisik keadaan. Supaya apa? Tentu saja supaya ramai, supaya kehadiran massa menjadi terasa. Namun hal ini bukan hanya terjadi pada NBA saja, melainkan pada hampir setiap kegiatan hiburan. MC manapun kerap meminta audiens untuk tepuk tangan dengan riuh. Lebih gaduh, lebih baik. 

Ada apa dengan kegaduhan? Mengapa orang senang dengan kegaduhan, terutama dalam konteks hiburan? Apakah dalam konteks hiburan, suasana gaduh menjadi dirindukan setelah sehari-harinya manusia berusaha mencari ketenangan? Karena mungkin, suasana gaduh yang tidak diharapkan, di sisi lain, adalah polusi, bahkan neraka. Orang stres dengan kegaduhan di jalanan dalam bentuk deru knalpot dan klakson mobil; orang stres dengan bunyi pembangunan gedung atau tetangga yang tertawa terbahak-bahak oleh topik yang tidak dipahami oleh orang yang merasa terganggu. Manusia senang dengan kegaduhan, selama berada dalam konteks yang sudah diantisipasi, selama ia sendiri yang menginginkannya. Yakni, hiburan itu. 

Namun jika hendak dicari-cari, mana yang lebih "kodrati" bagi manusia: kesunyian atau kegaduhan? Dalam kesunyian, seseorang bisa tetap merasa bising, setidaknya oleh pikirannya sendiri, oleh suara-suara yang muncul dari dalam diri. Dalam kesunyian, orang bisa mengingat apa saja, termasuk hal-hal yang menimbulkan kecemasan, seperti misalnya: kematian. Kematian adalah bayangan tentang kesunyian yang panjang. Hal yang jika direnung-renungkan, begitu menakutkan. Sementara dalam kegaduhan, orang menenggelamkan pikiran berlebihannya, ia disibukkan oleh perasaan terganggu, atau juga perasaan euforia. Dalam kegaduhan, orang-orang untuk sejenak mengabaikan hal-hal yang mencemaskan. Dalam kegaduhan: orang lupa akan mati. 

Dengan demikian, kegaduhan juga sekaligus representasi kehidupan, tentang hidup yang masih bersama-sama dengan yang lain. Karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam Bukan Pasar Malam, kita hidup beramai-ramai, tetapi mati sendiri-sendiri. Saat tahu bahwa dunia masih gaduh, kita tahu bahwa kita masih hidup. Kita, dalam arti tertentu juga, masih merayakan kehidupan.

Comments

Popular posts from this blog

Honest Review

Istilah " honest review " atau "ulasan jujur/ apa adanya" adalah demikian adanya: ulasan dari seseorang (hampir pasti netizen dalam konteks ini) tentang suatu produk entah itu kuliner, buku/ tulisan, film, dan lain-lain, yang disampaikan secara "jujur". Hal yang umumnya terjadi, "jujur" ini lebih condong pada "kalau jelek bilang jelek" atau semacam "kenyataan pahit". Sebagai contoh, jika saya menganggap sebuah rasa sebuah makanan di restoran A itu buruk, saya akan mengklaim diri saya telah melakukan " honest review " jika kemudian dalam membuat ulasan, benar-benar mengatakan bahwa makanan tersebut rasanya buruk. Mengatakan bahwa sebuah makanan itu enak dan memang benar-benar enak, memang juga semacam " honest review ", tapi biasanya bisa dicurigai sebagai bentuk dukungan, promosi, atau endorsement . Jadi, saat seorang pengulas berani mengatakan bahwa makanan ini "tidak enak", fenomena semacam itu ...

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dal...