Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Agama dan Solusi Epistemologis


Baru saja saya mendatangi rumah tetangga yang anaknya meninggal. Bukan meninggalnya anak tersebut -yang notabene adalah teman kecil yang saya sendiri lupa-lupa ingat- yang membuat saya sedih. Melainkan membayangkan perasaan orangtua yang ditinggal anaknya.

Namun dalam kekosongan pandangan sang ibu yang menyalami tamu satu per satu, terselip satu ucapan dari seorang bapak-bapak yang sepertinya ahli agama. Katanya, "Tabah ya, Bu, karena ia bukanlah punya kita." Suatu ucapan yang klise, yang dulu sering saya olok-olok sebagai "kepasrahan spiritual yang lemah", tapi sekarang saya sadari sebagai -jangan-jangan itulah- solusi satu-satunya untuk meredakan kesedihan sang ibu yang pastinya sangat mendalam. Kasus "kepasrahan spiritual yang lemah" ini pernah saya temukan juga di kelas Extension Course Filsafat UNPAR ketika Pak Bambang Sugiharto selaku pembicara tengah membahas problem lingkungan yang makin lama makin parah dan mengarah pada kehancuran secara global. Seorang bapak kemudian tunjuk jari untuk mengemukakan pendapatnya. Kalimat klise bernada religius itu lagi-lagi keluar, "Bagi orang beragama, lantas kenapa kalau dunia ini hancur? Ya sudah."

Agama, sebagai institusi yang katanya punya legitimasi terhadap spiritualitas, posisinya tergerus pelan-pelan oleh pengetahuan ilmiah. Mungkin ada masa keduanya punya posisi saling mendukung seperti misalnya pada masa Abad Pertengahan -terutama di kalangan umat Islam. Karena di Eropa, masa tersebut justru sering disindir sebagai kekalahan sains atas agama-. Namun seperti yang dicita-citakan oleh Auguste Comte, ia ingin masyarakat yang kelak secara total menanggalkan tahap teologis dan tahap metafisis dan menggantikan sepenuhnya kedua pengetahuan purba tersebut menjadi pengetahuan positif. Apa itu pengetahuan positif? Yakni pengetahuan yang mengandalkan observasi, hipotesis, dan verifikasi yang ketat sehingga tidak ada lagi celah bagi hal-hal mistis untuk tampil menyeruak menjawab misteri-misteri kehidupan. "Segalanya bisa dijelaskan, segalanya bisa dikendalikan," demikian kira-kira semboyan saintis pada umumnya yang sekaligus meruntuhkan dogma agama bahwa segala-gala ini ada yang mengatur yakni Tuhan. 

Ketika segalanya bisa dikendalikan, memang perasaan-perasaan transenden itu hilang seiring dengan kemampuan manusia dalam "menarik" alam semesta ke dalam keinginan-keinginannya. Misalnya, tak perlu kita memohon dewa hujan untuk menurunkan hujan di musim kemarau, selama untuk membeli minum kita bisa pergi ke Alfamart yang jaraknya hanya seratus meter -selama pipa-pipa masih mengalirkan air ke keran rumah kita untuk mandi-. Tak perlu juga kita memohon pada dewa badai untuk menghentikan angin ribut selama rumah kita kokoh ataupun ikan bisa kita peroleh di pasar esok pagi -sedangkan jika badai, nelayan akan menghentikan pelayarannya-. Tak perlu predikat orang sakti untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh dalam waktu singkat selama kita mengerti cara membeli tiket pesawat. Singkatnya, tak perlu Tuhan, tak perlu dewa-dewi selama segalanya bisa masuk dalam logika materialisme. 

Namun demikianlah, menilik pada peristiwa yang menimpa tetangga saya tersebut. Ternyata ada suatu penderitaan, suatu bencana, suatu masalah yang tak terperi besarnya, hingga pada akhirnya hanya pendapat-pendapat klise agama yang justru bisa diterima oleh akalnya. Hal-hal yang secara epistemologis tak sanggup dijangkau oleh pengetahuan ilmiah seperti kematian (bukan penyebabnya, melainkan kematian itu sendiri) dan bencana alam besar (bukan penyebabnya, melainkan bencana itu sendiri) membuat manusia seringkali lebih merasa tenang jika pertanyaan-pertanyaan eksistensialnya dijawab dengan hal-hal yang justru mistis-spiritual. 

Seorang ibu yang kehilangan anaknya tidak akan puas oleh penjelasan-penjelasan ilmiah seperti kanker otak ataupun kecelakaan tunggal -puas mungkin, pada level tertentu-. Ia akan mencari ketenangan oleh apa yang disebut Aristoteles sebagai causa prima alias sebab final, atau sebab-untuk. Kata Aristoteles, jika kita mencari sebab material dari hujan, maka kita akan menjawab air laut yang menguap. Tapi ada sebab yang lebih luhur, yakni kenapa terjadi hujan? Karena tumbuh-tumbuhan membutuhkannnya. Sama dengan menjawab mengapa anak sang ibu mengalami kematian, berdasarkan causa prima seorang bapak itu menjawab, "Karena ya, ia bukanlah milik kita." Mistis? Spiritual? Ya, tapi terkadang yang demikian bisa menjadi solusi bagi batas-batas pengetahuan kita. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...