Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Terima Kasih, Ruang Kecil!


Orang dulu bilang, banyak anak banyak rejeki. Anak saya tidak banyak, cuma satu, tapi rejekinya ada. Rejeki terbaiknya tentu saja rasa bahagia. Rejeki lainnya, misal soal pekerjaan. Tiba-tiba saja saya diterima sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta setelah beberapa tahun mengajar kesana kemari dengan status honorer. Tapi agaknya terlalu naif jika saya dengan terburu-buru mengaitkan rejeki ini dengan suatu kepercayaan metafisik "banyak anak, banyak rejeki" -meskipun secara kausal, ada benarnya juga-. 

Saya merasa bahwa segala proses menuju dosen tetap yang boleh dikata tidak mudah tersebut, terbantu banyak sekali dari bagaimana saya pernah bergaul di komunitas-komunitas yang ada di ruang kecil seperti Tobucil, Garasi10, KlabKlassik, Madrasah Falsafah, Klab Filsafat Tobucil, ataupun Layarkita. Tidak hanya sebatas itu bantuan mereka. Saya juga merasa sudah dibekali secara cukup oleh komunitas-komunitas tersebut sebelum memulai menjajaki karir dan pergaulan akademik dalam waktu dekat. Mungkin harus saya rinci bagaimana kontribusi mereka. Ini penting terutama bagi orang-orang yang merasa bahwa bergaul di ruang kecil sama sekali tidak keren dan sebaiknya waktu jangan disia-siakan untuk langsung saja berkiprah di gedung-gedung megah dengan pencitraan yang gemerlap.

1. Ruang kecil mengajarkan bagaimana menghargai orang secara personal
Meski sekilas tampak umum, namun sebenarnya tidak semua orang -menurut pengalaman saya- bisa menghargai orang lain berdasarkan eksistensinya secara an sich. Faktanya, kita terbiasa menilai orang berdasarkan institusi, jabatan, latar belakang keluarga, hingga ke penampilan. Di ruang-ruang kecil yang saya maksud di atas, kategori semacam itu agaknya tidak menjadi pertimbangan sama sekali. Misalnya, di Madrasah Falsafah Sophia atau Klab Filsafat Tobucil, posisi kita semua egaliter dalam memperbincangkan segala sesuatu secara filosofis. Jikapun ada yang harus dinilai, betul-betul soal apa yang dikatakannya dan bukan siapa yang mengatakannya. Dalam pergaulan akademik, beberapa orang yang saya temui senang sekali menilai orang lain berdasarkan gelar, pangkat, ataupun jabatan akademik. Kita tidak menyalahkan orang yang berpikir semacam itu. Tapi dari pengalaman di ruang kecil, saya belajar sesuatu: Buang jauh-jauh citra apapun yang melekat pada dirinya, bicara dulu dengan orangnya, ketahui seluk beluk pemikirannya, dan ketika itu mungkin kamu bisa menilai keunikannya. Ingat bahwa hal ini juga sangat bermanfaat bagi saya dalam menjalin hubungan dengan mahasiswa. 

2. Ruang kecil mengajarkan bagaimana berbuat demi apresiasi yang dalam, bukan yang luas
Dari pengalaman bersama KlabKlassik, saya belajar untuk berbuat sesuatu setidaknya agar dikenang oleh yang terdekat saja. Jikapun nanti apa yang saya lakukan diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas, itu sifatnya hanya bonus. Misalnya, saya ingat bagaimana seorang kawan bernama Sutrisna yang hadir untuk pertama kalinya dalam pertemuan KlabKlassik, ia duduk di pojok tanpa bicara dan wajahnya merengut seperti minder. Setelah diajak ngobrol dan terlibat dalam berbagai acara konser baik sebagai panitia maupun pemain, ia berubah menjadi terbuka. Bicaranya tidak lagi terbata-bata dan Sutrisna sudah tidak malu-malu lagi dalam mengungkap pendapat. Dalam pergaulan akademik, ada indikasi bahwa beberapa orang lebih senang untuk mencitrakan diri di kalangan yang jauh dari dirinya terlebih dahulu. Tanpa sadar, ia tidak sedikitpun berkesan bagi yang dekat. Ingat juga, seperti poin nomor pertama, ini penting buat saya dalam menjalin hubungan dengan mahasiswa. Diapresiasi mahasiswa, meskipun kadang tidak ada poin formalnya untuk kenaikan pangkat dalam karir akademik, tetap membahagiakan buat saya. Membuat mahasiswa yang tadinya tidak mau bicara menjadi mau bicara, bukankah itu menjadi salah satu indikator baiknya sebuah pendidikan menurut ukuran kemanusiaan?

3. Ruang kecil mengajarkan bagaimana mengatasi tatapan
Oleh sebab ruangnya yang kecil, kita akan menghadapi situasi dimana saling menatap dalam jarak dekat adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Tatapan semacam itu pada mulanya menciptakan rasa gugup dan salah tingkah. Jika tampil di panggung ataupun bicara di sebuah forum besar, tatapan-tatapan memang pasti ada, namun mereka punya jarak yang cukup jauh dan kadang bisa diabaikan. Apa artinya sebuah tatapan? Tatapan artinya juga penilaian. Ketika kita terbiasa menguasai diri di bawah tatapan jarak dekat, maka apa artinya sebuah tatapan dari jarak yang jauh? Tanpa bermetafor, saya akan katakan dengan jelas, bahwa mampu mengatasi tatapan, artinya juga mampu mengendalikan diri di bawah penilaian-penilaian orang lain yang seringkali rancu dan juga tak berdasar. Bekerjalah seolah-olah memang kamu mau memberi untuk seluruh kehidupan, bukan karena kamu tengah berada dalam penguasaan sebuah tatapan. Jika totalitas itu bisa dilaksanakan, maka tatapan demi tatapan itu bisa tunduk dengan sendirinya. 

Tentu saja itu bukan keseluruhan dari kontribusi yang diberikan dari ruang-ruang kecil tersebut. Kenyataannya masih banyak sekali dan agaknya beberapa diantaranya sudah menubuh dalam tindak tanduk saya sehingga saya tidak punya lagi jarak untuk menuliskannya. Misalnya, ruang kecil mengajarkan untuk tidak berpikir soal materi dan hanya fokus saja pada hal-hal immateri. Selain itu, ruang kecil juga mengajarkan saya untuk tidak menguasai satu hal saja -tidak seperti di kampus dimana orang-orang biasanya terspesialisasi pada satu bidang-. Untuk bisa berbincang dengan orang per orang secara mendalam, kita barangkali perlu wawasan yang luas, dan itu terasa "dituntut" di ruang kecil. Memang ketika sudah masuk dalam pergaulan akademik, mau tidak mau kita harus punya spesialisasi tertentu. Tapi jangan menutup diri untuk menerima wawasan yang lebih luas agar cara kita bicara dan berbuat, entah kenapa, tentunya berbeda dengan dengan mereka yang berwawasan itu-itu saja (dosen komunikasi yang mengajar dengan modal buku teori komunikasi saja tentu berbeda dengan mereka yang dalam keseharian sering membaca novel di sela-sela waktu luangnya).

Akhirul kata, saya berterima kasih pada seluruh komunitas di ruang kecil yang sudah membekali saya banyak dalam awal mula menapaki karir akademik ini. Meski sekarang saya sedang memulai hidup di gedung besar dan megah, tapi saya selalu berdoa dan berusaha agar tindak tanduk saya masih seperti ketika duduk di ruang kecil. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...