Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Sistem


Entah berapa tahun silam, saya pernah ngobrol dengan teman saya, lulusan psikologi, yang memutuskan untuk bekerja sebagai Satpol PP. Tanpa saya menanyakan, ia langsung merasa harus menjelaskan pilihannya tersebut, "Saya melamar pada pekerjaan ini supaya jatah orang yang tadinya kurang kompeten, diberikan pada saya, lulusan S1 yang mungkin lebih kompeten." Maklum, imej Satpol PP selama ini, sependek yang saya tahu, lekat dengan penertiban yang tidak jarang berujung pada kekerasan. Wajah Satpol PP adalah wajah yang ditakuti oleh para pedagang dan pencari nafkah yang melapak di tempat yang katanya tidak boleh. Satpol PP akan mengejar mereka yang nakal, mengangkut gerobak dagangannya, dan memastikan lokasi itu tetap steril. Cita-cita teman saya ini mungkin mulia, supaya Satpol PP lebih baik, lebih lunak, lebih "beradab", lewat pengaruh ilmu psikologi dari seorang lulusan yang rajin. 

Saya tidak punya penelitian atau pengamatan serius tentang Satpol PP. Saya juga tidak bertanya kabar lagi dengan teman saya itu. Tapi katakanlah saya menyimpulkan seperti ini: bahwa tidak ada perubahan serius yang terjadi pada Satpol PP, meski teman saya berada di dalamnya. Teman saya itu memang, setahu saya, "bukan siapa-siapa" di institusi tersebut. Mungkin ia setingkat lebih tinggi dari staf biasa, tetapi tidak dapat juga dikatakan "atasan". Meski ia "mengambil jatah" dari orang yang katanya tidak kompeten, itu tidak berarti bahwa ia sendiri bisa merombak sistem dalam Satpol PP. Masalahnya adalah teman saya itu berada pada sebuah sistem, sistem yang dibuat sedemikian rupa supaya individu tidak sedemikian menonjol kecuali terkait kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan oleh sistem tersebut. 

Sebagai contoh, seseorang melamar menjadi pelayan di restoran. Ia sebenarnya bisa musik, suka sastra, dan jago sepakbola. Namun kemampuan-kemampuannya yang terakhir ini tidak akan dipandang karena yang diperlukan adalah kecekatannya sebagai pelayan, kemampuannya dalam beramah tamah, dan sebagainya. Mungkin kemampuan musiknya akan menopang ia dalam hal tertentu, misalnya, membuat dirinya lebih santai dalam melayani karena selalu sambil menikmati musik di sekitarnya. Selain itu, ia juga dapat memberi masukan terkait musik yang diputar. Sepakbolanya mungkin penting, tetapi lebih pada urusan menjaga fisiknya saat menjadi pelayan. Intinya, bakat dan kemampuan seseorang menjadi diperlukan selama ada hubungannya dengan sistem, supaya menunjang sistem. 

Teman saya itu punya keilmuan psikologi. Saya yakin ilmunya ini digunakan, tetapi untuk kepentingan sistem, untuk membenarkan sistem. Mungkin ia diajak rapat, diminta pertimbangan keilmuannya untuk misalnya, membuat orang-orang yang digusur ini langsung merasa terintimidasi dan pergi sendiri sebelum diusir oleh para petugas. Saya agak ragu jika ilmu psikologinya tersebut digunakan untuk misalnya, melunakkan hati atasannya sendiri supaya tindakan gusur menggusur tidak perlu dilakukan, dan yang lebih ditekankan adalah dialog untuk mencari solusi bersama. Mengapa? Sederhana saja: atasannya tersebut lebih berkuasa, dan ia adalah orang yang menggaji teman saya itu. Mungkin setiap teman saya hendak melontarkan kritik tajam atau berusaha melakukan perombakan, sistem selalu mengingatkan: dia di sini karena butuh uang, bukan untuk bertindak macam-macam mengubah apa yang telah mapan. 

Pada akhirnya, yang terjadi adalah "selemah-lemahnya iman": yang penting sudah berusaha, yang penting sudah sempat mengingatkan, yang penting tetap berkarya sebisa-bisa. Hal yang lebih bahaya, ia jatuh ke dalam ilusi bahwa ia benar-benar telah berkarya, benar-benar telah berguna, padahal apa yang telah dihasilkannya sudah direduksi untuk kebaikan sistem. Ini adalah gelembung yang mengkhawatirkan: ia yang berada di dalam sistem merasa sudah berbuat yang terbaik untuk orang luar (melalui sistem tersebut), tapi bisa jadi orang yang berada di luar, melihat ia tidak berbuat apa-apa (di dalam gelembung sistem tersebut). 

Namun saya juga tidak menampik bahwa orang-di-dalam-sistem tidak melulu tak berdaya. Ia bisa melakukan persuasi, memberikan usulan dengan hati-hati, atau bekerja keras supaya jadi atasan dan merombak semuanya. Dalam hal tertentu, perbaikan itu mungkin. Namun pasti akan sangat terjal jalannya karena suatu sistem, biasanya juga terhubung dengan sistem lain yang lebih besar. Usaha-usaha perombakan adalah usaha-usaha super heroik yang mengandalkan keimanan Kantian untuk taat pada prinsip yang dianggapnya benar (yang ia yakini juga benar secara universal). Orang-orang dengan mental semacam itu kemungkinan besar dijegal sejak awal. Jadi, apakah kita harus selalu berharap agar ada individu yang maha-Kantian untuk bisa mengubah sistem, atau bersikap selamanya membenci sistem, dan menganggap sistem adalah produk gagal umat manusia yang bertentangan dengan usaha mengawetkan keunikan individu?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...