Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Uang

Cita-cita punya banyak uang bukanlah hal yang aneh dan bahkan sudah menjadi motif tertinggi dalam hidup. Orang yang tidak ingin banyak uang kemudian dianggap aneh. Di sisi lain, ada juga ajaran asketik yang melihat uang sebagai sumber segala persoalan. Penolakan terhadap uang menjadi ekstrem dan bahkan kepemilikannya secara berlebihan dipandang sebagai dosa atau malapetaka. Menariknya, Georg Simmel, penulis Philosophy of Money melihat bahwa asketisisme soal uang lahir dari fenomena keberadaan uang itu sendiri. Artinya, tanpa adanya uang, tidak akan ada orang yang begitu serius mempertahankan diri dari godaan uang.

Lalu, kenapa uang begitu dikejar sekaligus ditolak? Apa yang sebenarnya dikejar atau ditolak dari sekadar kertas bergambar atau kepingan logam? Bayangkan kita membawa uang kertas satu milyar dalam sebuah kantong lalu terdampar di pulau terpencil yang kita tidak tahu negara mana yang berdaulat atas pulau tersebut. Terdapat ratusan penghuni asli pulau tetapi mereka hanya mengenal transaksi dengan menggunakan barter. Berhargakah uang satu milyar yang kita punya? Bisa jadi tidak sama sekali. Bahkan akan lebih berguna jika kantong uang dijadikan tempat tidur atau digunakan untuk mengelap keringat. Urusan menjadi agak lain jika yang kita bawa adalah uang logam emas atau perak dalam sebuah peti. Mungkin uang tersebut berharga jika penduduk setempat juga menganggap logam mulia sebagai benda berharga. Namun uang kertas hampir pasti tidak berarti apa-apa (kecuali penduduk setempat punya perlakuan tinggi terhadap kertas). 

Uang dibuat sesederhana karena alasan bahwa sistem barter tidak selalu berhasil dalam menakar transaksi yang adil. Saya ingin apelmu, tapi saya hanya punya bawang untuk mendapatkan apelmu. Kalau kamu merasa bawang ini layak untuk ditukar dengan apelmu, maka lakukanlah. Namun bagaimana jika tidak? Disinilah uang berperan, supaya apelmu aku tukar dengan uang, dan kamu bebas menggunakan uang tersebut untuk hal lain selain bawang yang aku tawarkan. Namun untuk sesuatu itu dikatakan sebagai uang tentu tidak sesederhana memungut suatu benda dan menyebutnya sebagai uang. Harus terjadi sebuah kesepakatan bahwa sesuatu dapat disebut uang dan sah difungsikan sebagai alat tukar. 

Kesepakatan saja pun belumlah cukup. Sesuatu bisa menjadi uang jika berasal dari benda yang dipandang cukup berharga dalam masyarakat itu. Sebagai contoh, masyarakat di pantai agak sukar menjadikan kerang sebagai uang. Mengapa? Karena kerang mudah ditemukan di pantai. Dengan demikian nilainya menjadi kurang berharga. Beda halnya jika kerang tersebut digunakan sebagai alat tukar bagi masyarakat di pegunungan, tentu menjadi lebih bisa dipahami. 

Itulah juga yang kemudian menjadi alasan mengapa logam mulia lebih mudah disahkan sebagai uang. Logam mulia, selain cenderung sukar didapat, juga lebih tahan lama. Masyarakat di pegunungan mungkin sukar mendapatkan kerang, tetapi kerang cenderung mudah rusak ketimbang logam mulia. Sementara uang, karena harus bisa disimpan untuk sementara waktu, tidak bisa berasal dari suatu benda yang mudah rusak. Betul, itulah sifat uang yang penting. Berbeda dengan menumpuk bahan makanan yang akan basi, menumpuk uang tidak akan "basi". Juga uang harus bisa disimpan karena meskipun saya baru saja menukar apelku dengan uang, saya tidak perlu menukarkan uang tersebut dengan segera karena katakanlah, saya sedang tidak benar-benar membutuhkan apapun untuk mengganti si apel yang telah pergi. 

Uang semakin kuat untuk disimpan karena dijamin oleh otoritas. Kita bisa kembali pada kasus pulau di atas. Uang tidak berharga di pulau terpencil tersebut karena tiada otoritas yang mampu menjaminnya. Dengan demikian kita bisa sekaligus membayangkan jika negara Indonesia bubar besok, maka seluruh uang yang kita punya menjadi tak berharga. 

Kita kembali pada pertanyaan awal tentang mengapa uang bisa demikian dikejar sekaligus ditolak. Seperti dijabarkan, uang bisa disimpan, uang bisa digunakan untuk apa saja selain harus mengambil "bawangmu", dan uang dijamin oleh otoritas yang tidak terbayang bubar setidaknya dalam 100 tahun mendatang. Tidak salah jika uang kemudian menjadi ekuivalen dengan "keabadian" (bisa disimpan), "kebebasan" (bisa digunakan untuk apa saja), dan "kekuatan" (dijamin oleh otoritas). Padahal semuanya bermula dari suatu benda yang dimaknai oleh masyarakat itu sendiri. 

Dengan demikian, menjadi tidak sukar bagi kita untuk memahami adanya asketisisme terhadap uang. Penolakan terjadi karena berpandangan bahwa konsep "keabadian", "kebebasan", dan "kekuatan" semestinya tidak muncul dari suatu berhala yang "diciptakan" oleh manusia itu sendiri. Selain itu, asketisisme terhadap uang juga bisa jadi meneruskan pandangan bahwa konsep "keabadian", "kebebasan", dan "kekuatan" itu ujung-ujungnya hanya menjadi validasi terhadap rasa cinta diri. Demikianlah soal uang.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...