Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Kritik terhadap Etika Teleologis


"Gue sih apa-apa bebas aja, yang penting idup gue gak ngerugiin orang lain."

Kita sering mendengarkan prinsip semacam ini dari teman-teman kita, atau bahkan etika ini jadi pedoman kita sendiri. Etika teleologis adalah etika bertujuan. Sering disebut juga sebagai etika konsekuensilisme. Bunyi kredonya kira-kira: "Segala sesuatu adalah baik selama berakibat baik." Lawan dari etika konsekuensilisme adalah etika deontologis, yang berbunyi: "Segala sesuatu baik karena dirinya sendiri baik, terlepas dari apapun konsekuensinya." Dalam etika teleologis, hal-hal seperti berbohong, membunuh, mencuri, adalah baik selama ditujukan untuk konsekuensi yang baik. Agama cenderung deontologis karena keputusan untuk dilarang berbohong, membunuh, ataupun mencuri adalah seolah final apapun alasan melakukannya. 

Namun etika teleologis yang seolah menandakan prinsip dari manusia rasional, saya sadari punya kelemahan ketika hari Rabu lalu mendapati jalanan macet. Oleh sebab apa? Ada kampus bernama Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sedang melantik para praja (semacam calon mahasiswa). Kemacetan tersebut berlangsung luar biasa dan membuat perjalanan pulang yang normalnya satu jam menjadi empat jam. Rata-rata orang yang menggunakan kendaraan memaki kegiatan tersebut. Bahkan di salah satu radio muncul juga cacian, "Belum juga jadi pejabat, sudah merugikan rakyat."

Bagaimana hal semacam itu dapat menjadi kritik terhadap etika teleologis? Pertama, kita bisa asumsikan bahwa kegiatan pelantikan itu tentu saja merupakan suatu bentuk aktivitas yang didasari oleh prinsip konsekuensi. Maksudnya, kegiatan itu sendiri punya dasar deontologi (baik pada dirinya sendiri), tapi juga punya nilai konsekuensi yang baik, misalnya: Membuat para praja merasa bangga dan kemudian bisa lebih bertanggungjawab dalam meniti karir menjadi abdi negara. Namun disinilah letak kritiknya: Konsekuensi tidak bisa dikendalikan. Apa yang kita bayangkan perbuatan A menghasilkan konsekuensi B, kita tidak memperhitungkan bahwa secara domino akan ada konsekuensi C, D, E dan seterusnya.

Pemain sepakbola berupaya bermain sebaik-baiknya. Ia sudah memperhitungkan konsekuensi bahwa permainan yang baik akan mendatangkan misalnya: reputasi pribadi yang baik, reputasi klub yang baik, kemenangan tim, gaji pribadi naik, peningkatan hak siar televisi, hingga mungkin yang sekecil-kecilnya seperti keluarga yang bangga akan prestasinya. Namun ada konsekuensi yang barangkali tidak terjangkau oleh si pemain, seperti: Berapa banyak orang yang sengsara karena nasibnya dipertaruhkan oleh perjudian di pertandingan yang melibatkan si pemain? Berapa orang yang kehilangan harapan hidup karena timnya kalah oleh sebab gawangnya dijebol oleh si pemain?

Hal-hal seperti ini sudah diistilahkan dengan The Butterfly Effect, "kepak sayap kupu-kupu di suatu tempat, bisa menyebabkan kejadian di tempat lainnya." Adapun Jean-Paul Sartre pernah bersabda, "Apa yang kamu putuskan akan menjadi keputusan yang berpengaruh bagi seluruh umat manusia." Artinya, prinsip seperti, "Terserah gue, yang penting gak ngerugiin orang lain," sebenarnya merupakan pernyataan yang prematur karena konsekuensi rugi-tidak rugi sesungguhnya sangat luas dan di luar kendali kita. Suka tidak suka, saya merasa bahwa Islam punya penawarnya. Katanya, "Dalam perbuatan apapun, yang penting adalah niatnya."

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...