Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Pernah ada suatu keinginan, agar kegiatan yang saya lakukan punya efek baik bagi sebanyak mungkin orang. Makin banyak yang hadir dan mengapresiasi, artinya makin berhasil cita-cita. Namun pemikiran yang demikian semakin luntur perlahan oleh sebab beberapa hal yang sebetulnya sepele. Misalnya di TVOne kemarin -diskusi Jakarta Lawyers Club-, saya melihat kelompok FPI begitu dominan, banyak, dan berkeyakinan tinggi. Bahkan secara kuantitas saya yakin mereka lebih banyak lagi di luar sana. Secara utilitarian, tentu saja ini menunjukkan Habib Rizieq lebih sukses daripada saya.
Saya, apa yang saya lakukan? Mengurus komunitas musik klasik namanya KlabKlassik, aktif juga di Klab Filsafat Tobucil dan sekarang tengah getol mengelola garasi rumah sendiri untuk dipakai kegiatan seni, budaya, dan filsafat, namanya Garasi10. Giat, bolehlah, tapi jika dibanding FPI misalnya, secara kuantitas saya harus gigit jari. Setiap menyelenggarakan satu kegiatan, paling banyak lima belas orang yang hadir. Kalau misalnya tengah mengurusi konser, biasanya yang datang bisa sampai seratus hingga dua ratus. Tapi masih tetap yang semacam ini tidak punya nilai ketimbang orasi partai politik sekalipun.
Nietzsche datang suatu hari menghibur saya. Bahwa yang dinamakan kawanan, massa, atau manusia yang bergerombol dalam jumlah banyak, selalu mesti diwaspadai. Mereka, dalam pandangan sang filsuf, adalah kumpulan makhluk tidak berpikir, atau bisa dikatakan kehilangan daya kritisnya. Memang iya, meleburkan diri dalam kerumunan selalu menimbulkan rasa nyaman tapi juga kemandegan pikiran. Hal tersebut yang membuat kekhawatiran berkurang: Jika saya berkonsentrasi mendatangkan sebanyak mungkin orang ke kegiatan saya, maka otomatis saya tengah menciptakan kerumunan! Justru ketika kerumunan itu terbentuk, tujuan-tujuan kegiatan yang saya lakukan menjadi kontradiktif.
Saya juga semakin sadar, bahwa dunia di luar sana tidak pernah betul-betul beres. Selalu rumit, kompleks, dan khaos. Selalu menyediakan problem baru setiap satu masalah dicarikan solusinya. Maka itu kegiatan yang saya tekuni, meski cuma dihadiri sedikit orang, menjadi punya arti. Arti setidak-tidaknya sebagai tempat berteduh. Adalah utopia belaka jika ruang berkumpul yang kecil dijadikan tempat berteduh bagi terlalu banyak orang. Lebih baik sedikit tapi selalu menghadirkan kesejukan. Daripada basah kuyup, menjadi asing di luar sana.
Kadar keberhasilan sendiri bagi saya lambat laun berubah orientasi. Dulu kuantitas, sekarang kualitas. Tidak ada yang lebih bahagia daripada mengetahui seorang kawan yang tadinya lambat bicara, sekarang menjadi lantang untuk berekspresi. Tidak ada yang lebih bahagia daripada mengetahui rekan diskusi yang tadinya membenci dunia, sekarang menjadi sadar bahwa tidak semua sisi dunia adalah busuk adanya.
Alangkah indahnya apa yang kemudian saya renungkan: Lebih baik lima orang yang hadir dengan pikiran yang mandiri, otentik, dan percaya diri, daripada seribu orang dalam kerumunan yang bahkan tidak tahu bagaimana menggunakan akal pikirannya.
.png)
Comments
Post a Comment