Tuhan telah mati, dalam doa bersama menjelang UN
Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Baik
Menjadi baik untuk kelompok tertentu atas tujuan yang sempit
Tuhan telah mati, dalam ormas yang menghancurkan diskotik
Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Memerintah
Titahnya telah dikudeta oleh gerombolan manusia
Tuhan telah mati, oleh pedang prajurit Perang Salib
Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Esa
Karena masing-masing kubu merasa punya Satu untuk dibela
Tuhan telah mati, oleh suasana Ramadhan di sekeliling kita
Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Luas
Menjadi sekedar acara televisi dan korden yang menutup jendela rumah makan
Tuhan telah mati, oleh pisau bernama BA-HA-SA
Ia tidak lagi meliputi seluruh keadaan
Tapi disempitkan oleh nama dan sesosok persona nun jauh di sana
O, Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya!
Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri. Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...
.png)
Comments
Post a Comment