Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kontemplasi Warung Bubur bersama Ismet Ruchimat


Sudah lama tidak menulis untuk blog pribadi. Dalam nyaris setahun belakangan ini, saya sedang aktif dan terlibat dengan proyek Pemerintah Kota Bandung yang bernama SeniBandung #1. Acara yang melibatkan ribuan seniman dan berlangsung selama satu bulan di berbagai titik tersebut, membuat saya menjadi kenal lebih banyak orang. Salah satunya adalah rekan di tim kurator musik, Kang Ismet Ruchimat, seorang komposer dan multi-instrumentalis bagi kelompok yang sudah sangat dikenal baik secara nasional maupun internasional, Sambasunda. Kami sering bercakap-cakap tentang banyak hal, namun seringnya via Whatsapp - begitupun ketika merumuskan sejumlah hasil kurasi dan program bagi SeniBandung, umumnya juga, lewat Whatsapp -. 

Barulah kemarin saya mendapat kesempatan untuk ngobrol panjang lebar dengan Kang Ismet, di suatu malam pasca menyaksikan resital karawitan sebagai tugas akhir dari para mahasiswa di ISBI Bandung. Kang Ismet, yang merupakan penguji bagi resital tersebut, tidak langsung pulang setelah kegiatan. Kami nongkrong dulu di warung bubur di pinggir jalan, tepatnya di trotoar depan kampus ISBI. Ngobrol selama kurang lebih satu jam tersebut menghasilkan sejumlah pencerahan penting bagi saya. Kang Ismet, komposer yang sudah mendunia, yang secara reguler memberi kuliah di Amerika Serikat, memberi sejumlah asupan, yang jika disarikan barangkali hematnya adalah sebagai berikut:

1. Industri dan segala upayanya dalam mencari keuntungan (baca: kapitalisme) sering dituduh sebagai biang kerok dalam perkembangan musik - terutama karena kapitalisme ini nampak seperti mengangkat serta menguntungkan musik-musik tertentu saja -. Kang Ismet melihatnya bahwa itu hanya salah satu pikiran saja. Ada pikiran lain yang lebih berimbang: Kapitalisme adalah bagian dari medan sosial yang justru bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi musik tertentu, terutama yang dianggap marjinal. Bagaimana caranya? Tentu saja, kemasan musik itu sendiri, harus sedikit berdamai dengan kecenderungan pasar - tanpa juga harus menghilangkan identitas yang hendak ditonjolkan -. Contohnya musik Sambasunda, pendengar yang paham musik tradisi akan bisa menyerap musiknya, pun bagi mereka yang selama ini cenderung mendengarkan musik-musik populer. Artinya, kapitalisme, kata Kang Ismet, tidak perlu serta merta dimusuhi. Kenyataannya, jika berhasil dirangkul, maka kapitalisme akan menjadi elemen penting bagi kemunculan musik-musik tertentu. Misalnya, harus diakui, musik-musik seperti jazz, country, hingga metal, mungkin kita sekarang mengenalnya, suka tidak suka, adalah pengaruh dari beberapa kelompok yang sukses menembus industri. Dimulai dari mendengarkannya dalam konteks populer itulah, kemudian berikutnya kita jadi tertarik untuk mendalaminya. 

2. Dalam musik ataupun seni pada umumnya, sikap kebaruan merupakan hal yang penting. Istilah-istilah seperti kontemporer (membaca kekinian) atau avant garde digadang-gadang sebagai bentuk acuan dalam berkarya. Intinya, berkarya itu, harus mengacu pada pembacaan yang sekarang, atau bergerak ke depan - yang dalam arti kata lain, berupaya meninggalkan apapun yang dianggap lampau -. Kang Ismet punya pemikiran lain. Bahwa istilah waktu tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan, harus disikapi dalam kacamata yang holistik. Menggali "masa lalu" (baca: tradisi), pada kacamata tertentu, bisa dipandang sebagai sikap yang justru paling avant garde. Misalnya, contoh sederhana: konsep mikrotonal (interval yang lebih kecil dari semitone), yang digadang-gadang sebagai salah satu ciri penting dalam sikap kontemporer atau avant-garde, sebenarnya sudah begitu purba dalam khazanah musik tradisi, contohnya, musik gamelan. Penalaan yang "tidak persis sama" satu sama lain merupakan ciri yang sudah lama dipertahankan pada musik-musik tradisi, demi menghasilkan suatu luaran bunyi yang khas. 

Begitulah, sekilas. Bubur ayam ini sangat enak. Ditambah juga, si penjual, menyediakan bala-bala dan juga susu jahe. Tidakkah warung tersebut, begitu avant garde?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...