Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Nyanyian Cinta di Pagi Hari

Oh, judul yang norak. Tapi saya tak bisa menemukan yang lebih baik.



Hari Jumat adalah hari yang menyenangkan selain hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Karena salah satunya, hari itu adalah hari yang mana saya pilih untuk libur. Tak ada kegiatan terikat, kecuali tampil reguler di malam harinya. Maka itu saya sengaja bermalas-malasan di pagi harinya. Lama di tempat tidur, atau berjalan keliling kamar. Sekedar berpikir, mencari inspirasi, atau membuat pegal kaki. Sampai tiba-tiba, saya dikagetkan oleh bunyi HP sekitar pukul 08.15. Ah, paling pacar saya. Tapi ternyata bukan. Nomernya tidak dikenal. Lalu saya angkat.

"Syarif, kamu dimana?"
"Ini siapa?"
"Lioni, kamu dimana?"
"Lioni mana ya?"
"Itu Lioni yang kamu kira Mirna, dulu,"
"Hah? Di rumah, memang ada apa?"
"Rumah kamu dimana?"
Saya deg-degan.
"Eh, emang kenapa?"
"Cepetan. Rebana nomer berapa?"
"Nomer sepuluh. Emang kenapa?"
"Oke, gua kesana ya sekarang,"

Klik. Telepon ditutup. Hati saya berdegup. Wah, ada apa ini? Jujur, saya ada rasa panik dan ketakutan juga, ada orang pagi-pagi memaksa datang ke rumah. Saya mondar-mandir lebih cepat di dalam kamar. Sampai akhirnya terdengar tukang jamu memanggil dari luar. Saya keluar dengan cepat, ke teras rumah, memenuhi panggilan si tukang. "Ayu, anggur satu," Saya pesan anggur dalam gelas. Setelah itu, datanglah Lioni yang dimaksud. Dia bersama seorang lagi. Membawa gitar.

Dengan wajah heran saya sambut sambil keanehan, "Eh Lioni, kenapa ya?" Dia jawab dengan ceria, "Begini, kami membawa kiriman dari Dega, katanya kalian tujuh bulanan ya?" "Ssssst.. ayo masuk dulu masuk," Saya suruh mereka masuk, karena sepertinya ini sesuatu yang vulgar jika terdengar tukang jamu dan seisi rumah yang sedang ada kegiatan Yoga. Yoga, kau tahu, mereka bermeditasi, dan butuh ketenangan. "Oke, Lioni, ceritakan, kiriman apa gerangan?" Setelah kami semua duduk, berceritalah Lioni: "Tenang, kami bukan mengirim kamu gitar. Hehehe. Kami dari Kappalettas, dinamakan juga Telegram Bernyanyi. Jadi, Dega, pacarmu, mengirimkan kami untuk menyanyikan sebuah lagu, dan kau mesti duduk lalu mendengarkan."

WOW! Jantung saya serasa ditinju. Ada rasa haru, tapi kaget lebih mendominasi. Saya sulit rileks mendengarnya, karena Ya Tuhan, bagaimana mungkin pacar saya "tega" melakukan ini? Saking paniknya, saya sampai mau ambil gitar karena saya pikir, saya mesti ikut maen gitar! Tapi, ah, betapa bodohnya, saya kan penerima pesan, masa mau ikut melipatkan amplop? Oke, saya kembali duduk, dan setelah berusaha rileks, saya persilahkan mereka nyanyi. Lalu digenjrenglah gitar, dan Lioni ternyata yang menyanyikannya. Lagunya adalah Lucky I'm In Love with My Best Friend dari Jason Mraz.

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

Saya mencoba mendengarkan liriknya baik-baik, karena pasti disitulah pesan telegramnya. Tapi sulit. Saya cuma bisa menangkap reffrain-nya saja. Karena saya terdominasi oleh perasaan haru. Bagi saya, pesan itu sudah diterima sebelum lagunya dinyanyikan. Bulat. Baik. Indah. Ketika telegram itu sendiri datang. Saya sudah senang seseorang yang saya kasihi mau mengirimkan surat, sebelum saya membuka amplopnya. Tidak banyak yang saya pikirkan selama mendengarkan lagu berdurasi kurang dari tiga menit itu, kecuali bahwa pagi itu sangat sangat terasa indah.

Lagu selesai. Saya beri tepuk tangan sekencang-kencangnya, yang saya yakini bisa membuyarkan para peserta Yoga. Tepuk tangan dari hati yang paling dalam. Pada sebuah pertunjukkan yang mencengangkan. Performa yang sederhana dan jauh dari gempita. Tapi hati ini merasa riuh dibuatnya. Saya tidak kuasa berhenti menyunggingkan senyum, baik di bibir maupun di batin. Saya ajak mereka, Lioni dan Pepeng (saya tahu namanya sesudahnya), berbincang sebentar. Terus terang, saya merasa bisnis ini unik dan kreatif. Kotasentrisme saya langsung keluar: Cuma di Bandung nih yang bisa begini. Hehehe. Kappalettas, katanya, berarti "lagu" dalam bahasa Finlandia. Memang bisnis ini fokus pada pengiriman telegram yang berisi lagu yang dinyanyikan langsung di depan penerimanya. Mendengar itu, saya malah mengusulkan, bagaimana jika sesekali pakai biola atau cello, agar efeknya lebih dramatis. Demikian akhirnya mereka pulang dengan membawa persetujuan bahwa sesekali pemakaian biola dan cello itu adalah ide yang sangat baik. Saya pun kembali ke kamar, menghubungi sang pengirim, dan kemudian tersiksa karenanya. Tersiksa kenapa? Karena saya bahagia, namun apa daya, cuma punya bahasa untuk mengungkapkannya.


Terima kasih, Wahdini Degayanti. Atas kirimannya. Atas kejutannya di pagi hari. Atas perhatian dan cintanya selama ini. Terima kasih.



Jet'aime Toujours.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...