Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Intuitive Philosopher


“There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.” (Nietzsche)

Pernahkah kita, yang berpendidikan tinggi, menuduh secara tak berdasar bahwa tukang becak tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang filsafat Kant? Pernahkah kita, anak muda penuh gelora yang segala wawasan adalah bagai anggur kebenaran, menuduh ibu kita tak punya pemahaman tentang filsafat Sartre, apalagi Hegel? Pernahkah kita, melihat tukang martabak manis dan menganggap konyol bahwa dia punya secuil pengetahuan tentang filsafat Plato? Bahkan kalau ia ditanya tentang Plato, mungkin akan bertanya balik: keju merk baru ya?

Saya pernah, dan barangkali masih, menganggap ibu saya terutama, tidak punya pengetahuan apapun tentang filsafat. Beliau berpikiran common, hanya ingin anaknya soleh, berhasil, selamat, sukses, dan berbakti. Tidak ada mungkin suatu pikiran bahwa anaknya harus jadi seorang yang misalnya: Mengguncang urat nadi metafisika Jerman. Setiap saya tidak setuju dengan ibu, saya kerap mendebat dan saya selalu memenangkannya oleh sebab perpustakaan logika saya lebih unggul.

Namun pada perkembangannya, saya merenungkan banyak hal soal pengetahuan filsafat setiap orang. Apakah betul dengan apa yang digembar-gemborkan oleh Barat, bahwa citra filsuf adalah yang misalnya, berpikir kritis, sistematis, radikal, lantas sanggup berpikir ontologis, epistemologis, dan aksiologis? Saya punya orang yang bekerja di rumah, namanya Yampan. Perawakannya jauh dari stereotip akademisi ataupun filsuf. Tapi gerak geriknya sungguh mengagumkan. Sederhana saja saya menilai ini, bahwa kenyataan ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah ingin terlihat pintar, dan selalu berbuat hal manis semisal menelpon istrinya di rumah hanya untuk mendengarkan anak bayinya menangis. Pertanyaan saya agak tragis:
  • Apakah dengan ia tidak pernah membicarakan Kant dan kawan-kawan, lantas ia bukan filsuf?
  • Bukankah filsuf itu memikirkan sesuatu tentang kehidupan agar kehidupan ini menerima manfaat darinya?
  • Lantas jika seseorang sudah memberikan suatu manfaat bagi kehidupan tanpa memikirkannya, ia bukan filsuf?
Inilah barangkali yang dimaksud Nietzsche dalam kalimat pembuka di atas. Bahwa tubuh mendahului pemikiran. Bahwa filsafat kita yang terdalam belum memberikan kebijaksanaan apa-apa tanpa suatu perbuatan yang aplikatif dari tubuh kita. Seperti kritik yang pernah bapak ajukan pada saya: "Kamu membahas filsafat Timur dengan tetek bengek kosmologinya, tapi setiap keluar kamar tidak pernah mematikan lampu." Ini adalah suatu tamparan keras, yang barangkali harus juga dialami oleh Descartes dan antek-anteknya yang begitu gigih memisahkan filsafat dari keseharian.

Maka itu saya mengakui bahwa ibu barangkali tidak punya pengetahuan tentang runutan sejarah filsafat Barat, tapi beliau tidak perlu itu untuk bertindak bijaksana, bertindak sesuai dengan definisi filsafat itu sendiri: cinta kebijaksanaan. Bahwa anak yang soleh dan berbakti, adalah tampak seperti sebuah tujuan sederhana, namun itulah sesungguhnya buah dari keluhuran budi dan kejernihan batin yang tidak sedikitpun datang melalui pikiran yang bertele-tele. Ibu adalah intuitive philosopher.

Jika kita menganggap bahwa filsafat hanya sebatas kegiatan olah nalar yang terpisah, maka bisa jadi tiada satupun kebijaksanaan yang bisa kita ambil dari tukang becak, tukang martabak, atau Yampan sekalipun. Filsafat menjadi suatu wilayah yang asing dari kehidupan manusia dan hanya berisikan pernyataan kosong seperti "dualisme Cartesian", "benda dalam dirinya sendiri", atau "dunia yang dilipat".

Saya menerawang ke masa-masa kehidupan pernikahan saya nantinya. Ketika saya sibuk memikirkan apa yang seharusnya dilakukan umat manusia, istri saya dengan tenangnya mengingatkan, "Jangan lupa kembalikan pulpen ke tempatnya lagi."


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...