Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Tulisan untuk Reuni

 (Ditulis untuk Reuni "Before 40" SMP Taruna Bakti Angkatan 1997 dan SMA Taruna Bakti Angkatan 2000 tapi kelihatannya tidak jadi dipakai)    Halo teman-teman eks SMP Tarbak angkatan 1997 dan SMA Tarbak angkatan 2000! Sudah pada jadi apa sekarang? Pasti ada yang udah jadi ayah, ibu, pekerja kantoran, SJW, staf ahli, anggota dewan, pe-en-es, selebgram, dosen, guru, dokter, atau bahkan tetep medioker dan pengangguran. Gak apa-apa, nasib kita tentu beda-beda. Waktu dulu kita satu sekolah, sudah barang tentu keliatan bibit-bibit di antara kita nantinya jadi apa, walau ada yang tercapai dan ada yang enggak. Ada yang dulunya kelihatan nackal dan enggak pernah belajar, eh sekarang jadi pengusaha sukses. Ada yang dulunya rajin belajar dan duduk paling depan, eh taunya jadi apa ya, udah deh gak usah dibahas. Poinnya, kita bakalan reuni 14 Oktober 2023 nanti, yang otomatis bakal saling ngeliat sudah pada jadi apa sekarang, sambil ngebandingin dengan apa yang pernah kita lakukan dulu...

Membela Young Lex dan Awkarin

    Waktu Young Lex dan Awkarin merilis video musik berjudul Makan Bang , saya berang. Berang karena bagaimana bisa, video musik yang dibuat asal-asalan semacam ini dapat meraih views jutaan dan menempati peringkat atas trending ? Di bagian prolog video tersebut, Oka Mahendra Putra, sang produser, terlebih dahulu memaparkan konsepnya, “Konsep video ini, adalah tanpa konsep. Kita hanya mengulang-ulang adegan makan di restoran.” Hasilnya mengejutkan! Meski nampak bahwa video musik ini adalah produk low budget, dengan konten berupa lirik yang dibuat asal-asalan –Young Lex mengaku membuatnya lima belas menit setelah main Dota 2-, dan dengan aktor, yang maaf-maaf saja, kelihatannya tidak ada kemampuan akting lain selain mengunyah makanan, tapi ada kenyataan pahit yang harus kita telan: toh, meski dicaci maki, video yang diunggah di Youtube tersebut tetap banyak yang menonton. Intinya, Young Lex, Awkarin, dan Oka Mahendra Putra hampir dapat dipastikan meraup untung besar dari Adsen...

Honest Review

Istilah " honest review " atau "ulasan jujur/ apa adanya" adalah demikian adanya: ulasan dari seseorang (hampir pasti netizen dalam konteks ini) tentang suatu produk entah itu kuliner, buku/ tulisan, film, dan lain-lain, yang disampaikan secara "jujur". Hal yang umumnya terjadi, "jujur" ini lebih condong pada "kalau jelek bilang jelek" atau semacam "kenyataan pahit". Sebagai contoh, jika saya menganggap sebuah rasa sebuah makanan di restoran A itu buruk, saya akan mengklaim diri saya telah melakukan " honest review " jika kemudian dalam membuat ulasan, benar-benar mengatakan bahwa makanan tersebut rasanya buruk. Mengatakan bahwa sebuah makanan itu enak dan memang benar-benar enak, memang juga semacam " honest review ", tapi biasanya bisa dicurigai sebagai bentuk dukungan, promosi, atau endorsement . Jadi, saat seorang pengulas berani mengatakan bahwa makanan ini "tidak enak", fenomena semacam itu ...

Generasi

Sentimen antar generasi adalah hal yang umum terjadi dalam peradaban. Mereka yang menyebut dirinya sebagai "generasi muda", biasanya lekat dengan keinginan untuk mengubah keadaan yang diklaimnya sebagai "status quo". Sementara generasi di atasnya, atau sebut saja "generasi tua", antara ingin mempertahankan kedudukannya dengan terus menerus mengglorifikasi keberhasilannya di masa lampau, atau ada juga yang sadar bahwa mereka akan tergantikan, sehingga dengan sekuat tenaga merangkul yang muda-muda. Kadang dalam melakukan glorifikasi, "generasi tua" ini bisa jadi menjadikan keberhasilannya bertahan hidup sebagai bukti bahwa pikiran dan tindakannya memang benar. Memang benar, misalnya, ia sudah dididik keras dengan gaya militer oleh orang tuanya, buktinya sekarang dirinya sukses. Pola pikir semacam itu yang membentuk persepsi "generasi tua" ini dalam menuduh generasi di bawah-bawahnya sebagai lembek dan payah.  Namun ada juga yang tidak per...

Jika Nietzsche Jadi Dosen di Indonesia

Friedrich Nietzsche, filsuf yang meninggal tahun 1900 itu, bangkit kembali dan hidup di Indonesia di tahun 2019 ini. Kecerdasannya tetap sama, ia masih seorang filolog yang hebat dengan pengetahuan mitologi Yunani yang sangat lekat. Pada kehidupan sebelumnya, saking cerdasnya, ia dianugerahi gelar profesor di Universitas Basel pada usia yang masih sangat muda, yaitu 24 tahun.  Tahun ini, ia juga berusia 24 dan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Indonesia. Sebagai anak muda yang brilian, ia rajin sekali menulis dan meneliti dengan antusiasme yang meledak-ledak. Namun tulisan maupun penelitiannya tidak pernah sampai tuntas, karena Nietzsche baru sadar, ada perbedaan antara ketika ia ada di Indonesia dengan ketika di Eropa. Bedanya, di Indonesia ia sangat sibuk. Apa yang menjadi kesibukannya? Ia tidak hanya menjalankan tri dharma Perguruan Tinggi yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Lebih daripada itu, Nietzsche juga harus mengisi prese...

Jalan Naluri Nan Sunyi Uly Siregar

Saya agak heran saat bisa menamatkan Nyanyi Sunyi (Cantrik Pustaka, 2023) karya Uly Siregar dalam sekali duduk. Cara berceritanya begitu mengalir, pemilihan katanya lincah, dan topik-topiknya menggoda. Jujur, tadinya saya tidak berharap banyak pada tulisan-tulisan berisi kisah pribadi. Dalam bayangan saya, itu kan catatan personal , mungkin berharga untuk si penulis sendiri, tapi mungkin kurang relevan bagi orang lain. Namun pikiran tersebut terbantahkan oleh perjalanan menulis saya sendiri. Saya menerjemahkan biografi Jacques Derrida (Puruá¹£a, 2022). Pada teks yang ditulis oleh Benoît Peeters tersebut, apa yang dipikirkan Derrida tidaklah seberapa menjadi titik berat. Hal yang lebih ditekankan adalah pergulatannya dengan masalah mental, perjumpaan pertamanya dengan calon istri di masa depan, Marguerite Aucotourier; kegalauannya saat dipanggil untuk wajib militer, hingga perjalanannya ke Amerika Serikat dengan kapal laut.  Poin berharga dari sebuah catatan personal justru bukan per...

Sasaran

Tidak berapa lama setelah saya mengetikkan kata "makanan kucing" di pesan WhatsApp untuk istri, di YouTube tiba-tiba muncul iklan Whiskas. Tidak berapa lama saya membicarakan soal pizza bersama teman lewat WhatsApp, di YouTube muncul juga iklan pizza. Di kendaraan saat mendengarkan Spotify, sedang asyik-asyiknya mendengarkan albumnya Michael Franks, iklan selalu menyela, yang mengarahkan kita pada playlist atau siaran lain (maklum, bukan premium). Saya tidak tahu, tapi pastilah dunia algoritma ini sudah canggih, mereka sudah mencatat tempat-tempat yang sering saya kunjungi di GMaps sehingga iklan-iklannya pun pasti menyesuaikan. Iya, iklan kopi.  Hampir setiap saat kita dibombardir iklan. Iklan-iklan tersebut tidak lagi seperti era media massa yang tembakannya membabibuta seperti machine gun . Iklan-iklan hari ini menembakkan sasarannya seperti sniper. Mengeceng dengan hati-hati, tapi tembakannya diusahakan langsung sekali mati. Lucunya, kita bukan benar-benar dicari oleh sni...