Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Diharamkannya Ilmu Filsafat dan Hal-Hal yang Mesti Diingat

 

Hampir sebulan yang lalu, seorang kawan tiba-tiba nyolek saya di Instagram, dan menunjukkan konten di atas. Saya tertawa geli saja, karena pemikiran semacam ini tentu saja sudah lumrah. Namun lama kelamaan, tergelitik juga, dan merasa penting untuk menuliskan tentang bagaimana posisi filsafat di abad pertengahan untuk sekadar mengimbangi pendapat tersebut. 

Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, bukanlah di Eropa (karena di Eropa masa itu, beberapa aliran filsafat juga "diharamkan", atau lebih halusnya diistilahkan dengan "philosophia ancilla theologiae" atau "filsafat adalah hamba bagi teologi"). Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, adalah filsafat di abad pertengahan dalam konteksnya dengan dunia Islam, yang terbentang dari sekitar abad ke-8 hingga abad ke-14 masehi. 

Imam Al-Ghazali pernah menulis buku berjudul Tahafut al-Falasifah atau diartikan sebagai Kerancuan Para Filosof, yang ia tujukan bagi para filsuf sebelumnya seperti Ibn Sina dan Al-Farabi. Sekilas, memang tampak Al-Ghazali sedang berusaha "mengharamkan" filsafat lewat bukunya tersebut, sehingga ini kerap dijadikan justifikasi posisi filsafat yang terpinggirkan dalam dunia Islam. Sebelum mengamini pendapat tersebut, mari mengingat hal-hal berikut ini:

1. Imam Al-Ghazali menunjuk "para filosof" dan bukan "ilmu filsafat" sebagai sasaran kritik, yang bisa diartikan bahwa yang bermasalah bisa jadi adalah pandangan orang per orang dan bukan konsep filsafat itu sendiri. Bedakan dengan konten di atas yang langsung mengharamkan ilmu filsafat. 

2. Sebelum menuliskan Tahafut Al-Falasifah, Al-Ghazali menulis karya lainnya yang berjudul Maqasid Al-Falasifah atau diartikan sebagai Maksud Para Filosof. Pada Maqasid, Al-Ghazali mengelompokkan fisika, logika, matematika, dan astronomi, juga sebagai bagian dari ilmu filsafat, dan tidak menemukan masalah sama sekali di dalamnya. Hal yang menurutnya bermasalah hanya bagian metafisika-nya saja, dan itu yang kemudian menjadi sasaran kritiknya di Tahafut. Namun intinya, di Maqasid, Al-Ghazali hendak menunjukkan bahwa sebelum memberikan kritik, seyogianya kita memahami dulu dengan sungguh-sungguh tentang maksud para filosof. 

3. Pada Tahafut, Al-Ghazali mengritik para filosof dalam beberapa poin. Namun ada tiga poin yang dititikberatkan karena menurut Al-Ghazali, poin-poin tersebut dapat membawa para filosof pada kekufuran. Poin yang dimaksud adalah terkait hal-hal berikut:

a. Tentang hubungan Tuhan dan alam semesta. Para filosof (yang dimaksud Al-Ghazali) memandang bahwa alam semesta ini qadim (tidak diciptakan) dan keberadaannya ada bersama Tuhan. Alasannya, jika Tuhan ada duluan lalu menciptakan alam semesta, berarti ada jarak antara pra-penciptaan dan penciptaan (vacuum), yang menurut para filosof, tidak mungkin. Karena kemudian kemungkinannya menjadi dua: Tuhan menciptakan alam semesta dengan suatu maksud (ini bermasalah, karena artinya Tuhan tunduk pada suatu kehendak) atau Tuhan menciptakan alam semesta tanpa maksud (ini juga bermasalah, karena artinya Tuhan menciptakan sesuatu atas dasar "keisengan"). Al-Ghazali menganggap argumentasi tersebut dapat membawa filosof pada kekufuran. Dalam pandangan Al-Ghazali, hanya Tuhan lah yang bersifat qadim dan Ia menciptakan alam semesta dan sekaligus mengakhirinya. Sementara Tuhan sendiri selalu abadi.

b. Tentang Tuhan yang hanya mengurusi hal-hal yang universal saja. Para filosof menganggap bahwa Tuhan hanya mengurusi hal-hal yang universal saja dan tidak sampai pada hal-hal yang partikular. Argumennya, jika Tuhan mengurusi hal-hal partikular, maka Tuhan tunduk pada ruang dan waktu yang diciptakan-Nya sendiri. Tuhan menciptakan dunia dengan hukum-hukumnya, lalu Ia tidak lagi terlibat di dalamnya, begitu menurut para filosof. Al-Ghazali tidak sepakat, dan menganggap bahwa Tuhan mengetahui dan terlibat dalam segala sesuatu, sampai hal terkecil sekalipun.  

c. Tentang jasad dan ruh yang dibangkitkan di hari kiamat. Menurut para filosof, yang dibangkitkan di hari kiamat hanya ruh saja karena jasad sudah rusak. Al-Ghazali tidak setuju dan berpendapat bahwa yang dibangkitkan adalah keseluruhan wujud kita sekarang, termasuk jasad dan ruhnya. 

Kritik Al-Ghazali tersebut ternyata cukup fatal dan mempengaruhi pandangan dunia Islam terhadap filsafat. Meski dikritik balik oleh Ibn Rusyd sesudahnya, namun karya Al-Ghazali lebih dikenal secara luas ketimbang sanggahan Ibn Rusyd. Sering disinggung, bahwa Al-Ghazali dianggap "bertanggungjawab" terhadap kemandegan ilmu filsafat di dunia Islam, yang sangat mungkin menjadi landasan bagi konten di atas (meski tidak menyebut Al-Ghazali). Namun kembali pada poin-poin di atas, penting untuk mengingat hal-hal berikut: Pertama, Al-Ghazali mengritik filosof dan bukan ilmu filsafat. Kedua, Al-Ghazali menunjuk sisi baik filsafat dan mencoba menelusuri maksudnya, sebelum mencari celah yang dianggap bermasalah. Ketiga, dalam Tahafut, Al-Ghazali terlihat mengritik filsafat dengan filsafat. Keempat, meski ini berbau ad hominem, tapi bisa juga dijadikan acuan: Al-Ghazali menuliskan Tahafut pada usia yang relatif muda, dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengritik. Pada perkembangannya, Al-Ghazali tidak lagi terlalu "keras" terhadap filsafat dan malah menjadikannya penting sebagai jalan untuk mencapai makrifat. 

Sebelum mengharamkan filsafat dan menyetujui bahwa filsafat itu haram, ada baiknya mengingat bahwa dunia Islam pernah begitu dekat dengan filsafat dan para filosof itu berdialektika dengan indah.        

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...