Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Jarak




Michael Corleone, seperti yang diperankan Al Pacino dalam film The Godfather, adalah sosok yang mendapat penghargaan sebagai salah satu iconic villain oleh American Film Institute. Pemilihan Michael sebagai villain mungkin tidak disetujui semua orang. Bagi saya sendiri, ia seorang jagoan, ia protagonis. Michael adalah family man sekaligus juga tragic hero. Ini bukan interpretasi saya yang berlebihan, tapi tidakkah dalam film, Michael memang digambarkan sebagai seorang tokoh utama? Tidakkah kerajaan Corleone, dengan tetek bengek bisnis "haram" di luar sana, tetap digambarkan sebagai keluarga yang hangat dan menjunjung tinggi harga diri?


Di film yang lain ada Travis Bickle (Diperankan dengan luar biasa oleh Robert de Niro dalam film Taxi Driver). Travis adalah seorang supir taksi yang punya kegelisahan akan lingkungan sekitar. Ia merasa bahwa ia harus merubah keadaan. Keterbatasannya sebagai seorang supir taksi tidak menjadi persoalan. Travis membeli senjata, menembaki siapa saja yang merongrong keadilan. Seorang pelacur muda ia pulangkan ke orangtuanya. Pada titik ini Travis menjadi seorang pahlawan.

***

Apa gerangan yang mau saya bicarakan? Saya sedang ingin membicarakan soal jarak. Tentu saja bukan pemikiran terbelakang kalau kita menganggap semua mafia adalah jahat dan semua supir taksi tidak ada yang berani merubah keadaan sekitar. Ini stereotip yang lumrah, yang diterbitkan dari konstruksi sosial. Kedua film di atas, dengan tokoh yang berbeda, mencoba mendekati apa yang stereotip, untuk melihat dari jarak yang sangat dekat. Melihat seorang mafioso dan supir taksi secara eksistensial.

Pada titik ini kita sebenarnya susah menempatkan posisi hitam putih pada diri mereka. Jarak ini adalah "jarak manusiawi", ketika kita merasa bahwa ada kesamaan perasaan antara saya dan Michael Corleone, saya dan Travis Bickle. Bahwa ketika mereka gelisah, maka ini adalah gelisah yang sama dengan kegelisahan saya. Ketika mereka geram, ini adalah kegeraman yang sama dengan yang saya punya. Nilai-nilai loyalitas keluarga Corleone, terang saja bisa diterapkan dengan mudah pada keluarga saya.

Apa sesungguhnya yang menciptakan stereotip berlebihan? Bisa jadi adalah jarak yang "nanggung". Jarak yang tidak mau dekat tapi juga tidak mau jauh untuk meneropong keholistikan. Mengenal satu mafioso jahat, kita langsung menyimpulkan bahwa semua mafia jahat. Mengenal satu supir taksi berpikiran dangkal, kita langsung merasa bahwa tak mungkin ada supir taksi yang mau merubah dunia! Ini adalah jarak yang tanggung, jarak yang sudah hampir pasti sanggup menciptakan stereotip yang terburu-buru. Ambil contoh para teroris yang melakukan pemboman dengan target simbol-simbol hegemoni Barat itu. Tanyakan pada mereka: Adakah satu saja, satu saja, orang Amerika atau Yahudi yang kalian kenal dekat, dengan sangat baik, hingga bersahabat, hingga bersaudara? Entah kenapa saya yakin tidak (walaupun yang saya perbuat ini adalah stereotip dari jarak yang nanggung juga). Yang saya yakini, mereka melihat Barat dari konsep-konsep yang sempit saja.

Jika tidak sanggup mendekati fenomena, atau malas, maka ada alternatif yang mudah, yaitu menjauhkannya sejauh-jauhnya (jangan nanggung!). Pada titik ini keberbedaan juga akan sulit ditemukan. Seperti menyaksikan daratan dari pesawat terbang, maka tak akan ditemukan batas-batas negara, ideologi, agama, ataupun bangsa. Cara melihat dari jarak yang amat jauh ini, Spinoza menyebutnya dengan sub specie aeternitatis: melihat segalanya dari perspektif keabadian. Bahwa manusia, secara holistik betul-betul tidak punya free will. Mereka diciptakan dalam kodratnya masing-masing, dalam lingkungannya masing-masing, dalam keterbatasan serta porsinya masing-masing.

Jauh dekat sama saja. Yang penting jangan nanggung!


Semua gambar diambil dari Wikipedia.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...