Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Burnt by The Sun (1994): Intrik Politik di Tengah Kehangatan Keluarga


Jumat minggu lalu saya menonton film yang cukup berkesan di sebuah forum di Garasi10. Film tersebut berasal dari Rusia. Judulnya Burnt by The Sun atau dalam bahasa aslinya:  Utomlyonnye Solntsem. Film yang disutradarai oleh Nikita Mikhalkov tersebut meraih Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik tahun 1994. 

Film ini awalnya sulit untuk diketahui arahnya kemana. Tidak terlihat semacam tokoh protagonis dan antagonis seperti umumnya film (yang langsung mengajak penonton untuk bersimpati ke tokoh tertentu). Nyaris sembilan puluh menit pertama dari total film dua jam setengah ini dihabiskan untuk menampilkan suasana keluarga besar yang penuh kehangatan dalam suasana liburan. Banyak pertanyaan dari saya tentang dimana letak konfliknya. Yang ada hanya bentuk kasih sayang sederhana antara Sergei Petrovich Kotov, Maroussia (istrinya), Nadia (anaknya), dan sejumlah saudara-saudaranya seperti Philippe, Vsevolod, Mokhova dan Kirik. 

Kotov (diperankan oleh sang sutradara, Mikhalkov) adalah eks pahlawan perang di era Stalin. Di bagian mula-mula film, ada bagian menarik ketika Kotov diminta penduduk setempat untuk mengusir tentara merah yang hendak membabat ladang gandum milik warga. Kotov kemudian mengandalkan statusnya di masa lalu untuk meyakinkan para tentara tersebut bahwa ia lebih berkuasa. Para tentara paham, ketakutan, dan akhirnya mundur. Mereka kenal betul siapa Kotov, yang notabene pernah dekat dengan sang pemimpin negeri, Yang Mulia Stalin.

Kejanggalan terjadi ketika di tengah-tengah kehangatan keluarga tersebut mendadak bergabung seseorang bernama Mitya (Oleg Menshikov). Mitya punya pembawaan ceria, hangat, dan komikal -Ia juga pandai bermain musik dan mendongeng. Mitya sama sekali tidak sulit untuk merebut hati seisi keluarga Kotov. Terlebih lagi, ia memang pernah ke rumah tersebut. Selidik punya selidik, masa lalu Mitya pernah diwarnai hubungan dengan Maroussia, yang sekarang menjadi istri Kotov. 

Namun justru kehangatan itulah yang menimbulkan kegetiran -ketika mengetahui bahwa Mitya sebetulnya adalah seorang agen polisi rahasia-. Ia mencari Kotov dan hendak mengeksekusinya. Film ini menjadi menarik sekaligus menegangkan karena ditunjukkan dengan cerdas oleh Mikhalkov, bagaimana antara Kotov dan Mitya terjadi perang dingin diantara suasana keluarga yang hangat. Meski keduanya punya latar belakang kekerasan militer yang kental, namun mereka tetap enggan merusak liburan keluarga. 

Film ini, meski awalnya agak membosankan, terutama disebabkan oleh karakteristik sinema Rusia yang kata Pak Awal Uzhara, "Menitikberatkan pada dialog," namun lama-kelamaan saya pribadi tersedot juga ke tempat duduk. Hal ini mulai terjadi ketika pelan-pelan terbuka kedok Mitya, dan atas motif apa ia pura-pura masuk ke keluarga untuk bertindak ceria. Cara pembawaan yang berlama-lama di awal ini justru menjadi berhasil karena pada akhirnya saya membayangkan betul bagaimana rasanya ada intrik tingkat militer di tengah suasana liburan. Mikhalkov sukses membangun suspens bukan lewat ketegangan yang banyak, melainkan justru kegembiraan yang berlimpah. Film ini juga menjadi sangat simbolik ketika beberapa kali ditampilkan foto kebesaran Stalin yang secara kontradiktif disandingkan dengan adegan kekejaman Mitya. Satu lagi, film ini semakin menarik karena alur waktu yang diceritakan hanya terjadi dalam sehari penuh saja. 

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Waalaikumsalam mohd. sazni,
    salam sejahtera.

    Selamat membaca, terima kasih apresiasinya, dan tetap tegur sapa selalu. akan saya kirimkan via email setiap ada tulisan baru. :)

    Wassalam.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...