Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Kemarin saya menyaksikan pertandingan tenis antara Novak Djokovic melawan Milos Raonic lewat streaming di internet. Djokovic adalah petenis yang dalam beberapa tahun belakangan ini tidak pernah lepas dari peringkat tiga besar sedangkan Raonic dikenal sebagai salah satu pemilik servis tercepat di dunia -Ia sanggup melesatkan servis dengan kecepatan 222 km/ jam!-. Meski harus melalui tiga set, Djokovic sanggup mengalahkan Raonic dan mematahkan servisnya sebanyak tiga kali.
Miyamoto Musashi, seorang samurai legendaris, pernah berkata bahwa jika seseorang sudah betul-betul menjadi ahli pedang, maka ia mampu melihat gerakan lawannya dengan lambat. Dalam arti kata lain, ia bisa melihat lawannya seolah-olah dalam sebuah slow motion. Jika memang demikian, tentu saja tidak sulit baginya untuk menaklukkan siapapun. Hal yang sama mungkin terasa juga bagi Djokovic yang telah menjadi ahli tenis: Servis Raonic yang punya kecepatan 222 km/ jam menjadi tampak lambat.
Agaknya apa yang dikatakan oleh Musashi tersebut berlaku bagi hal-hal lain secara umum. Bagi seorang Jascha Heifetz, not rapat dan keriting dalam Zigeunerweisen-nya Pablo de Sarasate akan terasa seperti not bernilai setengah atau bahkan satu ketuk. Bagi seorang Haruki Murakami, fenomena keseharian ia lihat sebagai sesuatu yang lambat. Cukup lambat sehingga ia bisa menuangkan fenomena tersebut ke dalam tulisan dalam detail yang mengagumkan. Bagi seorang akademisi tulen, kejadian demi kejadian pun ia rasakan sebagai sesuatu yang lambat. Cukup lambat sehingga ia mampu untuk meneliti dan memilahnya ke dalam suatu bagian demi bagian fenomena yang lebih kecil.
Sebaliknya, bagi mereka yang kurang ahli, segala sesuatu tampak selalu lebih cepat dan memusingkan. Terlalu cepat untuk dijabarkan, terlalu cepat untuk dipahami. Tidak ada sedikitpun hal yang masuk akal tentang bagaimana cara mematahkan servis Raonic yang kecepatannya mendekati kereta shinkansen. Tidak ada sedikitpun hal yang masuk akal tentang bagaimana cara memandang fenomena dalam gerak lambat sehingga mudah untuk dituliskan dan diteliti.
Bagi mereka yang sudah melihat kehidupan secara paripurna seperti orang tua-orang tua yang bijak, kehidupan selalu terlihat sebagai suatu raksasa yang bergerak lambat. Sebagaimanapun kehidupan itu sendiri berbahaya, mereka yang bijaksana selalu punya waktu untuk melihat secara cermat dimana titik lemah si raksasa. Atau boleh juga, mereka yang bijak selalu mampu untuk melihat gerak lamban si raksasa sambil minum teh dari kejauhan.
.png)
Comments
Post a Comment