Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Muara Filsafat


Hari Minggu adalah jadwal saya mengajar di sebuah pesantren di kawasan Cijawura. Apa yang saya ajarkan sesungguhnya bertajuk awal "Gitar Klasik". Namun melihat animo yang cukup besar (ini adalah semacam kelas ekstrakurikuler yang siswa boleh memilih secara sukarela), saya memutuskan untuk mengganti tajuknya menjadi kelas "Musik" saja. Masalahnya, dua puluh orang anak jika diajari gitar klasik secara detail akan cukup repot. Belum pertimbangan bahwa banyak diantaranya tidak mempunyai gitar, dan juga kemampuan dasarnya tidak sama.

Atas dasar siswa yang cukup banyak itu, akhirnya saya bagi menjadi empat kelompok dengan masing-masing lima orang. Masing-masing kelompok diharuskan berkreasi sendiri, menampilkan suatu lagu bebas dalam format akustik. Tentu saja atas nama keadilan, pria wanita bercampur baur di sana.

Singkat cerita, akhirnya saya menyuruh masing-masing kelompok untuk maju ke depan, menampilkan kreasinya. Namun ekspektasi saya terhenti karena sekelompok pemuda di kelas mengajukan protes, "Kami tidak setuju wanita menyanyi. Karena akan bisa mengundang syahwat." Saya agak tersentak dengan penolakan tersebut. Saya betul-betul baru mengetahui tentang itu. Meskipun dalam taraf yang sederhana, akhirnya saya berhadapan langsung dengan fundamentalisme.

Saya berusaha untuk menghormati pendapat itu. Karena bagaimanapun juga, berhadapan dengan orang yang menggunakan dalil agama jelas berbeda dengan orang yang menggunakan dalil filsafat. Saya akhirnya bertanya pada mereka, berusaha tenang, "Dari mana kalian mendapatkan dalil itu?" Mereka tidak bisa menyebutkan sumbernya, tapi mereka tampak yakin dengan hukum tersebut. "Kalau suara wanita mengundang syahwat, bagaimana dengan buku kedokteran atau biologi? Bukankah isinya seringkali memperlihatkan tubuh telanjang dan kadang alat kelamin?" Mereka lagi-lagi tidak bisa menjawab, tapi tetap yakin pada pendiriannya.

"Lihat wanita-wanita di kelas ini, mereka sudah siap menyanyi. Dengan adanya pernyataan kalian, mungkin mereka jadi sakit hati. Apa hukum menyakiti hati sesama Muslim?" saya melanjutkan. Mereka, sambil tertunduk, mengatakan haram. Tapi sekali lagi, mereka teguh bahwa wanita tetap tidak boleh menyanyi. "Saya akan bertanya, termasuk golongan Islam manakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami Islam universal." "Apa itu yang universal? Ahlus-sunnah wal jama'ah?" saya mencoba mengorek dengan metoda Sokratik. "Iya," jawabnya. "O, kalau begitu kalian adalah Sunni. Jadi kalian bukan Syi'ah ya?" saya mulai menemukan kontradiksi dalam diri mereka. "Apa mazhab yang kalian anut? Syafi'i kah?" tanya saya, mendesak. "Iya," jawab mereka. "O, kalau begitu kalian bukan termasuk kepada mazhab Maliki, Hambali atau Hanafi ya? Jadi kalian bukan Islam universal kan? Kalian adalah Sunni dengan mazhab Syafi'i, tolong koreksi saya jika salah!" seru saya dengan semangat. Saya menambahkan, dengan agak terinspirasi Jalaluddin Rakhmat, "Jika demikian mungkin saja yang mengharamkan wanita menyanyi bukan Islam universal, tapi sebahagiaan kelompok dalam Islam saja. Tapi apakah menyakiti hati sesama Muslim adalah ajaran Islam universal?" Mereka menjawab ya dengan pelan, saya tahu mereka agak-agak mencair sekarang.

Meski demikian, saya tetap tidak melihat mereka akan memindahkan pendiriannya. Sejenak kemudian ada seorang santri berdiri mengemukakan pendapatnya, "Kak, saya tadi sempat melihat hadits, saya membaca bahwa Rasulullah SAW pernah membiarkan dua wanita budak bernyanyi di rumahnya. Hadits ini shahih dari Bukhari dan Muslim." Apa yang ia ucapkan ternyata jadi penolong. Mereka semua akhirnya setuju untuk membiarkan wanita menyanyi. Setelah keempat kelompok bernyanyi ke depan (ternyata para penyanyi wanita sangat bagus-bagus!), saya menambahkan kalimat penutup, "Syahwat pasti ada dalam setiap peristiwa, tapi bukankah yang penting adalah niatnya?"

Hari itu saya belajar sangat banyak. Terutama tentang muara dari filsafat yang saya pelajari selama ini. Ternyata filsafat belum selesai ketika saya sukses menghafal pemikiran dari Thales hingga Foucault, atau dari Yunani hingga Cina. Filsafat belum selesai ketika kita merefleksikan segenap pemikiran menjadi hakikat segala sesuatu di balik apa yang tampak. Filsafat barangkali bermuara pada arti kata filsafat itu sendiri yaitu cinta kebijaksanaan. Apa yang saya yakini sebagai bijaksana, adalah persis dengan keyakinan para santri itu sendiri tentang apa yang bijaksana. Ketika dua hal yang bijaksana "diadukan", maka disinilah filsafat mengekspresikan rasa cintanya yang hakiki. Cinta sejati adalah yang lembut dan mau mengerti sesama. Rasa-rasanya filsafat menjadi gagal jika kerap menuduh FPI keji tanpa mau memahami alam pikiran mereka yang juga barangkali mengandung kebijaksaan bagi dirinya. Jika filsafat menolak usaha pemahaman tentang yang liyan (the others), maka sesungguhnya ia tak ubahnya sebagai fundamentalis juga.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...