Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Bunga untuk Dega

Pulang mengantar kedua kawan, saya terhenti di Palasari. Sebuah kawasan pertokoan yang terkenal dengan buku-buku murah, pasar, dan kios-kios tempat menjual bunga. Hari itu hari minggu, jam sembilan malam. Toko itu masih buka, seperti yang sudah saya duga. Toko yang saya maksud adalah toko bunga, yang saya lebih senang menyebutnya dengan kios. Meski kios-kios itu terletak di pojok jalan, tapi cahayanya terang benderang. Cukup mencolok di tengah gelap gulita padamnya lampu dari pasar dan toko buku, yang telah menyetop perniagaan sejak sore.

Saya turun dari mobil, setelah parkir di pinggir jalan. Ada banyak kios, sekitar enam atau tujuh kalau tidak salah. Tapi entah dorongan darimana, saya memilih untuk masuk ke kios yang penjualnya berlogat Jawa. Sepertinya juga, karena mawar yang ia pajang merahnya menggoda. Dibanding yang lainnya, padahal sama-sama merah. Oke, saya mulai memilih-milih mawar yang disimpan dalam ember. Ada beberapa warna, tapi saya hanya ingin merah. Katanya sih, merah menandakan cinta sejati. Tapi, ah, tak usah dimaknai tidak apa-apa kan? Bunga sudah manis pada dirinya sendiri. Bunga sudah indah sebelum ia dikatakan indah. Saya akhirnya beli lima, ditawar sedikit, tapi saya tak mau berdebat banyak. Harga sepakat turun, dan saya minta dirangkaikan yang cantik, pakai pita merah.

Saya menyimpan dengan hati-hati si bunga, di jok di samping saya. Saya pandangi sesekali, di tengah perjalanan pulang yang cuma lima menit. Bunga ini untuk seorang wanita. Wanita yang sedang berada di rumah saya. Entah menantikan saya pulang atau tidak, tapi saya yakin ia akan senang melihat saya datang. Bunga ini untuknya, yang tidak boleh saya berikan karena alasan apapun kecuali satu: bahwa dia satu.

Mawar, entah itu cuma sekedar konstruksi atau hakiki, saya percayai memang punya daya magi. Barangkali karena hidupnya yang cuma sebentar. Yang saya ingat, hanya empat atau lima hari, ia kemudian layu lalu mati. Tidakkah sangat tidak merepresentasikan cinta sejati, yang mestinya lama dan tidak mati-mati? Memang kelihatannya demikian, tapi saya punya versi sendiri: Yang justru bagi saya, cinta sejati itu, sangat terepresentasikan lewat mawar. Ia tumbuh sebentar, menguncup lalu merekah. Menebar wangi yang tidak menyengat, tapi menelusup diam-diam ke lubang hidungmu. Bagai pencuri yang mengendap di malam gelap, memasuki rumah yang penghuninya sedang tidur lelap. Lalu pada momen ketika mawar berpindah tangan, dari pemberi ke penerima, itu seperti begini: seperti jika semesta ini punya wajah, maka ia sedang berpaling padamu. Berpaling lalu tersenyum. Tersenyum dengan garis bibir yang lebar dan tatapan mata yang berbinar. Lalu semesta, dengan wajahnya yang cerah dan agung, berkata cinta kepadamu. Tapi bukan dengan bahasa, melainkan lewat uraian kalbu yang membuat dunia hening sejenak. Hening barang sedetik dua detik. Dan yang terdengar hanya bunyi jantungmu yang degupnya terdengar jelas di telinga.

Setelah itu, semesta kembali memalingkan mukanya darimu, dan ia kembali bekerja mendenyutkan dunia. Momen tadi begitu pendek, sependek umur mawar dari dia ada hingga tiada. Tapi kau tak pernah lupa, takkan, bahwa semesta pernah menyapamu. Bahwa semesta pernah hadir, dan dengan kuasanya, ia berhenti mengurusi segala. Hanya untukmu ia berhenti, seperti ada kupu-kupu yang sengaja hinggap di hidungmu, karena semata-mata ia tak mau hinggap di hidung yang lain selain punyamu. Kau tak pernah lupa, takkan, bahwa mawar sejati bukan yang sedang kau terima dari si pemberi, tapi yang kuncupnya merekah perlahan di dalam hati. Tumbuh berkembang dan menebar wangi ke darah dan jantung. Yang tak pernah mati, lekang oleh waktu, bahkan jika sang hati terlukai. Mawar yang tumbuh di hati yang luka, tetap bernama mawar. Mawar yang itu-itu juga, yang harum dan menari.

Dan ketika bunga itu di tanganmu, Dega. Saya sedang tidak tahu apa yang kau pendam dalam diammu. Tapi akan kutanyakan, apakah itu, karena kau sedang tertegun melihat senyum semesta?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...