Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Batu Nisan Kaum Kiri

Sekitar bulan lalu, kira-kira tanggal 28 Desember (saya ingat, karena sehari sebelum final Piala AFF), saya jalan-jalan bersama pacar dan teman-temannya di Mal FX, kawasan Sudirman, Jakarta. Sore itu kami bermaksud nonton film Gulliver's Travel. Kala berjalan menyusuri mal-menuju bioskop, saya menemukan ada tempat makan yang menarik. Namanya Foodism. Menarik karena banyak foto wajah orang terpampang di dalamnya. Yang dipajang bukan foto orang sembarangan, mereka adalah orang-orang yang akrab disebut dalam sejarah. Apa maksud restoran tersebut memasang wajah mereka, saya tidak paham. Kalau saya tanya-tanya pelayannya pun mungkin mereka geleng-geleng saja. Saya juga saat itu sudah kenyang, sehingga tidak tertarik makan di dalamnya. gambar diambil dari sini Ketidakpahaman saya akan "Mengapa mereka semua ada disana?" menggelitik saya untuk menerka-nerka saja. Dari beberapa foto di sana, tiga diantaranya adalah tokoh besar dari kalangan kiri, yakni Lenin, Marx, dan Mao. Tak pe...

Kenangan

Ketika menulis ini saya baru saja pulang. Pulang dari acara kumpul bersama teman-teman. Hal yang tadinya saya ragu untuk melakukannya karena suatu prinsip yang saya teguhkan sendiri: Tidak ada main sebelum kuliah lulus. Kebetulan (Insya Allah) sidang kelulusan hanya tinggal dua mingguan lagi. Saya pikir saya bisa menahan diri untuk tidak berjumpa kawan-kawan jika cuma dua pekan. Namun entah kenapa, SMS ajakan tadi siang begitu sulit untuk ditolak. Saya merasa bahwa ajakan ini adalah semacam upaya untuk "menyeimbangkan" diri. Betapa kegiatan menulis tesis sudah sangat menjengahkan, rutinitas tambah lama tambah membunuh kesadaran, dan waktu luang semakin dipersedikit karena berpotensi buang-buang uang. Kegiatannya begitu saja, tidak berbeda dengan dulu-dulu. Nonton bioskop, pulangnya makan. Pasca makan, kami berbincang-bincang hingga larut malam. Kebetulan ini adalah kawan setia dari sejak SMA bahkan SMP. Sudah nyaris sepuluh tahun kami bersama, dan nonton-setelah-itu-makan mas...

Hadiah Penalti

Peluit berbunyi sesaat setelah Arif Suyono menyundul bola dan mengenai tangan bek Malaysia. Penalti! Wasit asal Australia menunjuk titik putih. Stadion meledak. Gembira karena konon penalti adalah separuh gol. Bagaimana tidak, gawang sebesar demikian hanya tinggal diceploskan dari dua belas meter saja. Kedudukan saat itu 0-0. Menit ke-17. Final leg kedua Piala AFF dimana Indonesia mesti menang dengan selisih empat gol, akibat di leg pertama kami ditundukkan Malaysia 3-0 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. O, coba tengok gelegak para suporter di sini: Di sekitar tempat saya berdiri. Mereka terlalu haus untuk diberi minum setetes air. Dahaga mereka ingin dipuaskan oleh anggur yang memabukkan. Dan anggur itu berjarak cukup jauh untuk diraih. Tapi kami bisa, kami sanggup. Semua optimis Indonesia mampu membalas kekalahan dengan jumlah gol yang lebih banyak sehingga mampu merengkuh trofi. Anggur yang memabukkan itu. Penalti, dalam hampir sebagian besar peristiwanya, sering disebut sebagai ...

Catatan Harian Seorang Suporter: Drama Antrian Enam Belas Jam

Awalnya, saya tidak ada niat mengantri tiket Final Piala AFF, sehubungan dengan janji kawan yang sanggup menyediakan tiket via kenalannya. Ternyata janji itu mendadak batal, akibat distribusi tiket dari PSSI yang sama sekali beda dengan babak-babak sebelumnya. Kawan saya bilang, singkatnya, “Yang sekarang beda, kita mesti ngantri.” Saya jawab, “Oke, ga masalah, dari abis maghrib gimana?” “Yah, jangan abis magrib banget lah, jam dua belas aja ya?” Singkat kata, kami mencapai kata sepakat untuk antri sejak jam dua belas malam. Sebagai informasi, loket konon baru dibuka antara jam sembilan atau jam sepuluh pagi. Malam itu sudah lewat jam dua belas ketika kami tiba di parkiran loket yang terletak di pintu utama. Ternyata antrian sudah cukup panjang, sekitar dua ratus meter. Tiket yang dilepas seharga 50.000 Rupiah itu telah ditunggui orang bahkan dari sejak jam sembilan malam. Kami, berempat jumlahnya, mengampar beralaskan koran. Saya pribadi sulit tidur nyenyak, karena perasaan campur adu...

Tiki Taka

Bayangkan sebuah orkestra bernama Barcelona. Semua dimulai dari dirigen bernama Xavi. Ia pemimpin rombongan, dan seluruh pemain menunggu aba-abanya. Tongkat konduktor ia angkat tanda bersiap, para pemain bergerak mengangkat instrumennya masing-masing. Biasanya segalanya dimulai dari denting harpa Busquets. Ia membunyikan intro ringan, semata-mata agar suasana menjadi terbiasa. Di bar kedelapan Busquets menaikkan volume. Forte . Tak lama kemudian berbunyi jua instrumen lain. Suasana menjadi ramai, riang, dan memukau. Iniesta membunyikan flute, muncul sesekali bagaikan balutan improvisasi. Suaranya bagai desah angin di pegunungan. Xavi menunjuk Villa, dan ia pun memeragakan permainan brass yang mahir. Meliuk-liuk bagai wanita di klab malam. Jangan sampai membosankan, kawan, kata Xavi sambil meminta Puyol dan Pique mendeciskan cymbal. Alves, giliranmu, mainkan cello. Rambatilah sudut ruangan dengan jangkauan nadamu yang luas dan seksi. Pedro turun kau kemari, buang partitur itu, dan ma...

Del Piero dan Kesetiaan

". .. benda yang akrab ke dalam hatiku -dan sebab itu ia punya arti bagiku- cuma jadi benda yang tiap saat bisa dipertukarkan dengan benda lain. " (Goenawan Mohamad menginterpretasi Hegel tentang ein sich in sich selbs bewegende Leben des Todes ) Sepakbola Italia pernah menorehkan catatan kelam tahun 2006 silam. Namanya calciopoli , atau skandal pengaturan skor yang melibatkan banyak klub besar Seri A, dan salah satunya adalah klub favorit saya, Juventus. Juventus dihukum degradasi ke Seri B dan memulai kompetisi dengan minus 30 poin. Gelar scudetto tahun 2005 dan 2006 pun dicabut. Kover depan koran BOLA saat itu, saya ingat, judulnya EKSODUS, yang menunjukkan adanya hijrah pemain besar-besaran dari Juventus ke klub lain. Alasannya apa lagi, kalau bukan gengsi yang turun karena sebagian besar pemain bintang tersebut menolak main di kasta kedua. Zlatan Ibrahimovic, Patrick Vieira, dan Fabio Cannavaro adalah contoh tiga bintang yang memutuskan keluar dari Juventus. Yang tingga...

Mengukur Kualitas Keimanan David Villa

"Bola itu bundar, kita tidak akan tahu jatuh dan memantul kemana." Saya tidak tahu siapa yang mengucapkan itu, tapi barangkali kita semua tahu kalimat itu sangat terkenal. Seperti halnya kalimat tauhid, saya asumsikan kalimat itulah yang menjadi pijakan keimanan pesepakbola manapun. Sehebat-hebatnya strategi pelatih, sejago-jagonya kemampuan pemain, jika mengingkari bahwa bola itu bundar, maka dalam kegagalannya ia akan jatuh pada jurang yang pahit dan tersesat disana. Namun kalimat "tauhid sepakbola" itu adalah penyelamat sejati, ketika aktor sepakbola mengalami kekalahan dan kejatuhan yang pastinya lumrah di roda kehidupan. Mereka tahu bahwa bola yang bundar adalah realitas sejati yang menyebabkan jatuh dan memantulnya tak pernah mampu ditebak kemana arahnya. Dan karena itu, pantulan yang tak diketahui adalah ambang batas terakhir alasan untuk sebuah kegagalan yang tak bisa dijelaskan. Kita semua tahu Filippo Inzaghi adalah fenomena sepakbola. Bukan karena kemampu...