Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

(Mencoba) Memahami Ted Kaczynski

Beberapa hari terakhir ini, saya mengisi waktu luang dengan menonton film dokumenter tentang Ted Kaczynski yang berjudul Unabomber: In His Own Words . Film dokumenter tahun 2020 ini menceritakan tentang Ted Kaczynski, doktor matematika lulusan Universitas Michigan yang bertransformasi menjadi apa yang disebut FBI sebagai "teroris domestik". Ted melakukan serangkaian teror bom selama tujuh belas tahun, dari mulai tahun 1978 hingga tahun 1995, melukai 23 orang dan menewaskan tiga orang. Film dokumenter yang terdiri dari empat episode tersebut mengambil sudut pandang dari Ted sendiri berdasarkan hasil wawancara, serta sudut pandang lain seperti dari tetangga Ted, adik yang kemudian melaporkannya, David Kaczynski, sejumlah agen FBI, para korban, serta beberapa orang lainnya yang dianggap berkaitan.  Film tersebut menarik dan cukup berimbang dalam memberikan perspektif. Di satu sisi, Ted digambarkan sebagai seseorang yang mengalami masalah mental, tetapi di sisi lainnya, kejeniusa...

Selayang Pandang Ekonomi Syariah

 (Ditulis sebagai suplemen untuk Kelas Santai Menelusuri Kepentingan Diri, 19 Juni 2021)    Ekonomi syariah secara sederhana diartikan sebagai kegiatan memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan hukum-hukum dalam agama Islam, yang kedudukan tertingginya ada pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pertanyaannya, mengapa mesti ada ekonomi yang berbasis agama? Tidakkah usaha pemenuhan kebutuhan diri bisa dilihat sebagai sesuatu yang kodrati, sehingga tidak memerlukan suatu acuan yang transendental? Atau jikapun perlu ada acuan, tidakkah cukup untuk mengacu bahwa dalam usaha memenuhi kebutuhan diri, orang hanya tinggal menakar apakah usahanya ini mengganggu kepentingan orang lain atau tidak?  Pembahasan tentang ekonomi syariah bisa dimulai dari pembahasan tentang ekonomi kapitalisme dan hubungan di antara keduanya. Hal tersebut hanya bisa dijawab dengan pertama-tama mendefinisikan apa itu kapitalisme sendiri. Segala bentuk pertukaran barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan tidak bisa ...

Karena Tubuh Lebih Mengerti

Pada hari Sabtu, 9 Oktober, selesai main musik di sebuah restoran, saya minum es teh tawar di gelas berukuran besar. Tidak lama kemudian, rasa sakit menyerang antara dada dan perut, menjalar hingga punggung dan lama-lama menjadi sesak. Saya langsung dilarikan ke IGD RS Limijati, diperiksa ini itu (hingga dipasangi aneka kabel), diberi penahan rasa sakit dan saat sakitnya hilang, saya meminta untuk pulang. Pemeriksaan saat itu menunjukkan tekanan darah saya mencapai 210. Sesampainya di apartemen, sakit itu datang lagi dan malah lebih parah. Saya kembali masuk ke IGD RS Hermina Arcamanik. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa selain tekanan darah, gula darah saya pun bermasalah.   Sekarang sudah hampir seminggu sejak saya keluar dari rumah sakit. Pola makan serta gaya hidup mesti diubah secara total: merokok dari yang sebelumnya bisa dua bungkus per hari, sekarang hanya sebatang per hari; makanan yang dikonsumsi tadinya hampir bebas (ada pantangan sih, tapi saya sering diam-diam makan ...

Menunggu

Pada hari Sabtu kemarin, saya ditelpon oleh Kang Ismet, pimpinan grup musik Sambasunda. Intinya, saya diminta ke Majalaya esok hari atau hari Minggu, 26 September untuk memoderasi diskusi yang akan berlangsung di sela-sela pementasan virtual. Saya langsung mengiyakan meskipun sebelumnya sudah memproyeksikan hari Minggu itu untuk bersantai saja di apartemen. Waktu tempuh dari tempat tinggal saya ke Majalaya, Kabupaten Bandung, adalah sekitar 1,5 jam. Meski acara katanya dimulai pukul 14, tetapi saya sudah berangkat dari pukul 10 karena berencana untuk nongkrong terlebih dahulu di sebuah kafe di Majalaya. Alasannya, ya ingin ganti suasana saja.   Sesampainya di sana, sekitar pukul 11.30, saya ngopi di tempat namanya Ri-Box. Tempat ini direkomendasikan oleh seorang kawan, Zulfa Nasrulloh, yang kebetulan memang warga lokal. Zulfa berencana datang sekitar pukul 13 dan sambil menunggu, saya mengerjakan materi presentasi tentang sinisme. Sambil menunggu pula, saya memesan kopi yang p...

Demotivasi dan Anjing

Dalam beberapa hari ini, Demotivasi 2 sedang dikirim-kirimkan pada mereka yang memesan sejak sebelum buku dicetak atau biasa disebut pre-order . Buku-buku ini rata-rata dikirimkan melalui jasa ekspedisi dan pada jarak dekat sekalipun, biasanya perlu minimal satu hari hingga sampai ke tangan penerima (jika dikirim hari ini, maka setidaknya besok baru sampai). Salah seorang pembeli, teman saya, Pangestu Hning Bhawana atau biasa dipanggil Estu, bertanya-tanya mengapa pesanannya tidak kunjung tiba padahal ia telah menunggu tiga hari. Pada keluhan-keluhan semacam itu saya hanya bisa mengatakan, "Tunggu saja."  Di hari keempat, Estu mengirim pesan berupa gambar bahwa bukunya telah sampai, tetapi dalam keadaan rusak. Rusak kenapa? Rupanya kurir ekspedisi melemparkan buku tersebut dan jatuh di kandang anjing. Si anjing mengoyak-ngoyak si buku hingga sebagian besar isinya tidak bisa dibaca. Saya turut sedih dengan kejadian itu dan mengirimkan buku yang baru sebagai pengganti. Di waktu...

Tentang Tukang Cendol yang Tidak Mau Diborong

Harus diakui bahwa saya tidak punya sumber primer tentang kisah ini. Mudah-mudahan yang lebih penting adalah "pesan moral"-nya (meski saya kurang suka istilah pesan moral). Jadi begini, seorang teman, namanya Sutrisna atau saya panggil dengan sebutan Kang Tris, pernah bercerita tentang seorang tukang cendol yang tidak mau diborong. Katanya cerita tersebut ia ambil dari kumpulan kisah sufi yang ditulis oleh Cak Nun. Namun sampai sekarang saya belum pernah membaca sendiri kisah tersebut.  (Setelah saya menulis paragraf di atas, saya coba googling dan ternyata menemukan cerita tersebut! Silakan membaca kisahnya di sini )  Secara singkat, ini adalah cerita tentang tukang cendol yang seluruh dagangannya hendak diborong oleh seseorang yang akan mengadakan kumpul-kumpul. Setelah diborong, cendol tersebut rencananya dibagikan secara gratis pada tamu-tamu yang datang. Dalam pikiran sederhana kita, tentu saja semua senang jika cendol-cendol tersebut diborong. Bagi tukang cendol, dagang...

Otentisitas > Pengalaman Estetik (?)

Made You Look: A True Story About Fake Art Beberapa hari yang lalu, dalam rangka persiapan mengisi forum tentang seni rupa kontemporer, saya menonton dan membaca beberapa hal terkait seni, baik yang berhubungan langsung dengan seni rupa kontemporer maupun yang tidak langsung. Saya membuka Netflix dan tertarik dengan film dokumenter berjudul Made You Look: A True Story About Fake Art (2020). Mungkin tidak berhubungan langsung dengan seni rupa kontemporer, tetapi saya menemukan sejumlah hal menarik (dan pada akhirnya bisa dihubung-hubungkan).  Film dokumenter yang disutradarai oleh Barry Avrich ini menceritakan tentang kasus lukisan palsu yang menyerang galeri Knoedler di New York, terkait berbagai transaksi yang dilakukan oleh presiden galeri, Ann Freedman, antara tahun 1994 sampai 2009. Lukisan yang dijualnya antara lain karya-karya Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Robert Motherwell. Ann Freedman mendapatkan lukisan-lukisan tersebut dari orang bernama Glafira Rosales yang menjual...