Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kenyataannya, Hidup Kita Memerlukan Spoiler


Belakangan tengah marak status, cuitan, ataupun meme tentang hujatan bagi mereka yang melakukan spoiler. Apa itu spoiler? Spoiler adalah kegiatan menceritakan atau membocorkan sesuatu dalam cerita atau tontonan, sehingga orang yang belum melihatnya menjadi mengetahui sebuah plot atau alur. 

Kegiatan spoiler dianggap menyebalkan karena bagi mereka yang belum menyaksikannya, spoiler merusak imajinasi dan hasrat untuk menyaksikan keseluruhan pertunjukkan beserta elemen-elemen kejutannya. Rasa tidak tahu dan kemudian menemukan sendiri adalah gairah yang mungkin diidam-idamkan bagi mereka penyaksi tontonan sejati. 

Bertepatan dengan rilis film baru tahun 2019, Avengers: End Game, hukuman sosial terhadap para pelaku spoiler ini kian diangkat, terutama di kalangan warganet. Hukuman tersebut tidak hanya dalam bentuk celaan singkat, tapi juga ada argumentasi yang panjang dan serius, tentang betapa para pelaku spoiler telah menyia-nyiakan uang, waktu, dan tenaga yang disisihkan oleh publik agar bisa menyaksikan film kesayangannya. Ada juga aksi unfriend dan unfollow dari warganet yang merasa dirugikan oleh kelakuan para spoiler – tidak peduli apakah para pelaku spoiler tersebut ternyata merupakan kawan baiknya sendiri di dunia nyata -. 

Fenomena apa ini? Mengapa para pelaku spoiler tetiba diperlakukan sebagai “penjahat budaya pop”, semacam manusia bermoral rendah yang tidak punya empati terhadap publik yang tergila-gila akan hiburan beserta elemen kejutannya. Bahkan ada kredo baru yang berbau etis, bahwa mereka yang tidak melakukan spoiler, artinya bisa menahan hawa nafsunya. Mulai ada dikotomi baik – buruk dalam persoalan spoiler ini, dan arah argumentasinya tampak kian spiritual. 

Sukar sekali untuk melacak awal mula budaya anti-spoiler dalam budaya pop. Mungkin itu tumbuh organik saja di tengah masyarakat penyembah budaya pop, atau sebaliknya, ditanamkan dari pihak pemodal semata-mata agar semakin banyak orang datang ke bioskop, karena ingin menyaksikan pertunjukkan secara utuh tanpa ada pengetahuan sebelumnya. 

Namun himbauan anti-spoiler yang kita bisa ingat ada pada film yang dirilis lebih dari sepuluh tahun lalu, judulnya Sixth Sense. Dalam pengumuman pemutaran film tersebut di koran, ada tulisan seperti ini: Jangan bocorkan ending film ini pada siapapun! Tidakkah hal demikian menimbulkan kepenasaranan? Tentu saja, dalam konteks tulisan semacam itu, sangat bertalian aspek himbauan anti-spoiler dengan kalimat promosi. 

Situasi euforia budaya pop kontemporer rupanya agak lain. Himbauan anti-spoiler itu tidak dalam bentuk kalimat sebaris seperti yang ada pada Sixth Sense, melainkan ditanamkan sedemikian rupa agar seolah-olah membudaya. Seolah-olah benar bahwa penyebar spoiler sudah semestinya dikucilkan dari masyarakat karena tidak berbudaya, tidak mampu menahan hawa nafsu, dan punya selera humor yang tidak hanya rendah, tapi menjijikkan. 

Padahal budaya anti-spoiler sangat bertentangan dengan realitas keseharian manusia itu sendiri. Maksudnya, manusia, pada dasarnya, justru menantikan sejumlah spoiler untuk memberi petunjuk bagi langkah hidupnya ke depan. 

Hingga hari ini, kelindan antara “hidup yang misterius” dan “hidup yang terpampang jelas” terus menjadi gejolak yang tidak ada habisnya. Di sisi lain, manusia menjalani hidupnya karena mengharapkan kejutan demi kejutan, tapi di sisi lain, kejutan itu kadang terlalu menakutkan sehingga lebih memilih untuk hidup dalam keamanan dan kenyamanan, dengan sebuah visi ke depan yang terang benderang. 

Kita suka spoiler dalam hidup, semacam bocoran-bocoran kecil mengenai alur perjalanan kita ke depan. Maka itu, meski dianggap purba dan irasional, tapi masih banyak orang mengintip astrologi, percaya pada tarot, bermain judi dengan petunjuk-petunjuk mistis, dan lain sebagainya. Versi modern dan rasionalnya juga ada: Kita mengikuti psikotes minat dan bakat, bertanya nasihat pada teman atau orangtua, berjuang demi dana pensiun, hingga mengasuransikan hidup kita hingga dua puluh tahun ke depan. 

Bahkan pada titik ekstrem, kita memeluk agama dan membaca kitab suci, sebagai spoiler terhadap nasib kita setelah mati, beserta hal misterius lain yang sukar dijelaskan. 

Apakah kegiatan mencari spoiler di atas bisa disamakan dengan fenomena Avengers: End Game

Tentu saja, bisa jadi, terlalu jauh, dan terlalu sembrono. Avengers ya Avengers, tidak perlu dikait-kaitkan dengan kedalaman hidup yang super serius. Karena memang, budaya pop seringkali tidak punya kaitan dialektika-materialistik dengan dunia kehidupan nyata. 

Budaya pop adalah budaya pop dengan segala euforia dan irasionalitasnya, yang justru menjadi semacam pelarian dari kehidupan nyata. Dalam dunia yang lahir dari budaya pop, kita bebas menentukan penjahat kita sendiri. Tidak perlu jauh-jauh mencari penjahat yang melanggar undang-undang negara, tapi cukup penjahat yang merusak kenyamanan publik, yang dalam hal ini adalah pelaku spoiler

Seorang kawan pernah mengatakan: Kita mencintai budaya pop, karena ada aspek “ketegangan yang terukur”. Budaya pop asyik, karena kita menikmati ketakutan, kengerian, kegilaan, tanpa harus khawatir akan hal paling mencemaskan umat manusia: kematian. Pada tegangan-tegangan itu, manusia merasa bisa bergerak bebas, menciptakan nilai yang berbeda sama sekali dengan kehidupan yang sebenarnya. 

Dalam budaya pop, bebas saja menghujat pelaku spoiler, tapi dalam kehidupan sebenarnya, bisakah kita hidup tanpa pelaku spoiler

 

Ini adalah tulisan yang pernah dimuat di website voxpop.id. Sayangnya, website tersebut sekarang tidak aktif sehingga artikel-artikel di dalamnya tidak dapat diakses. Artikel yang diposting di blog ini adalah versi tulisan yang belum disunting oleh pihak voxpop.id. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...