Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Mengajar Filsafat untuk Anak

MENGAJAR FILSAFAT UNTUK ANAK

Kurang dari setahun lalu, saya bertemu secara virtual dengan Aurea Rahel dari Omah Sindo, semacam komunitas homeschooler. Setelah sepakat mengadakan kelas filsafat pendidikan yang ditujukan terutama untuk orangtua dari para homeschooler dan berjalan selama delapan pertemuan, kami kemudian membicarakan rencana berikutnya untuk menggelar kelas filsafat bagi anak. Seperti apa itu kelas filsafat bagi anak?

Jujur, saya tidak tahu, dan sama sekali tidak terbayang. Selama mengajar filsafat, murid-murid saya pada umumnya adalah mahasiswa. Kalaupun ada yang di bawah itu, paling muda adalah seumuran SMA. Sementara definisi anak yang ingin disasar Mbak Rahel adalah hingga sepuluh tahun! Pertanyaan besarnya adalah apakah mereka bisa belajar filsafat? Bukankah ini adalah pelajaran "rumit" yang berbahaya bahkan bagi orang dewasa sekalipun? Jika di pendidikan formal di Indonesia, bahkan filsafat ini bisa jadi baru diajarkan di program pascasarjana, saat orang-orang dianggap sudah punya kematangan berpikir untuk memikirkan sesuatu secara lebih mendalam.

Hampir tanpa referensi, kami nekad untuk memulai kelas bernama PhiloKids yang ditujukan untuk anak usia 10 - 15 tahun. Apa yang dibicarakan di kelas itu? Ya, akhirnya kami mencoba untuk memulainya dengan cabang-cabang filsafat yang terdiri dari metafisika, epistemologi, etika, logika, estetika, dan filsafat manusia. Untuk tidak membuat anak-anak ketakutan dengan istilah-istilah tersebut, akhirnya kami mengganti judulnya jadi seperti ini: "Dari mana asal usul segala sesuatu?" (metafisika), "Bagaimana kita bisa tahu sesuatu?" (epistemologi), "Mana yang baik dan mana yang buruk?" (etika), "Bagaimana cara berpikir yang benar?" (logika), "Apa itu keindahan?" (estetika), dan "Apakah manusia?" (filsafat manusia).

Awalnya, tentu saja, kami canggung sekali membicarakan filsafat di depan anak-anak. Peserta waktu itu ada sekitar dua belas anak dan kekhawatiran saya adalah pertama, takut anak-anak itu tidak paham dan yang kedua, takut apa yang dibicarakan kemudian menjadi terlalu sensitif, membuat orangtuanya menjadi kurang nyaman. Sebut saja, mempertanyakan eksistensi Tuhan (hal yang sebenarnya asyik sekali jika berhadapan dengan mahasiswa).

Pertemuan pertama, kami masih membawakan kelas dengan cara yang sama dengan membawakannya di hadapan orang dewasa pada umumnya, yaitu membagi kelas menjadi dua sesi yaitu pemaparan dan diskusi. Alhasil, sedikit sekali yang berminat untuk mengajukan pertanyaan atau komentar. Setelah itu kami melakukan evaluasi: apakah tidak lebih baik jika anak-anak boleh menginterupsi di tengah pemaparan? Materi presentasi untuk pertemuan kedua akhirnya kami rombak. Isinya lebih banyak rangsangan berupa pertanyaan daripada pemaparan.

Betul, ternyata format demikian lebih mengundang interaksi. Misalnya, di kelas epistemologi, alih-alih memaparkan tentang apa itu pengetahuan, kami lebih berusaha merangsang mereka dengan pertanyaan: "Apakah warna hijau yang kita lihat pada daun, berasal dari daun itu sendiri, atau hanya ada dalam pikiran kita?", "Apakah 1 + 1 = 2 hanya berlaku di lingkungan kita atau pasti berlaku juga di negara-negara lain?", dan lainnya. Anak-anak itu ramai menjawab dan pendapatnya sering tidak disangka-sangka (hal yang sukar muncul dari jawaban orang dewasa).

Kami kemudian menggunakan format yang sama untuk kelas-kelas selanjutnya dengan memperbanyak pertanyaan ketimbang paparan. Oh ya, hal lain yang menurut kami penting dalam mengajar filsafat untuk anak-anak ini adalah penghilangan dua hal yang sebenarnya krusial bagi dunia filsafat "orang dewasa" yaitu istilah-istilah keren dan nama-nama filsuf. Iya, kami berusaha untuk tidak memakai istilah teknis khas filsafat seperti fenomena, kognisi, aprehensi, aposteriori, antroposentrisme, dan sebagainya. Kami juga tidak menyebut satupun nama filsuf seperti Thales, Aristoteles, Descartes, Kant, Mill, dan nama-nama lainnya. Intinya, kami ingin fokus pada kegiatan berfilsafat itu sendiri. Selain itu, kami juga tidak menghakimi apapun jawaban si anak. Semuanya dianggap bernilai dan layak dibahas.

Akhirnya PhiloKids berjalan dengan cukup lancar dan bahkan sudah melewati batch yang kedua. Bisa dibilang program ini mulai menarik perhatian, ditunjukkan dengan hadirnya sejumlah orang-orang non-peserta untuk sekadar menjadi pengamat, dari mulai para pengajar TK, mahasiswa dan dosen filsafat, hingga awak media.

Saat kegiatan kelas kami dimuat di sebuah media, saya dengan bangga menunjukkannya pada Ibu Karlina Supelli, dosen saya di STF Driyarkara. Komentar beliau singkat, tapi bikin hati saya bergetar: "Wah, bagus sekali, untuk cucu-cucu saya."

filsafat untuk anak

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...