Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

1Q84 Jilid Satu: Akrobat Murakami di Dunia Paralel



Setelah Norwegian Wood, saya langsung ketagihan membaca karya Haruki Murakami yang lain. 1Q84 pun menjadi destinasi saya berikutnya. Novel ini diselesaikan dengan susah payah dalam kurun waktu nyaris tiga bulan. Bukan karena Murakami bercerita dengan gaya yang lambat dan membosankan -sebaliknya, ia menulis dengan lincah dan atraktif seperti biasanya-, melainkan disebabkan oleh kesibukan saya yang sedang padat-padatnya -ah, soal kesibukan harusnya tak perlu diceritakan-. 

1Q84 sedikit lebih tebal dari Norwegian Wood. Dirilis pada tahun 2009 dan 2010, 1Q84 yang mempunyai tebal 500-an halaman ini dibagi ke dalam tiga edisi. Kebetulan yang saya baca barulah edisi pertamanya. Ceritanya, seperti biasa seorang Murakami mengambil sebuah tema, adalah soal absurditas, nihilisme, dan eksistensialisme. Tidak ada suatu kejelasan arah, pun tidak ada suatu makna yang dapat dikatakan mencerahkan. Ini adalah kisah yang berpusat pada dua orang yakni Aomame dan Tengo. Keduanya menjalani kehidupan masing-masing yang boleh dikatakan cukup kompleks -atau itu disebabkan oleh kemampuan Murakami dalam menjelaskan setiap detail sehingga kehidupan siapapun menjadi tampak kompleks-. 

Saya mencoba berhati-hati agar tulisan ini tidak menjadi spoiler karena memang novel ini meskipun lincah dan atraktif, namun agak sulit untuk akhirnya bisa mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Murakami tampak keasyikan untuk melakukan akrobat metafor dan pengetahuan umum sehingga lupa untuk mengembalikan cerita pada jalur yang lebih dimengerti oleh pembaca. Sekilas memang cara bercerita 1Q84 sedikit lebih ringan daripada Norwegian Wood yang relatif lebih berat dan lebih dalam. 1Q84 secara permukaan tampak seperti novel pop yang rasa-rasanya akan mudah dimengerti siapa saja. Tapi ketika halaman sudah memasuki nomor 400-an, baru saya merasakan sesuatu: Tidak mungkin seorang Murakami membuat segalanya menjadi mudah untuk dipahami; tidak mungkin seorang Murakami menulis novel yang lebih dangkal daripada Norwegian Wood yang terbentang nyaris dua puluh tahun sebelumnya. 

1Q84 adalah tentang eksistensi manusia yang paradoks: ia ada sekaligus tiada, ia berada di sini sekaligus di sana. Boleh dikata ia adalah tentang dunia paralel yang aneh baik bagi Aomame maupun Tengo. Mereka berdua mengalami keanehan-keanehan paralel lewat berbagai saluran cerdas khas Murakami seperti musik Sinfonietta karya Leoš Janáček, novel Kepompong Udara yang ditulis oleh seorang anak bernama Fuka-Eri, sekte keagamaan Sakigake, serta -seperti biasa- petualangan seksual yang bisa dikata ganjil. 1Q84 bisa dikata sebagai novel filosofis, tentu saja, tapi jangan khawatir bagi mereka yang tidak menemukan makna-makna semacam itu. 1Q84 tetap sebuah karya sastra tinggi yang memuat teknik bercerita Murakami yang mahacanggih. Kita tetap akan terhibur oleh bagaimana ia mendeskripsikan sesuatu, memilih kata yang tepat untuk mewakili fenomena yang aneh sekalipun, hingga menciptakan suatu perasaan yang asing antara surealitas dan realitas. Meski saya secara pribadi tetap lebih menyukai Norwegian Wood, namun 1Q84 ini tentu saja tetap merupakan karya Murakami yang wajib dibaca.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...