Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Musuh


Apa kesamaan Awal Uzhara dengan Musashi, Che Guevara, dan Don Vito Corleone? Jawabannya: Mereka sama-sama bicara tentang musuh.

Dari empat nama tersebut, tentu saja hanya Pak Awal yang saya mendengarkan buah pikirnya secara langsung. Lulusan Institut Sinematografi Gerasimov di Moskow itu mengungkap betapa orang Indonesia sejak Orde Baru begitu alergi dengan Rusia karena dianggap punya korelasi dengan paham komunisme. Pak Awal membeberkan fakta menarik bahwa partai komunis bukan lagi yang berkuasa di sana. Selain itu, masyarakat Rusia pun sudah tidak menjadikan paham komunis sebagai sentral kehidupannya -jauh dari ketika Lenin atau Stalin yang berkuasa-. Intinya, orang-orang Indonesia tak perlu lagi alergi dengan segala hal yang berbau Rusia dan komunisme. Kalaupun alergi, kata Pak Awal, "Biasanya mereka tak paham-paham amat soal Rusia. Juga tak paham-paham amat soal komunisme." Di akhir pertemuan itu ia memberi satu kalimat yang menarik, "Jika menganggap Rusia dan komunisme sebagai musuh, kita harus mengetahui sungguh-sungguh musuh kita itu kan?"

Apa pendapat yang lainnya tentang musuh? Musashi berkata -tentu saja Eiji Yoshikawa, sang pengarang tokoh ini yang sesungguhnya berkata- bahwa musuh adalah guru yang menyamar. El Che mengatakan sesuatu tentang musuh. Katanya, "Kasihan orang yang tak punya teman, tapi lebih kasihan lagi orang yang tak punya musuh." Tokoh fiktif yang diperankan Marlon Brando dalam film Godfather bernama Don Vito Corleone menasihati anaknya, Michael Corleone, untuk tidak membenci musuh. Kenapa? Karena membenci musuh akan merusak penilaianmu akan dirinya. Ada apa sesungguhnya dengan musuh? Kenapa ia begitu penting untuk dibicarakan ketika peribahasa yang berkembang di antara kita justru adalah "seribu teman terlalu sedikit, sedangkan satu musuh terlalu banyak"? 

Dalam sebuah cerita yang ditulis oleh Kahlil Gibran (saya lupa di buku yang mana ia tulis cerita ini), ada cerita tentang setan. Setan ini tengah sekarat dan kondisinya menjelang ajal. Seorang pendeta yang tak sengaja berjumpa dengan setan, kemudian terkesiap dan mengeluarkan pedang. Pendeta akan membunuhnya. Setan berkata tunggu, sebelum membunuh, biarkan ia bercerita banyak. Setan kemudian bertutur panjang lebar tentang betapa penting arti dirinya bagi kehidupan, bagi manusia, dan juga bagi si pendeta. Setan bertanya, "Katakan padaku wahai, pendeta, apakah yang akan memotivasimu untuk tetap beribadah, jika aku mati kelak?" Pendeta kebingungan menjawabnya dan akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan si setan. Ia membasuh lukanya dan membopong setan ke tempat dimana ia bisa dirawat.

Tentu tidak sulit menemukan korelasi antara paragraf awal tentang musuh, dengan keberadaan setan yang dipertahankan hidupnya dalam cerita Gibran. Suatu pesan bisa kita tarik: Keberadaan musuh harus senantiasa kita pelihara sebagai daya hidup dan juga guru kehidupan yang paling tersembunyi tapi bertuah. Jika kamu terlalu khawatir untuk menciptakan musuh dalam kehidupanmu, agama punya cara yang menarik dengan mempersonifikasikan musuh dalam bentuk yang abadi yakni setan. Demikianlah hidup kita, sekurang-kurangnya, senantiasa ada dan bergairah karena punya motivasi terselubung untuk membuat setan mengaku kalah. Namun problemnya, tak banyak orang mematuhi petuah Don Vito soal betapa pentingnya mengenali lawanmu tanpa dikotori perasaan benci. Setan dianggap menjijikkan sebelum ada yang mau berbincang dengannya secara terus terang. Sama halnya dengan komunisme dianggap bahaya laten karena memuat soal ateisme padahal mereka yang sungguh-sungguh membaca karya Karl Marx pastilah sulit mengorelasikan komunisme murni dengan ateisme.

Setan sebagai simbolisasi musuh, atau musuh sebagai simbolisasi setan, tak semata-mata harus diciptakan. Ia juga harus digauli dan diajak bicara sehingga menjadi guru yang senantiasa mengajarkan kehidupan bagi kita dari sudut pandang yang kadang tak sanggup terjangkau oleh mata seorang malaikat. Itu sebabnya sungguh tak bijak jika kita menyebutkan bahwa segala yang baik datang dari Tuhan, sedang segala yang buruk datang dari setan. Dalam kacamata yang lebih luas, kita akan melihat bahwa Tuhan dan setan keduanya punya hak untuk memberikan pengajaran bagi manusia dengan caranya sendiri.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...