Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Religulous: Ajakan Kritik Diri bagi Umat Beragama


Sebelumnya, terima kasih pada Pirhot Nababan, kawan yang dengan baik mengopikan 40 GB koleksi filmnya ke hard disk milik saya. Salah satu diantaranya adalah ini, yang dengan semangat ia sarankan untuk menontonnya. Suatu film berdurasi kurang dari dua jam, judulnya Religulous. Judul yang berasal dari gabungan dua kata, yaitu religious dan ridiculous.

Film dokumenter ini enak ditonton. Penuh interupsi visual yang menghibur. Berkisah tentang komedian Bill Maher yang melakukan "perjalanan spiritual". Ia bertemu petinggi-petinggi agama dan beragam orang-orang religius (believer) baik di AS, Vatikan, gereja Mormon, hingga Yerusalem, untuk kemudian didebat, diparodikan, diserang, hingga dihantam oleh argumen yang sesungguhnya sulit untuk ditanggapi secara memuaskan.

Dokumenter garapan Larry Charles ini juga sering menyisipkan ilustrasi-ilustrasi yang mengundang gelak tawa. Seperti ketika Bill mewawancarai Mohamed Junas Gaffar, seorang kiai di sebuah mesjid di Amsterdam tentang, "Apakah Islam adalah sebuah ancaman bagi nilai-nilai di Belanda?" Sang kiai menjawab, "Tidak. Islam adalah damai dan damai." Setelah itu tiba-tiba ada interupsi dari gambar lain, menunjukkan khutbah yang mengajak umat Muslim untuk membunuhi orang-orang Yahudi.

Bill, meskipun tampak antagonis dengan kelakuannya yang satir dan sering terbahak-bahak mendengarkan penjelasan para believer, apa yang ia serang sesungguhnya bisa dipahami. Seperti ketika Bill mewawancarai Jeremiah Cummings, seorang pastur, yang dikritiknya sebagai, "Lihat pakaian dan segala kekayaanmu, apakah Yesus mengajarkan ini?" Kata Jeremiah dengan gugup, "Tentu saja. Yesus selalu berpakaian baik, ia bahkan menggunakan linen bagus." Bill sendiri langsung tertawa sambil berkata, "Jelas sekali. Yesus adalah pembela orang miskin dan menentang segala kekayaan yang berlebihan."

Bill kerap mempertanyakan segala upaya "pembumian" agama. Misalnya, gerakan anti homoseksual, pertalian agama dan negara (baca: politik), pertalian agama dan ekonomi, pertalian agama dan sains, serta pertalian agama dan perang. Semuanya dipertanyakan dengan kalimat besar, "Apakah betul agama membicarakan itu semua? Atau ini hanya berkaitan dengan kepentingan kalian?" Di akhir film ia berpesan, "Grow up, or die." Mengajak kita semua merenungkan arti agama, jika memang ia adalah sumber kekerasan dan dehumanisasi.

***

Dalam kasus seperti ini, selalu ada pembelaan klasik, "Itu sih bukan agamanya, tapi orangnya." Tapi kemudian saya pribadi tidak terlalu lagi memegang teguh kalimat itu, karena jika demikian, "Adakah cara menjalankan agama yang paling benar?" Yang demikian juga tidak mudah menjawabnya. Karena jika yang dimaksud "menjalankan agama yang paling benar" itu mengikuti kitab suci dan apa-apa yang sudah tertulis, maka di Islam kita tahu, ada kelompok Salafi dan Wahabi yang sungguh-sungguh mengambil segala ajaran yang tertulis secara kaku. Ada juga kelompok yang lebih liberal, yang mengatakan agama seyogianya kontekstual, punya kelenturan dengan kehidupan keseharian dan perubahan jaman. Jika ini iya, maka kadang-kadang mereka tak tepat persis mengambil dari kitab suci, lantas, "Inikah cara menjalankan agama yang paling benar?"

Kata-kata Bambang Sugiharto mungkin ada benarnya. "Bukan semata-mata orangnya, jalinan sistem dalam agama mulai dari kitab suci, dogma, ritual, serta konsep ketuhanannya, sangat berpengaruh pada cara bersikap pemeluknya. Jadi jangan selalu salahkan orangnya, salahkan juga agamanya!"

Religulous dalam hal ini sesungguhnya tengah mengajak umat beragama untuk melakukan kritik diri. Atau dalam bahasa Bambang, "Membongkar aspek ilusoris dalam agama". Agama bagaimanapun juga mengandung dogma yang mau tidak mau harus diterima (disebut fideisme, atau faith-ism. Iman ya iman, nalar tidak boleh ikutan). Dogma bermaksud menangkap fenomena keilahian dan lantas diwariskan, tapi perlu diingat, bahwa: Dogma bukanlah fenomena keilahian itu sendiri. Untuk menemukan fenomena keilahian secara persona, kadang-kadang memang harus melalui pengalaman yang betul-betul mandiri. Sebuah pengalaman akan kehadiran: fascinatum et tremendum, mengagumkan sekaligus menggetarkan.

"Serangan-serangan" dari Bill Maher sudah sepatutnya tidak menjadikan diri kita tersinggung atau marah -seolah-olah kemarahan ini mewakili kemarahan Tuhan-, tapi menjadi suatu renungan mendalam tentang pengalaman beragama kita semua. Film ini layak ditonton walaupun saya tidak tahu dari mana bisa mendapatkannya (paling banter download). Ingat, sekali lagi, jangan marah! Jangan terpikir untuk menghalalkan darah Bill Maher karena ketika ia ditanya di Yerusalem oleh seorang believer, "What if you're wrong?", ia cuma bertanya balik: "What if you're wrong?"

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...