Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Palestina


7 Oktober kemarin, Hamas menyerang Israel. Dunia sempat kaget dan mengecam aksi tersebut sebagai aksi terorisme. Seperti yang selalu terjadi dalam sejarah, Israel melakukan serangan balasan ke wilayah Gaza sebagai daerah yang dikuasai Hamas. Serangan tersebut dilakukan bertubi-tubi, menimbulkan ribuan korban sipil termasuk anak-anak. Jujur, sebelum-sebelumnya, saya tidak pernah punya perhatian terhadap krisis di Palestina. Mungkin tahu sejarahnya sedikit, tetapi tidak pernah sampai menyuarakan dukungan tertentu. Bahkan saya pernah agak nyinyir pada orang-orang yang mengajak boikot produk-produk Yahudi. Saya pikir, mereka tidak mungkin memboikot produk Yahudi sepenuhnya karena minimal mereka menggunakan media sosial untuk menyuarakan ajakan boikot tersebut. 

Namun pandangan saya dalam konflik terbaru ini berubah total. Bacaan dan renungan tentang filsafat yang makin intens justru membentuk keberpihakan yang tegas pada Palestina: bahwa tidak boleh ada pihak sok kuasa yang menindas pihak lainnya. Terlebih lagi, pemandangan genosida itu telanjang di hadapan mata, melalui video-video yang berseliweran di linimasa X. Terhadap hal yang begitu jelas, filsafat justru mendapat tantangan: bisakah daya pertimbangan yang dibangga-banggakan itu, disimpan dulu demi keberpihakan yang tidak memerlukan pemikiran rasional yang bertele-tele? Bisakah filsafat langsung saja menyatakan: ya, bahwa yang benar adalah menolak genosida, bahwa yang benar adalah mendukung kemerdekaan Palestina. Adapun kemampuan filsafat dalam berargumen, supaya langsung saja diarahkan pada dukungan terhadap "kebenaran intuitif" itu. 

Kemudian pandangan saya terkait boikot pun berubah total. Dulu saya pikir boikot itu kegiatan kecil yang sia-sia. Namun saat ini saya mencoba menyelidiki lebih jauh, darimana muncul pandangan bahwa "boikot adalah kegiatan kecil yang sia-sia"? Bagaimana jika kerja-kerja kuasa dalam bentuk hegemoni dan biopolitik itulah yang membuat saya merasa bahwa beli McD, Starbaks, dan produk-produk Yahudi lainnya, tidak lebih dari sekadar kegiatan konsumsi biasa? Bagaimana jika politik telah bersalin rupa menjadi kegiatan "ekonomi sehari-hari" sehingga kita selalu gagal melihat kerja power di balik kegiatan-kegiatan yang "normal"? 

Disitulah pandangan saya berubah. Boikot itu penting, sebagai perwujudan sikap kita yang enggan tunduk pada kuasa di balik keseharian. Kenyataannya, setiap hari kita berpolitik dalam artian, apa yang kita beli, apa yang kita makan, apa yang kita posting di media sosial, semuanya telah menjadi kegiatan yang saling terhubung. Terhadap produk yang kita beli dan kita makan, bisa jadi di baliknya ada orang-orang yang meraup keuntungan besar, dan orang tersebut memiliki pandangan politik tertentu. Jika pandangan politik tersebut katakanlah, berpihak pada zionis, maka bukan tidak mungkin uangnya digunakan untuk mendukung zionis dengan cara apapun itu. Saat kita posting-posting di media sosial, data-data kita diambil, menjadi acuan untuk micro-targetting demi iklan-iklan yang sekali lagi, pemiliknya kemungkinan punya pandangan politik tertentu. 

Konflik Gaza adalah tantangan bagi pemahaman filsafat saya selama ini. Apa yang telah saya baca dan amalkan, mesti berhadapan dengan kenyataan telanjang bahwa tengah terjadi pembantaian dan saya tak bisa melakukan apapun kecuali berwacana. Namun berwacana bukanlah kegiatan sia-sia. Berwacana adalah usaha melakukan persuasi terhadap sejarah. Bangsa Palestina mungkin menderita hari ini, tetapi kelak akan menang dalam sejarah, sebagaimana Israel mati-matian membumihanguskan Gaza, dalam upayanya memposisikan diri dalam sejarah peradaban. Israel bisa saja digdaya saat sekarang, tapi jika Sejarah membencinya, upaya mereka untuk eksis malah semakin panjang dan berliku.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...