Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Surat dari Surakarta (Bagian Dua): Ketika Berjalan di Trotoar Tidak Lagi untuk Melihat Merk Dagang

9 Agustus 2018

Setidaknya di Bandung, tempat saya tinggal, berjalan di trotoar adalah hal yang sangat asing. Pertama, trotoar seringkali kurang nyaman bagi pejalan kaki, oleh sebab kurang luas dan banyak diserobot oleh pedagang kaki lima (meski hal-hal demikian sudah banyak diperbaiki di masa pemerintahan Ridwan Kamil). Kedua, berjalan di trotoar adalah identik juga dengan menyempitkan pandangan kita, hanya pada toko-toko dan merk dagang yang ada di sisi jalan. Dalam arti kata lain, memilih jalur trotoar berarti juga siap dibujuk secara halus untuk membeli dan membeli. 

Namun trotoar di Surakarta kala soft opening International Gamelan Festival (IGF) 2018 kemarin, membuat saya merasa sedih dengan keadaan di Bandung. Pada acara yang dimulai sekitar jam setengah empat tersebut, tidak ada toko (yang buka) dan merk dagang (yang terpampang terang-terangan) di sepanjang trotoar di Jalan Slamet Riyadi, karena “disingkirkan” oleh 73 set gamelan. 

Foto oleh Riedo Andi Kurniawan

Setelah pembukaan melalui seremoni singkat di Taman Sriwedari oleh Walikota Surakarta, Pak F.X. Hadi Rudyatmo bersama Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Pak Hilmar Farid, mulailah satu per satu gamelan dibunyikan. Para penonton langsung berjalan mengikuti sumber bunyi, dan menemukan berbagai macam kelompok gamelan dari anak-anak sekolah hingga berbagai komunitas. Kelompok yang banyak itu bukannya tanpa koordinasi. Mereka didirijeni oleh para panitia yang rata-rata merupakan mahasiswa seni dari ISI - Surakarta. Pendirijenan tersebut dilakukan salah satunya demi menjaga agar suara satu kelompok tetap harmonis atau tidak menabrak dengan kelompok lainnya - yang secara jarak cukup dekat -. 

Jalan Slamet Riyadi bukanlah jalan yang dapat dikatakan pendek. Lebih dari satu kilometer saya susuri untuk menyaksikan seluruh kelompok gamelan yang bermain di trotoar. Semakin lama, didasari oleh ketertarikan, warga kian merapat sehingga menciptakan kerumunan yang membuat saya susah mendapatkan ruang gerak dalam berjalan kaki. Namun sekali lagi, berjalan jauh dan berdesakan tidak terlalu menjadi soal, ketika trotoar kali ini tidak sedang untuk menjajakan merk dagang, melainkan menampilkan nilai-nilai luhur dari kesenian. 

Apa yang ditampilkan pada soft opening IGF 2018, kemungkinan mengacu pada konsep meleburnya jarak antara pemain dan apresiator. Para pemain duduk di trotoar dan para apresiator bisa siapa saja, tidak selalu orang-orang yang awalnya punya intensi untuk menyaksikan pertunjukkan. Konsep semacam ini menempatkan seni sebagai sesuatu yang inklusif dan mau turun dari menara gading untuk bersentuhan dengan masyarakat. 

Foto oleh Riedo Andi Kurniawan

Penampilan semacam ini bukannya tanpa risiko. Apa yang ditampilkan secara tiba-tiba di ruang publik (kesenian apapun, tidak hanya gamelan, tapi bisa juga musik jazz atau musik klasik, misalnya), harus berhadapan dengan reaksi yang beragam. Tidak menjadi masalah jika reaksi tersebut berupa atensi yang positif. Namun bisa juga terjadi ketika penampilan yang mengejutkan semacam itu, malah ditanggapi secara dingin dan malah sinis. Bisa disebabkan oleh kepentingannya yang terganggu (jalan menjadi macet, trotoar menjadi sempit), atau sesederhana memang tidak suka terhadap musiknya. 

Namun upaya flash mob (penampilan kejutan di tengah kerumunan) tetap merupakan satu percobaan yang berani, terutama dalam konteks kesenian. Kendatipun upaya tersebut menemui caci maki, misalnya, tetap saja publik menjadi mengenalnya. Bukan tidak mungkin, lama-lama orang-orang menjadi terbiasa, dan pelan-pelan mulai menyukai. 

Penampilan 73 kelompok gamelan tersebut berlangsung selama kurang lebih satu jam. Pada jam lima, bebunyian mulai surut. Penonton pun berangsur-angsur mulai mengurai diri dari kerumunan. Tidak semua penonton ini segera pulang ke tempatnya masing-masing. Mereka bisa jadi bersiap, untuk pembukaan akbar (grand opening) di Benteng Vastenburg, malam harinya. 

Sementara itu, romantisme saya akan selalu tinggal, tentang bagaimana trotoar, untuk sekejap saja, tidak bermuatan merk dagang.

Foto oleh Riedo Andi Kurniawan

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...