Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Merkantilisme

(Ditulis sebagai suplemen untuk Kelas Santai Menelusuri Kepentingan Diri, 21 April 2021)

 

Merkantilisme adalah paham tentang nasionalisme ekonomi yang berkepentingan membangun negara yang kuat dan sejahtera. Sistem ini umumnya mendominasi pemikiran dan kebijakan di Eropa Barat dari mulai abad ke-16 hingga akhir abad ke-18. Tujuan dari aliran pemikiran ini adalah untuk mendapatkan keuntungan berlimpah dari transaksi ekspor - impor yang berujung pada kesejahteraan domestik. Transaksi tersebut, contohnya, adalah berupa impor bahan mentah untuk diolah menjadi barang jadi dan dijual kembali sehingga negara mendapatkan surplus. Contoh dari penerapan pemikiran merkantilisme ini adalah keberadaan British East India Company atau EIC (1600 – 1874) dan Dutch East India Company atau VOC (1602 – 1799) yang berdagang dengan cara ekspansi ke banyak negara (untuk mendapatkan bahan mentah). Meski berstatus sebagai perusahaan dagang, mereka didukung penuh oleh negara dan bahkan diberi senjata.

Pada periode merkantilisme ini, konflik militer antar negara-bangsa dianggap yang paling intens dalam sejarah. Tentara dan kapal perang bukan lagi kekuatan sementara yang diturunkan hanya untuk isu dan ancaman tertentu, tetapi menjadi kekuatan yang bersiaga setiap waktu (full time professional forces). Militerisme menjadi hal yang lekat dengan merkantilisme karena hampir setiap negara menghabiskan uangnya untuk tentara dan kapal perang demi meluaskan ekspansi dan melancarkan perdagangan. Setiap negara berkompetisi untuk mendapatkan sumber daya dan menjaganya habis-habisan.

EIC misalnya, wilayah ekspansinya mencakup India, Hong Kong, sejumlah negara di Afrika, Amerika Utara, beberapa wilayah di Asia Tenggara, beberapa wilayah Arab (salah satunya yang sekarang disebut dengan Uni Emirat Arab) dan sejumlah negara lainnya. Pada negara-negara tersebut, EIC mendapatkan keuntungan dari perdagangan kapas, sutra, gula, garam, teh, hingga ganja. Sementara VOC, wilayah ekspansinya mencapai Mauritius dan Afrika Selatan, Indonesia, Jepang, Taiwan, Malaysia, dan Thailand. VOC terkenal dengan perdagangan yang menghasilkan keuntungan besar lewat di antaranya kopi Indonesia, tebu Formosa, dan anggur Afrika Selatan. Perlombaan ekspansi dan perdagangan ini belum termasuk pembahasan tentang wilayah kekuasaan Spanyol, Portugal, dan Prancis.

 

Dasar Pemikiran Merkantilisme

Merkantilisme “dibenarkan” oleh sejumlah pemikiran sebagai berikut:

  1. Thomas Mun (1571 – 1641) adalah penulis Inggris yang juga menjabat sebagai salah satu direktur dari EIC. Dalam bukunya yang berjudul England’s Treasure by Foreign Trade, Mun merumuskan sejumlah kriteria yang sebaiknya diikuti oleh Inggris agar bisa sejahtera:

    • Barang-barang impor yang bisa diproduksi secara domestik seharusnya dilarang.

    • Kurangi impor barang-barang mewah dengan membuat orang-orang Inggris mempunyai selera terhadap barang-barang (mewah) lokal.

    • Kurangi bea ekspor produk-produk domestik untuk pasar luar negeri.

    • Jika tidak ada alternatif (sumber daya) yang bisa diperoleh dari negara tetangga, Inggris harus menarik keuntungan lebih dari ekspor.

    • Pengelolaan lahan-lahan kosong untuk produksi yang lebih tinggi dan mengurangi kebutuhan impor dari luar negeri.

    • Pengiriman (barang) harus sepenuhnya melalui jalur-jalur yang dikuasai oleh Inggris.

  2. Josiah Child (1630/1631 – 1699) adalah pemikir ekonomi Inggris yang melihat pentingnya peran negara untuk menurunkan tingkat suku bunga untuk perkembangan perdagangan. Sebelumnya, tingkat suku bunga kelihatannya tidak diatur secara ketat oleh negara sehingga berlangsung “suka-suka” dan menyebabkan maraknya praktik riba. Selain itu, Child menekankan untuk tidak hanya menjual barang pada negara lain, tetapi juga membelinya dari mereka sebagai bagian dari keseimbangan dalam perdagangan (balance of trade).

  3. Jean-Baptiste Colbert (1619 – 1683) adalah ekonom Prancis sekaligus penasehat raja Louis XIV. Colbert melihat pentingnya peran negara dalam mengendalikan ekonomi dengan salah satunya mengawasi secara ketat produksi barang-barang lokal agar memiliki daya saing dengan produk-produk dari negara lain. Colbert bahkan membolehkan impor tenaga kerja asing untuk meningkatkan kualitas produk lokal ini. Tidak hanya itu, Colbert juga menyarankan pembangunan angkatan laut yang kuat untuk meluaskan ekspansi, terutama dalam hal mendukung ekspor produk lokal tadi. Selain itu, negara sebaiknya memberlakukan aturan ketat dalam impor lewat kebijakan tarif dan kuota untuk mempertahankan produk lokal.


Menakar Kepentingan Diri dalam Merkantilisme

Merkantilisme membawa kita pada sejumlah pertimbangan tentang kepentingan diri yaitu sebagai berikut:

  1. Merkantilisme mengacu pada prinsip zero-sum game atau jumlah kemenangan dari satu pihak adalah persis total jumlah kekalahan pihak yang lain. Hal ini ditegaskan oleh esais abad ke-16, Michel de Montaigne yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang mendapatkan untung kecuali dari kerugian orang lainnya. Ludwig von Mises kemudian mengritik prinsip seperti itu sebagai paradigma yang tidak sesuai dengan paradigma ekonomi yang kooperatif dan malah menimbulkan disintegrasi sosial.

  2. Merkantilisme bisa ditarik dari prinsip realisme dalam hubungan internasional yang menganggap bahwa negara adalah perwujudan dari natur manusia yang dalam versi Thomas Hobbes senantiasa merasa terancam dan maka itu saling memangsa satu sama lainnya. Perimbangan kekuatan (balance of power) justru terjadi secara tidak sengaja sebagai implikasi dari kompetisi antar negara yang terus menerus (bukan karena diatur oleh suatu prinsip ideal).

  3. Merkantilisme dapat disebut juga sebagai perwujudan dari konsekuensilisme negara (state consequentilism) atau konsekuensilisme mohis yang awalnya dipikirkan oleh filsuf Tiongkok, Mohi, dengan prinsip bahwa segala sesuatunya perlu dilakukan untuk kepentingan negara baik itu soal tatanan, kekayaan material, dan peningkatan populasi.

  4. Para pemikir di era merkantilisme menjadikan pemikirannya sebagai justifikasi bagi pertumbuhan politik dan ekonomi negerinya sendiri. John Locke misalnya, meski merumuskan gagasan tentang keadaan alamiah manusia yang bebas dan setara, tetap tidak bisa menjawab persoalan terkait perbudakan secara memuaskan. Menurut Locke, perbudakan adalah hasil dari perang yang adil, dan para budak menyerahkan kebebasannya pada negara kolonial. Hal ini kian menunjukkan kemungkinan bahwa jalan pikir filsuf selalu bertalian dengan kondisi historisnya dan tidak bisa dilepaskan dari suatu kepentingan politis ataupun ekonomi.


Daftar Referensi

Brezis, Elise S. 2003. “Mercantilism”, The Oxford Encyclopedia of Economic History. Oxford: Oxford University Press.
Heckscher, Eli F. 2007. Mercantilism. New York: Routledge.
https://mises.org/library/mercantilism-lesson-our-times



 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...