Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Penghinaan



Maraknya isu tentang penghinaan dalam beberapa minggu terakhir, misalnya soal rendang babi yang dianggap penghinaan terhadap orang Minang serta kasus promosi Holywings yang dianggap penghinaan terhadap umat Muslim (karena menyebut nama "Muhammad" dalam materi promo) membuat saya, dipicu oleh tweet Banin Diar Sukmono, seorang kawan, terpaksa membuka-buka literatur tentang penghinaan: apa itu penghinaan? Bagaimana sesuatu dapat disebut penghinaan? 

Lewat penelusuran literatur, akhirnya saya menemukan buku yang ditulis oleh Thomas Conley yang berjudul Toward a Rhetoric of Insult (2010). Meski di dalamnya tesis-tesis Conley kurang lengkap bagi saya, tetapi setidaknya ada beberapa poin penting yang dapat dijadikan inspirasi. Pertama, apa yang disebut Conley sebagai "scenario", yang saya perluas menjadi pengondisian atau penyituasian. Penghinaan kecil kemungkinan terjadi dalam kondisi yang telah disepakati, misalnya: "penghinaan" antar teman atau "penghinaan" antar aktor atau aktris di atas panggung komedi. Memang bisa saja penonton merasa terhina oleh katakanlah, seorang komika, tapi itu artinya penonton tersebut tidak mengantisipasi, ia merasa tereksklusi dari pengondisian dengan misalnya merasa: "Wah, kok jadi begini ya, aku gak nyangka bakal begini." Dapat dikatakan pula, seseorang bisa merasa terhina karena suatu keadaan yang tidak ia sangka-sangka, "tidak janjian sebelumnya".

Perluasan tesis kedua adalah soal niat atau intensi. Penghinaan bisa jadi mengandaikan niat untuk menghina. Misalnya, di luar makna semantiknya, mengatakan "gendut lo" pada orang gendut bisa jatuh pada penghinaan karena diniatkan untuk menghina. Meski demikian, soal niat ini agak sukar untuk diverifikasi. Persoalan lebih rumitnya, jika dibandingkan dengan humor, dalam semesta si penghina, ia bisa jadi tidak benar-benar berniat menghina, tetapi membuat semacam humor. Penghinaan, pada mulanya, bisa merupakan humor yang kemudian "kurang berhasil" sehingga sasaran menjadi merasa terhina. Hal ini yang terjadi dalam misalnya kasus Holywings, yang tadinya mungkin semacam "lucu-lucuan" atau kartun Charlie Hebdo yang dibuat dengan gaya karikatural tapi berujung penghinaan serius bagi sebagian umat Muslim.

Perluasan tesis ketiga, yang mungkin paling dianggap "universal" adalah apa yang disebut Conley sebagai "vehicle" yang dapat dilihat sebagai makna semantik. Adakah kata atau pernyataan tertentu yang dianggap "universal" sebagai penghinaan? Kita ambil contoh kata-kata yang menunjuk hewan tertentu seperti "anjing", "babi", "monyet", "ayam" yang bisa juga diasosiasikan pada sifat-sifat spesifik yang berkaitan dengan hewan yang dimaksud (misalnya, babi artinya rakus, ayam artinya penakut dan sebagainya). Selain itu, adakah makna semantik yang pasti menghina pada kata-kata yang mendegradasi intelektualitas seperti "goblok", "tolol" atau "idiot"? Kita bisa kembalikan "universalitas" ini pada pertama, pengondisian (jika disampaikan antar sahabat mungkin tidak masalah) dan kedua, intensi itu tadi. Bahkan ada variabel yang lebih rumit yaitu aspek non verbal, tentang bagaimana kata-kata tersebut diberi "penekanan" misalnya kata "anjing" bisa sangat bersahabat bisa juga menunjukkan sikap permusuhan tergantung dari cara disampaikannya. 

Dapat dilihat bahwa penghinaan lebih dapat dijelaskan secara kontekstual, itu sebabnya kasus-kasus yang berkaitan dengannya, dalam beberapa hal, sangat bisa diperdebatkan. Namun jika berusaha mencari pijakan yang "universal" berkenaan dengan penghinaan, maka uraiannya kira-kira seperti ini: 

  1. Penghinaan mengandaikan adanya semacam hal-hal yang dianggap berharga oleh seseorang atau suatu kelompok seperti misalnya keluarga, budaya, agama, profesi atau apapun itu, untuk kemudian "diinvalidasi" oleh si penghina. Misalnya, jika seseorang sangat menganggap agama yang dia anut adalah berharga, maka sikap menginvalidasi terhadap agama yang ia anut tersebut bisa jatuh pada penghinaan. Artinya, tidak akan merasa terhina orang yang menganggap dirinya "tidak punya apa-apa yang berharga" (meski ini kondisi yang agak terlalu ideal). 
  2. Penghinaan mengandaikan standar sosial tertentu yang dianut oleh masyarakat. Misalnya, jika mengatakan seseorang "tukang baso" pada kelompok yang memang profesi dominannya adalah "tukang baso" tidak akan dianggap suatu penghinaan. Sebaliknya, jika suatu masyarakat menganut suatu norma bahwa "mencari rejeki harus halal", maka sebutan seperti "maling", "koruptor" atau "penjudi" mungkin akan menjadi penghinaan. 

Untuk lebih merumitkannya lagi, terdapat konsep satir yang kurang lebih meleburkan gagasan tentang humor dan penghinaan. Dalam satir-satir seperti Animal Farm-nya George Orwell, serial The Simpsons atau The Great Dictator-nya Charlie Chaplin, di sana terdapat kritik serius terhadap masyarakat dan otoritas dengan cara-cara yang "jenaka". Penghinaan memang bisa diredam jika kita bisa membungkusnya dengan satir yang ciamik sehingga jika ada yang terhina dengan satir, hanya ada dua kemungkinan: apakah satirnya kurang halus atau orang yang merasa-nya, terlalu over-sensitif. Dalam titik itu mungkin berlaku semacam "hukum": apakah humor yang jatuh pada penghinaan itu karena "kurang satir"? Sementara di sisi lain, apakah penghinaan yang jatuh pada humor itu karena "terlalu satir"?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...