Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Ketika menulis ini saya baru saja pulang. Pulang dari acara kumpul bersama teman-teman. Hal yang tadinya saya ragu untuk melakukannya karena suatu prinsip yang saya teguhkan sendiri: Tidak ada main sebelum kuliah lulus. Kebetulan (Insya Allah) sidang kelulusan hanya tinggal dua mingguan lagi. Saya pikir saya bisa menahan diri untuk tidak berjumpa kawan-kawan jika cuma dua pekan. Namun entah kenapa, SMS ajakan tadi siang begitu sulit untuk ditolak. Saya merasa bahwa ajakan ini adalah semacam upaya untuk "menyeimbangkan" diri. Betapa kegiatan menulis tesis sudah sangat menjengahkan, rutinitas tambah lama tambah membunuh kesadaran, dan waktu luang semakin dipersedikit karena berpotensi buang-buang uang.
Kegiatannya begitu saja, tidak berbeda dengan dulu-dulu. Nonton bioskop, pulangnya makan. Pasca makan, kami berbincang-bincang hingga larut malam. Kebetulan ini adalah kawan setia dari sejak SMA bahkan SMP. Sudah nyaris sepuluh tahun kami bersama, dan nonton-setelah-itu-makan masih menjadi menu jalan-jalan utama. Setelah nonton di Ciwalk (film berjudul The American), kami mampir di warung sate Pak Gino daerah Jl. Sunda, dekat rel kereta. Kami, totalnya berlima, memesan sate buntel, gule tulang, dan tempe mendoan. Tidak ada yang istimewa, seperti biasa, kami makan sambil diiringi ketawa-ketawa. Denting sendok-garpu beradu, dengan sesekali celetuk kecil minta tolong diambilkan ini-itu. Kami makan dengan cara yang sama dengan sepuluh tahun lalu, tidak ada yang mentang-mentang sudah kerja lalu uangnya banyak, lantas makan dengan table manner atau jaim berlebihan.
Kawan lama adalah orang yang menempatkan saya pada situasi nostalgia. Kehadirannya menjadi indah justru ketika kami membiarkan kebiasaan-kebiasaan lampau yang hadir. Saya sekarang pastilah sudah berubah dari sepuluh tahun lalu. Sekarang saya bekerja, punya uang dan tabungan, punya rencana melamar seorang wanita, punya pemikiran filosofi tentang dunia, atau barangkali punya solusi bagi perbaikan negara. Tapi bukan cerita-cerita macam itu yang membuat pertemuan dengan kawan lama menjadi hangat. Melainkan kala kami sama-sama mengenang, kala kami sama-sama bersikap bak remaja yang rajin mengejek satu sama lain, membicarakan wanita seksi yang kebetulan lewat, ataupun mengeluhkan apa-apa yang menindas kami (dulu sekolah, sekarang para bos).
"Kenangan, adalah semacam pertemuan," demikian kata Gibran. Ketika kita sama-sama mengenang, sesungguhnya kita janjian dalam satu ruang-waktu baru yang diciptakan bersama. "Inget gak, waktu kita ke Bali, waktu itu si anu..," demikian celetuk Karel, salah seorang dari kami. Maka ketika itu juga, Karel mengonstruksi suatu kejadian masa lalu. Ia menciptakan suatu ruang-waktu dan mengajak kami semua berkumpul kesitu. Tinggalkan sejenak warung sate ini kawan-kawan, karena apa yang riil seringkali merepotkan. Apa yang riil selalu bergerak ke depan, menuju kematian, menuju keabsurdan, menuju konflik yang tiada berkesudahan. Sekarang kita muda lagi, berpakaian seragam lagi, tiada uang hati tetap senang. Tidak perlu berpikir hidup ini darimana dan mau kemana, besok makan apa, lusa janjian sama siapa, karena kita semua adalah budak Epikuros yang cuma ingin merebut hari ini. Carpe Diem.
Ada celetukan menarik saat pertemuan kami menjelang berakhir, "Dulu kita ngomongin kuliah, sekarang ngomongin kerjaan, nanti mungkin kita ngomongin istri, anak, dan penyakit-penyakit yang menggerogoti kita." Itu betul sekali, karena tempus mutantur, et nus mutamur in ilid. Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya. Tapi tak ada satupun dari kami yang berani melunturkan ingatan tentang masa-masa berbaju SMA. Karena satu hal, kami percaya bahwa surga bukan sebatas onggokan asa di masa depan, tapi juga sebentuk cahaya temaram dari masa lampau.
Kegiatannya begitu saja, tidak berbeda dengan dulu-dulu. Nonton bioskop, pulangnya makan. Pasca makan, kami berbincang-bincang hingga larut malam. Kebetulan ini adalah kawan setia dari sejak SMA bahkan SMP. Sudah nyaris sepuluh tahun kami bersama, dan nonton-setelah-itu-makan masih menjadi menu jalan-jalan utama. Setelah nonton di Ciwalk (film berjudul The American), kami mampir di warung sate Pak Gino daerah Jl. Sunda, dekat rel kereta. Kami, totalnya berlima, memesan sate buntel, gule tulang, dan tempe mendoan. Tidak ada yang istimewa, seperti biasa, kami makan sambil diiringi ketawa-ketawa. Denting sendok-garpu beradu, dengan sesekali celetuk kecil minta tolong diambilkan ini-itu. Kami makan dengan cara yang sama dengan sepuluh tahun lalu, tidak ada yang mentang-mentang sudah kerja lalu uangnya banyak, lantas makan dengan table manner atau jaim berlebihan.
Kawan lama adalah orang yang menempatkan saya pada situasi nostalgia. Kehadirannya menjadi indah justru ketika kami membiarkan kebiasaan-kebiasaan lampau yang hadir. Saya sekarang pastilah sudah berubah dari sepuluh tahun lalu. Sekarang saya bekerja, punya uang dan tabungan, punya rencana melamar seorang wanita, punya pemikiran filosofi tentang dunia, atau barangkali punya solusi bagi perbaikan negara. Tapi bukan cerita-cerita macam itu yang membuat pertemuan dengan kawan lama menjadi hangat. Melainkan kala kami sama-sama mengenang, kala kami sama-sama bersikap bak remaja yang rajin mengejek satu sama lain, membicarakan wanita seksi yang kebetulan lewat, ataupun mengeluhkan apa-apa yang menindas kami (dulu sekolah, sekarang para bos).
"Kenangan, adalah semacam pertemuan," demikian kata Gibran. Ketika kita sama-sama mengenang, sesungguhnya kita janjian dalam satu ruang-waktu baru yang diciptakan bersama. "Inget gak, waktu kita ke Bali, waktu itu si anu..," demikian celetuk Karel, salah seorang dari kami. Maka ketika itu juga, Karel mengonstruksi suatu kejadian masa lalu. Ia menciptakan suatu ruang-waktu dan mengajak kami semua berkumpul kesitu. Tinggalkan sejenak warung sate ini kawan-kawan, karena apa yang riil seringkali merepotkan. Apa yang riil selalu bergerak ke depan, menuju kematian, menuju keabsurdan, menuju konflik yang tiada berkesudahan. Sekarang kita muda lagi, berpakaian seragam lagi, tiada uang hati tetap senang. Tidak perlu berpikir hidup ini darimana dan mau kemana, besok makan apa, lusa janjian sama siapa, karena kita semua adalah budak Epikuros yang cuma ingin merebut hari ini. Carpe Diem.
Ada celetukan menarik saat pertemuan kami menjelang berakhir, "Dulu kita ngomongin kuliah, sekarang ngomongin kerjaan, nanti mungkin kita ngomongin istri, anak, dan penyakit-penyakit yang menggerogoti kita." Itu betul sekali, karena tempus mutantur, et nus mutamur in ilid. Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya. Tapi tak ada satupun dari kami yang berani melunturkan ingatan tentang masa-masa berbaju SMA. Karena satu hal, kami percaya bahwa surga bukan sebatas onggokan asa di masa depan, tapi juga sebentuk cahaya temaram dari masa lampau.
.png)
Comments
Post a Comment