Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kenangan


Ketika menulis ini saya baru saja pulang. Pulang dari acara kumpul bersama teman-teman. Hal yang tadinya saya ragu untuk melakukannya karena suatu prinsip yang saya teguhkan sendiri: Tidak ada main sebelum kuliah lulus. Kebetulan (Insya Allah) sidang kelulusan hanya tinggal dua mingguan lagi. Saya pikir saya bisa menahan diri untuk tidak berjumpa kawan-kawan jika cuma dua pekan. Namun entah kenapa, SMS ajakan tadi siang begitu sulit untuk ditolak. Saya merasa bahwa ajakan ini adalah semacam upaya untuk "menyeimbangkan" diri. Betapa kegiatan menulis tesis sudah sangat menjengahkan, rutinitas tambah lama tambah membunuh kesadaran, dan waktu luang semakin dipersedikit karena berpotensi buang-buang uang.

Kegiatannya begitu saja, tidak berbeda dengan dulu-dulu. Nonton bioskop, pulangnya makan. Pasca makan, kami berbincang-bincang hingga larut malam. Kebetulan ini adalah kawan setia dari sejak SMA bahkan SMP. Sudah nyaris sepuluh tahun kami bersama, dan nonton-setelah-itu-makan masih menjadi menu jalan-jalan utama. Setelah nonton di Ciwalk (film berjudul The American), kami mampir di warung sate Pak Gino daerah Jl. Sunda, dekat rel kereta. Kami, totalnya berlima, memesan sate buntel, gule tulang, dan tempe mendoan. Tidak ada yang istimewa, seperti biasa, kami makan sambil diiringi ketawa-ketawa. Denting sendok-garpu beradu, dengan sesekali celetuk kecil minta tolong diambilkan ini-itu. Kami makan dengan cara yang sama dengan sepuluh tahun lalu, tidak ada yang mentang-mentang sudah kerja lalu uangnya banyak, lantas makan dengan table manner atau jaim berlebihan.

Kawan lama adalah orang yang menempatkan saya pada situasi nostalgia. Kehadirannya menjadi indah justru ketika kami membiarkan kebiasaan-kebiasaan lampau yang hadir. Saya sekarang pastilah sudah berubah dari sepuluh tahun lalu. Sekarang saya bekerja, punya uang dan tabungan, punya rencana melamar seorang wanita, punya pemikiran filosofi tentang dunia, atau barangkali punya solusi bagi perbaikan negara. Tapi bukan cerita-cerita macam itu yang membuat pertemuan dengan kawan lama menjadi hangat. Melainkan kala kami sama-sama mengenang, kala kami sama-sama bersikap bak remaja yang rajin mengejek satu sama lain, membicarakan wanita seksi yang kebetulan lewat, ataupun mengeluhkan apa-apa yang menindas kami (dulu sekolah, sekarang para bos).

"Kenangan, adalah semacam pertemuan," demikian kata Gibran. Ketika kita sama-sama mengenang, sesungguhnya kita janjian dalam satu ruang-waktu baru yang diciptakan bersama. "Inget gak, waktu kita ke Bali, waktu itu si anu..," demikian celetuk Karel, salah seorang dari kami. Maka ketika itu juga, Karel mengonstruksi suatu kejadian masa lalu. Ia menciptakan suatu ruang-waktu dan mengajak kami semua berkumpul kesitu. Tinggalkan sejenak warung sate ini kawan-kawan, karena apa yang riil seringkali merepotkan. Apa yang riil selalu bergerak ke depan, menuju kematian, menuju keabsurdan, menuju konflik yang tiada berkesudahan. Sekarang kita muda lagi, berpakaian seragam lagi, tiada uang hati tetap senang. Tidak perlu berpikir hidup ini darimana dan mau kemana, besok makan apa, lusa janjian sama siapa, karena kita semua adalah budak Epikuros yang cuma ingin merebut hari ini. Carpe Diem.

Ada celetukan menarik saat pertemuan kami menjelang berakhir, "Dulu kita ngomongin kuliah, sekarang ngomongin kerjaan, nanti mungkin kita ngomongin istri, anak, dan penyakit-penyakit yang menggerogoti kita." Itu betul sekali, karena tempus mutantur, et nus mutamur in ilid. Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya. Tapi tak ada satupun dari kami yang berani melunturkan ingatan tentang masa-masa berbaju SMA. Karena satu hal, kami percaya bahwa surga bukan sebatas onggokan asa di masa depan, tapi juga sebentuk cahaya temaram dari masa lampau.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...