Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kita dan Ivan Dmitrich


Ivan Dmitrich Gromov adalah salah satu tokoh dalam cerpen Ruang Inap no. 6 yang ditulis oleh Anton Chekhov. Ia adalah orang yang menjadi gila oleh sebab rasa takutnya pada sekeliling. Ivan Dmitrich sesungguhnya mahasiswa yang cerdas dan rajin membaca. Namun sejak keluarganya mengalami keruntuhan ekonomi, kejiwaannya mengalami degradasi sedikit demi sedikit. Ia menjadi takut dijebloskan ke penjara. Ia merasa orang-orang tengah berkomplot untuk menjebloskannya ke penjara. Ketika terjadi peristiwa pembunuhan di kotanya, ia merasa bahwa orang-orang menuduh ia yang menjadi pembunuhnya. Bunyi dering atau denting pintu gerbang membuatnya terperanjat dan berkeringat dingin. Tukang tungku yang rutin memindahkan tungku di dapur ia curigai sebagai polisi yang menyamar sebagai tukang tungku. Ivan Dmitrich tak terhindarkan lagi untuk dijebloskan, bukan ke penjara, melainkan ke tempat perawatan orang-orang sakit jiwa yang dinamakan dengan Ruang Inap no. 6.

Sekilas mungkin kamu setuju bahwa Ivan Dmitrich cocok dimasukkan ke Ruang Inap no. 6 karena ia memang gila. Tapi ada persamaan antara Ivan Dmitrich dengan perilaku kita semua, orang-orang modern. Mungkin kita bisa mengambil contoh dari Pak Awal Uzhara yang ia mengaku sendiri bahwa ia punya perilaku mirip dengan Ivan Dmitrich. Bedanya, Pak Awal, sebagai orang yang baru pulang ke Indonesia setelah tinggal berpuluh tahun di Rusia, merasa bahwa setiap orang adalah intel yang menyamar sebagai orang biasa, dan ingin mendeportasinya kembali ke Rusia. Adakah sifat semacam ini pada diri kita semua?

Dunia modern adalah dunia yang dipenuhi kepastian tapi juga sekaligus sikap-sikap paranoid. Padahal, sikap paranoid normalnya datang dari dunia yang masih diliputi kemistisan dan apa-apa tindakan tergantung dari kemauan alam. Kita pantas untuk takut oleh dunia seperti itu karena apa yang terjadi ke depan begitu sulit diprediksi. Namun anehnya, dunia modern yang lebih presisi justru lebih mampu menciptakan individu-individu semacam Ivan Dmitrich. Kita melihat sedemikian terancamnya kita oleh sebab lampu jalan raya yang durasi warna merahnya terlalu lama, uang gaji yang kurang seribu, persiapan pernikahan, asuransi yang terlambat dibayar, anak yang lahir, hingga orang-orang yang lalu lalang di depan rumah. Kita sering merasa bahwa situasi demikian adalah bagaikan "polisi yang menyamar sebagai tukang tungku".

Kapitalisme, lagi-lagi kapitalisme, dengan cerdik memanfaatkan kecenderungan kita yang seperti Ivan Dmitrich itu. Mereka sadar betul bahwa sikap paranoid ini sedemikian menawan untuk dieksploitasi. Tembok-tembok besar dibangun untuk menjadi pembatas antara manusia satu dengan manusia lainnya sehingga masing-masing individu merasa nyaman dan tidak bertemu "polisi yang menyamar sebagai tukang tungku". Itu mengapa rumah mewah berdinding tinggi yang berada di kompleks dengan penjagaan sana sini lebih mahal harganya daripada rumah di gang-gang yang aksesnya begitu mudah dimasuki dari mana-mana. Itu mengapa mobil travel dengan kursi sedikit mempunyai harga lebih mahal daripada mobil travel yang berjejal-jejalan. Dunia modern tidak melulu soal rasionalitas dan kemajuan teknologi. Kita juga berhadapan dengan situasi dimana orang begitu ketakutan bertemu dengan orang lain. Kita semua sesungguhnya adalah seperti Ivan Dmitrich. Hanya saja kita tidak dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Hanya dibiarkan berkeliaran agar segala ketakutan itu menjadi biasa.

Comments

  1. Akarnya gimana mas bro? Kenapa manusia2 dunia modern tersusun seperti itu?

    ReplyDelete
  2. Karena ada suatu keyakinan bahwa segalanya praktis dan bisa dilakukan oleh sendiri, asal punya uang.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...