Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Bayangkan sebuah orkestra bernama Barcelona. Semua dimulai dari dirigen bernama Xavi. Ia pemimpin rombongan, dan seluruh pemain menunggu aba-abanya. Tongkat konduktor ia angkat tanda bersiap, para pemain bergerak mengangkat instrumennya masing-masing. Biasanya segalanya dimulai dari denting harpa Busquets. Ia membunyikan intro ringan, semata-mata agar suasana menjadi terbiasa. Di bar kedelapan Busquets menaikkan volume. Forte. Tak lama kemudian berbunyi jua instrumen lain. Suasana menjadi ramai, riang, dan memukau. Iniesta membunyikan flute, muncul sesekali bagaikan balutan improvisasi. Suaranya bagai desah angin di pegunungan. Xavi menunjuk Villa, dan ia pun memeragakan permainan brass yang mahir. Meliuk-liuk bagai wanita di klab malam. Jangan sampai membosankan, kawan, kata Xavi sambil meminta Puyol dan Pique mendeciskan cymbal. Alves, giliranmu, mainkan cello. Rambatilah sudut ruangan dengan jangkauan nadamu yang luas dan seksi. Pedro turun kau kemari, buang partitur itu, dan mainkan biola alto untuk membuat penonton geregetan. Geregetan karena sekeras-kerasnya kau bermain, tetap tak akan setajam sayatan sang violinis Messi. Messi sang Medusa yang tatapannya bisa bikin kau membatu.
Dengarkanlah kemeriahan itu, seperti Tchaikovsky dalam Waltz of The Flowers. Mereka menari, mereka gembira, mereka berbunga-bunga.
Akhirilah Overture ini segera, wahai sang komposer, Guardiola. Dada kami sudah gegap gempita menahan kekaguman yang maha. Karya berjudul tiki-taka hanya sempurna dimainkan oleh anak-anak Katalonia. Dari La Masia, untuk dunia.
Dengarkanlah kemeriahan itu, seperti Tchaikovsky dalam Waltz of The Flowers. Mereka menari, mereka gembira, mereka berbunga-bunga.
Akhirilah Overture ini segera, wahai sang komposer, Guardiola. Dada kami sudah gegap gempita menahan kekaguman yang maha. Karya berjudul tiki-taka hanya sempurna dimainkan oleh anak-anak Katalonia. Dari La Masia, untuk dunia.
Comments
Post a Comment