Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Anies Baswedan dan Akechi Mitsuhide


 
Masa kepemimpinan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta memang baru sebentar. Namun kritik tajam yang dialamatkan tidak kunjung berhenti. Anies seperti bingung bagaimana cara memimpin Jakarta, terlebih lagi dibayang-bayangi oleh pemerintahan sebelumnya yang cukup keras, tegas, dan memberikan sejumlah perubahan signifikan. Kebingungan Anies memang sedikit banyak sudah diprediksi dari sebelum naik jabatan. Anies, tanpa punya latar belakang birokrasi yang cukup, tiba-tiba mencalonkan diri menjadi gubernur setelah sebelumnya lebih dikenal berkecimpung di dunia pendidikan. Naiknya Anies juga ditandai oleh sejumlah isu intoleran yang menyerang calon gubernur incumbent, Ahok. Ahok - yang berlatarbelakang Tionghoa dan Kristen -, diserang habis-habisan lewat mobilisasi massa besar-besaran yang lebih terlihat sebagai sebuah aksi politik daripada agama. 

Detail kejadian itu, kita semua sudah tahu. Tidak perlu dipaparkan lebih lanjut. Hanya saja telikung politik semacam ini sebenarnya sangat klasik. Begitu klasiknya hingga saya ingat sebuah bab dalam buku Taiko karya Eiji Yoshikawa yang berjudul Lima Puluh Tahun di Bawah Langit. Novel sejarah yang bercerita tentang Jepang di abad ke-16 ini, salah satunya mengisahkan tentang sosok Oda Nobunaga, daimyo (pemimpin samurai) yang masa itu sangat berkuasa - dikenal dengan karakternya yang tegas sekaligus brutal -. Kematian Nobunaga dapat dikatakan tragis: Ia dikhianati oleh salah seorang anak buah terbaiknya, Akechi Mitsuhide, yang sebelumnya ia andalkan sebagai sosok yang cerdas dan penuh perhitungan. 

Mengapa Mitsuhide membelot? Ada banyak versi. Namun versi yang paling umum adalah alasan sakit hati. Mitsuhide tersinggung oleh kata-kata Nobunaga dalam suatu peristiwa, hingga merasa suatu hari harus membunuhnya. Tidak sulit bagi Mitsuhide untuk menyerang Nobunaga di pagi hari, ketika majikannya tersebut masih tertidur dan tiada seorangpun pengawalnya yang curiga. Singkat cerita, Mitsuhide bersama pasukannya berhasil membunuh Nobunaga dan membuat Kuil Honno - kediaman Nobunaga - terbakar hebat. Keberhasilan ini membuat Mitsuhide dielu-elukan pasukannya. Mereka meneriakkan nama Mitsuhide sebagai suksesor Nobunaga dalam memimpin negeri. Namun puja puji itu ia tanggapi dengan suara hati yang sangat menyedihkan:

"Apa yang kauinginkan? Berkali-kali Mitsuhide mengulangi pertanyaan itu dalam benaknya. Memimpin negeri! terngiang-ngiang di telinganya, tapi bunyinya sungguh hampa. Ia terpaksa mengakui bahwa ia tak pernah memeluk harapan sedemikian tinggi, karena tidak memiliki ambisi maupun kemampuan untuk itu. Sejak semula ia hanya mempunyai satu tujuan: membunuh Nobunaga. Keinginan Mitsuhide telah terpuaskan oleh kobaran api di Kuil Honno, dan yang tersisa kini hanyalah nafsu tanpa keyakinan."

"... Begitu Nobunaga berubah menjadi abu, kebencian yang membekukan hati Mitsuhide pun larut seperti salju mencair."

Suara hati Mitsuhide mungkin mewakili suara hati Anies (mungkin saja, jika menggali sangat dalam). Ia melakukan telikung politik tidak dalam rangka yakin akan kapabilitas dirinya dalam menjadi gubernur. Motifnya (atau motif partainya) adalah hanya dalam rangka membuat Ahok tidak bisa menang di pemilihan. Saat Ahok tumbang, mungkin ada sebersit nuraninya yang bertanya-tanya: Apakah iya ini keinginan saya? Apakah iya saya pantas menjadi gubernur menggantikan Ahok?  Ada kesamaan cukup penting antara karakter Anies dan Mitsuhide. Keduanya sama-sama orang cakap dan cerdas. Namun itu bukan berarti ia punya karakter memimpin. Terkadang seorang pemimpin bukan perkara ia cakap atau cerdas, tapi juga punya kemampuan mengambil keputusan yang cepat dan tegas. 

Balas dendam dan motif kebencian memang seringkali mengaburkan hubungan antara kompetensi dan posisi. Hal-hal sangat personal semacam ini pada akhirnya dapat merugikan orang banyak.

Comments

  1. Keren gan artikelnya, memang mirip sih ya. cuma bedanya satu lengser satu dibunuh

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...