Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Siddhartha (1922) Membangunkanku Lagi

 

Siddhartha, sebuah novel dari Herman Hesse, saya baca untuk kedua kalinya setelah sekitar empat tahun berlalu. Saya berterimakasih pada seorang sahabat, Indra Permadi yang mengenalkan saya pada novel ini pada sekitar tahun 2008. Saya sendiri pernah membuat review-nya di blog yang lama yang tidak pernah di-update lagi.

Novel ini, dibaca kemarin dengan dibaca empat tahun lalu, masih punya daya magis bagi saya. Masih memiliki daya getar yang hebat sehingga mampu membangunkan saya dari tidur dogmatis (persoalannya, apakah ketika saya bangun dari tidur, itu justru saya berada di mimpi berikutnya seperti film Inception?). Siddhartha adalah kisah tentang Siddhartha, pemuda yang melakukan perjalanan spiritual. Novel ini bercerita tentang pergulatan batinnya yang terbagi dalam beberapa tahap yang mengagumkan (jangan terlalu kecewa jika saya paparkan jalan ceritanya disini, karena gaya tutur Hesse masih tetap mengasyikan untuk dibaca):

  • Siddhartha sebagai seorang remaja yang cerdas, anak dari brahmin terhormat, yang taat beribadah dan melakukan persembahan. Ia hapal banyak ayat-ayat dari kitab sucinya dan melakukan samadi sering sekali.
  • Siddhartha pergi dari kehidupan mapannya, meninggalkan keluarga dan berangkat bersama para samana. Samana bisa disebut sebagai pertapa yang mengonsentrasikan hidupnya untuk asketisme, penjauhan diri dari hal-hal duniawi, dan melepaskan diri dari lingkaran samsara. Mereka hidup di hutan, hanya berpuasa dan samadi.
  • Siddhartha meninggalkan samana karena tidak jua menemukan kebahagiaan. Ternyata para samana ini juga mengolok-olok secara ekstrim kehidupan duniawi. Siddhartha datang pada Sang Buddha bernama Gotama. Namun segera Siddhartha menolak ajaran Gotama dengan sebuah kalimat mengagumkan, "Tidak ada seorangpun yang dapat tercerahkan lewat sebuah ajaran." Siddhartha pergi ke kota, meninggalkan kehidupan asketik dan menolak semua ajaran.
  • Di kota ia bertemu dengan Kamala, seorang pelacur terkenal yang mengajarkannya arti keduniawian. Siddhartha merubah pandangannya dari yang tadinya melihat intisari dari apa yang tampak, menjadi menghargai apa yang tampak itu sendiri. Siddhartha hidup bergelimang harta, menyukai minuman, perjudian, dan menjadi kekasih Kamala.
  • Keduniawian tidak juga membuatnya bahagia. Ia menganggapnya sebagai keterjebakan dengan samsara. Siddhartha lari ke hutan dan ia menemukan seorang juru sampan bernama Vasudeva yang pernah menyeberangkannya dulu. Vasudeva adalah seorang yang belajar segala sesuatu dari sungai. Katanya, sungai berbicara banyak. Vasudeva juga seorang pendengar yang baik, dari ia Siddhartha berguru kembali.
  • Ternyata, hubungannya dengan Kamala dulu menghasilkan anak yang ia tidak ketahui. Meninggalnya Kamala membuat Siddhartha harus mengurus Siddhartha muda yang sombong dan keras kepala. Ia belajar sesuatu lagi, bahwa ada penderitaan yang ia peroleh dari mengurus anak ini, namun ada kebahagiaan tak terperi yang meliputinya.
  • Siddhartha muda kabur ke kota, Siddhartha tua menjadi juru sampan sendirian setelah Vasudeva juga meninggal dunia. Pada kawannya semasa kecil, Govinda, Siddhartha berbagi bahwa, "Kata-kata tidak bisa menjelaskan kebijaksanaan. Kebijaksanaan jika dibagi akan terdengar bodoh." Ia juga menambahkan kalimat yang mengagumkan, "Lawan dari kebenaran, adalah sama benarnya, itu hanya persoalan kata-kata."

Boleh saja kita menganggap Siddhartha mengalami "kemunduran". Seperti ia kembali ke asal mula, seperti ia kembali ke masa dimana ia belum mengembara. Namun ini persis mengingatkan saya pada salah satu koan dalam Buddhisme Zen:


Sebelum pencerahan, gunung adalah gunung, laut adalah laut.

Semasa pencerahan, gunung bukanlah gunung, laut bukanlah laut.

Setelah pencerahan, gunung adalah gunung, laut adalah laut.

Mengingat kembalinya segala sesuatu, saya agak bergidik juga. Fase terakhir kehidupan Siddhartha menunjukkan bahwa muara dari segala perjalanan spiritualnya adalah justru seperti semboyan Pidi Baiq: "Tidak apa-apa." Bahwa penjahat berbuat jahat, dengan polisi menahannya, adalah sama dengan batu yang kelak jadi tanah, yang kelak akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Semuanya memang sudah begitu: Tidak apa-apa. Bahwa hidup ini sudah satu kesatuan yang utuh. Spinoza menyebutnya dengan sub specie aeternitatis: melihat segalanya dari kacamata keabadian.

Sudah, sudah, semakin saya berkata, semakin terasa kebodohannya. Pintaku cuma satu pada Tuhan, bisakah lepaskan kami semua dari kata-kata?









Om


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...