Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pak Sukanda


Waktu SMA dulu, kami punya guru pelajaran PPKn namanya Pak Sukanda. Di kelas, ia mengajar dengan metode yang bagi kami saat itu terbilang tidak lazim. Ia mendominasi jam pelajarannya dengan bercerita dan bercerita. Seringkali apa yang diceritakan tidak ada relevansinya sama sekali dengan bab yang ada di buku. Saya tidak banyak ingat apa yang Pak Sukanda pernah bicarakan kala itu, pasti disebabkan oleh tingkat pemahaman yang belum sampai. Namun ada satu hal yang tidak pernah saya lupakan hingga hari ini, yaitu kebiasaan beliau memberikan nilai ulangan bagus secara mudah!

Mudah disini bukan karena soal-soalnya yang mudah. Tapi karena ada satu persyaratan ganjil yang terlampau mudah untuk dilaksanakan: Barangsiapa yang bisa menuliskan nama dirinya di kolom nama, ia langsung mendapat nilai tujuh puluh. Apa yang bisa keliru dengan itu? Semua murid pastilah bisa menulis nama diri, bahkan dalam keadaan sakit panas sekalipun. Kemudahan semacam itu tentu saja membuat reaksi terhadap Pak Sukanda menjadi beragam, ada yang senang, ada yang juga jadi menggampangkan. Katanya, asal tulis nama, maka mengerjakan asal-asalan pun tidak apa-apa.

Belakangan saya mencoba mengingat-ingat alasan mengapa Pak Sukanda mau bermurah hati seperti itu. Yang saya ingat cuma kata identitas, identitas. Semacam betapa pentingnya kenal identitas diri, ingat nama sendiri. Sedemikian penting sehingga identitas itu menjadi lebih dari separuh nilai ulangan. Seakan lebih esensial dari soal-soalnya. Saya bergidik ketika samar-samar mulai paham: Masa SMA itu adalah sekitar sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, sekarang ini apakah saya masih yakin dengan identitas diri?

Identitas diri adalah ilusi, ia rasa-rasanya berasal dari lingkungan dan kekuasaan. Nama adalah pemberian, memang kita bisa memilihnya di waktu dewasa, tapi pertanyaan berikutnya, tidakkah nama itu menjadi absah ketika mendapat pengakuan? Mendapat panggilan dari yang lain? Pun status sosial, jabatan, gelar, KTP, SIM, dan lain-lain itu bukanlah pilihan-pilihan sadar kita. Identitas diri tersebut diberikan lingkungan bagi kita, membentuk ilusi besar yang kita rasakan sebagai "diri kita yang sejati dan utuh". 

Menurut Rocky Gerung, ia pesimis bahwa ada yang dinamakan identitas diri. "Identitas diri yang final," katanya, "Hanya ada pada orang mati." Dengan demikian selama manusia hidup, ia terus menerus mengalami perubahan identitas. Bahkan dalam diri kita pun sadar betul bahwa apa yang dinamakan "diri" kita hari ini begitu berbeda dengan hari-hari belakangan. Lama kelamaan bahkan kita bisa membelah identitas diri kita tergantung untuk keperluan apa.

Pada titik inilah sungguh saya memahami Pak Sukanda dengan haru. Rupanya dari segala identitas yang berubah-ubah dan tidak stabil itu, ada satu yang paling keras dan fundamental, yaitu nama. Nama merupakan pembeda pertama, seperti kata Saussure. Nama Syarif menjadikan saya adalah bukan Budi, Anto, dan Arief. Nama Syarif Maulana menjadikan saya adalah bukan Syarif Hidayatullah ataupun Elsa Syarif. Ketika diri menyadari mula-mula bahwa nama membedakan saya dengan yang lain, maka itu adalah titik berangkat menuju identitas-identitas yang lain. Bukankah dalam gelar, SIM, KTP, dsb juga terkandung nama? Dan tujuannya pun sama, agar berbeda satu sama lain. Karena dalam keberbadaan terkandung juga data-data yang berbeda.

Meskipun ilusif, tapi perlu diakui bahwa identifikasi diri adalah berangkat dari kenyataan bahwa kita unik dan berbeda dari yang lain. Keberbedaan itu baru niscaya ketika kita mengetahui nama-nama. Dengan tahu nama, kita jadi tahu apa-apa saja yang melekat pada nama tersebut. Ini sudah diingatkan, dari jauh hari, oleh Pak Sukanda. Beliau seolah mau mengatakan: Sebingung apapun kalian, anak-anakku, pada identitas diri, segera ingatlah nama, dari sana kamu akan mendapati siapa kamu.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...