Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Mengembalikan Agnostisisme

 
Adakah kesamaan antara ucapan 'agnostisisme' dengan 'sesuatu banget'-nya Syahrini? Ada, keduanya sama-sama diucapkan secara bebas tanpa kadang-kadang diketahui artinya secara jelas oleh si pengucap. Keduanya sama-sama mempunyai nilai tren tertentu. Perbedaannya barangkali ada pada tingkat refleksinya. Agnostisisme dipercaya merupakan suatu ungkapan reflektif-spiritual, sedangkan 'sesuatu banget' boleh jadi nyaris tidak mempunyai arti yang mendalam.

Secara stereotip, setidaknya saya menginduksi dari beberapa contoh partikular yang saya ketahui, bahwa agnostisisme adalah 'paham yang percaya Tuhan tapi tidak percaya agama'. Artinya, yang terjadi adalah bukan membahas 'cara', tapi esensi spiritual hubungan langsung hamba dan Tuhan, ataupun para sufi lebih intim dengan menyebut hubungan ini sebagai 'kekasih'. Pemikiran seperti ini tentu saja punya nilai dan daya refleksi yang tidak bisa dibilang dangkal. Namun problemnya, betulkah agnostisisme diartikan seperti itu?

Untuk memahami agnostisisme, bisa dirunut dari pemikiran Immanuel Kant tentang fenomena dan noumena. Fenomena, kata Kant, adalah segala yang tercerap indera, "Yang nyata adalah yang indrawi." Sedangkan noumena adalah segala jenis pengetahuan yang di luar indera, yang termasuk di dalamnya adalah Tuhan, jiwa, ruh, kebebasan, keadilan, dan lain sebagainya. Kant secara rendah hati (tidak seperti Hume) mengakui bahwa noumena ini ada bagusnya sebagai postulat. Sebagai contoh, jika tidak ada konsep Tuhan, mungkin tidak adil bagi manusia jika melihat seorang yang berbuat dosa sepanjang hidupnya kemudian tidak ada yang mengadilinya di kemudian hari. Tapi Kant mengajukan syarat terkait noumena ini, katanya, noumena itu mungkin saja ada, tapi ia di luar batas pengetahuan kita. Ia tidak bisa diketahui apalagi dibicarakan. Batas-batas pengetahuan manusia adalah sebatas dunia fenomena saja.

Agar cocok, mari buka Wikipedia sejenak untuk mengutip apa agnostisisme kata mereka:

Agnosticism is the view that the truth value of certain claims—especially claims about the existence or non-existence of any deity but also other religious and metaphysical claims—is unknown or unknowable.

Dari kedua pernyataan di atas, bisa kita gabung bahwa "Agnostisisme adalah paham yang mengatakan bahwa dunia noumena seperti Tuhan, dewa, atau hal-hal lain yang metafisik adalah sesuatu yang di luar pengetahuan atau mustahil diketahui." Artinya, berdasarkan dua pernyataan di atas, penempatan agnostisisme sebagai 'Percaya Tuhan tapi tidak percaya agama' adalah miskonsepsi.

Sekarang mari kita bedah agnostisisme dari akar katanya. Konon, Thomas Henry Huxley adalah yang pertama kali menggagas kata ini. Berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu a yang berarti tanpa dan gnosis berarti pengetahuan. Pengetahuan yang disebut sebagai gnosis ini adalah pengetahuan spiritual. Pengetahuan yang konon "didapat dari dalam" dan sangat populer di Abad Pertengahan. Dunia Islam juga mengenal gnosis dengan nama ilm-laduni. Berdasarkan asal muasal kata, maka Huxley sekaligus ingin menegaskan bahwa "pengetahuan dari dalam" itu tidak ada. Huxley seolah ingin memurnikan argumen Kantian bahwa segala konsepsi pengetahuan yang mungkin diketahui hanya bisa diperoleh dari pengalaman aposteriori.

Meski demikian, walaupun ada upaya mendudukkan kembali, namun miskonsepsi yang sering terjadi sesungguhnya bisa "digeser sedikit saja". Kenyataan bahwa terdapat dua cabang agnostisisme. Yang pertama adalah agnostik ateis, yakni mereka yang tidak percaya Tuhan sekaligus menolak kemungkinan mengetahuinya. Yang kedua adalah agnostik teis, yakni mereka yang percaya Tuhan namun menolak kemungkinan untuk mengetahuinya lebih lanjut. Jika "digeser sedikit", yang tadinya miskonsepsi justru menjadi pas di agnostik teis. Artinya, percaya Tuhan namun tidak percaya agama memang ada benarnya. Jika dalam agama biasanya mengandung "kemungkinan untuk mengetahui Tuhan lebih lanjut".

Akhirul kata, ada baiknya manusia pada tataran tertentu menjadi seorang agnostik. Tidakkah perang-perang besar mengatasnamakan Tuhan itu diawali oleh kedua kubu yang merasa paling tahu tentang keinginan Tuhan?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...