Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kisah Seorang Sufi Bernama Amab


Saya sekeluarga punya semacam tukang pijit terpercaya. Ia datang tak tentu, tergantung panggilan. Tukang pijit ini usianya masih cukup muda, barangkali 24 atau 25, namanya Amab (atau Amap?). Pijitannya boleh dibilang tak sejenis refleksi di pinggir jalan yang cenderung relaksasif dan bikin ngantuk. Amab ini condong pada menyakiti dan bikin kita terjaga selalu akibat kesakitan. Tapi sesudah pemijitan, efeknya lebih terasa. Pegal-pegal hilang, tidur nyenyak, bangun tidur juga enak.

Konon teknik pijit Kang Amab tidak cuma mengandalkan pengetahuan akan titik-titik saraf manusia, tapi juga dimuati tenaga prana yang membuat ia bisa membagikan energinya pada pasien. Saya pribadi ketika dipijit tak pernah jatuh tertidur, tapi selalu menyempatkan untuk mengobrol. Katanya, untuk meraih kemampuan memijat sambil mengobati ini, ada dua pantangan serius dari gurunya. Satu, ia tak boleh bernafsu jika memijat wanita. Dua, ia dilarang memasang tarif atas jasanya ini. Tidak diberi uang tak apa-apa, diberi uang pun tak apa-apa.

Suatu hari ia datang tak cuma untuk memijat, tapi juga membagikan sebuah undangan: undangan pernikahan. Ia akan menikah tanggal 13 September di kampung halamannya, Garut. Topik pernikahan itu jadi tema yang menarik untuk diangkat ketika sesi pemijitan saya. Begini petikan dialognya yang diterjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia:

"Kang, gimana sih rasanya memijit tanpa ditarif?"
"Ya, biasa aja, kan niatnya mengobati."
"Pernah gak suatu ketika pulang jalan kaki, karena si pasien gak ngasih uang?"
"Lumayan sering hehehe."
"Terus gimana, sengsara atuh, Kang?"
"Ya gak juga kalau ikhlas mah. Yang menawari saya untuk mengelola panti pijat juga ada. Tergantung orangnya itu mah."
"Oh, Kang, kan mau nikah tuh. Ganti profesi gak?"
"Kenapa harus ganti profesi?"
"Kan istri perlu makan, perlu uang."
"Tukang pijit juga bisa, malah saya mau mendalami ilmu batinnya lagi. Sekarang ini kan baru dhahir (fisik -red)."
"Oh gitu, tapi pasti tertarik masang tarif kan ntar mah kalau udah nikah?"
"Gak tuh."

Saya agak terbangun dari pijitan.

"Seriusan Kang?"
"Iya, emang kenapa?"
"Kan, nanti ada kebutuhan, ada makanan, ada uang sekolah anak. Bukannya mesti ada perencanaan keuangan tuh?"
"Iya, tapi kan rejeki bukan dari manusia."

Kau mesti ada disana untuk melihat sendiri bagaimana ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Ia mengucapkannya dengan ketenangan yang menakjubkan, dengan binaran mata yang sulit terkatakan. Membuat saya merasa diskusi selesai, tak perlu ada yang ditanyakan lagi.

Ini semakin membawa renungan saya pada kenyataan: Kang Amab, si tukang pijit itu seolah menampik dengan lembut tapi yakin, dasar-dasar pelajaran ekonomi kita semasa sekolah, bahwa prinsip ekonomi adalah membuat untung sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Bahwa motif ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terbatas sedangkan alat pemenuhan kebutuhan terbatas. Ia secara sufistik mematahkannya dengan santai: modal bukan dari manusia, pun untung. Sedangkan kebutuhan manusia hakikatnya tak terbatas, tapi batin bisa menyebut "cukup" untuk membendung semuanya.

Dulu, saya yakin ini prinsip fatalisme yang membosankan. Ini yang ditakutkan Marx sebagai candu yang membuat masyarakat enggan maju. Tapi perlahan keyakinan saya meluntur, seiring dengan semakin banyaknya melihat prinsip "fatalis" yang ternyata menebar rona wajah bahagia. Seiring pula dengan semakin banyaknya melihat orang yang memegang prinsip ekonomi umum yang teguh, ternyata malah membuahkan keluhan dan ocehan tentang hidupnya yang serba kekurangan. Ada kawan yang merasa hidupnya terancam karena gajinya yang sepuluh juta membuat ia tak bisa berbelanja sepatu favoritnya. Ada orang yang begitu gelisah melihat tetangganya beli mobil, membangun rumah, lantas ia minder dan kecewa karena mata pencahariannya tak bisa mengonsumsi hal yang serupa.

Seluruh cerita nabi dan orang bijak, adalah seringkali tentang bagaimana ia menyikapi dunia. Dan kebanyakan sikap yang diambilnya, adalah cenderung mengambil jarak, karena banyak yang berpikir bahwa dunia adalah tipu-tipuan belaka. Kita semua tahu kisah Siddharta Gautama, anak raja yang kabur dari gelimang kemewahan istana, lantas hidup miskin papa di hutan-hutan agar mengetahui hakekat alam semesta. Atau Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah asal Persia, yang bahkan di rumahnya ia tak bisa selonjoran saking sempitnya. Kala ditanya, alasannya ialah, "Saya khawatir saya menjadi cinta dunia jika rumah ini besar." Atau seorang sufi, Jalaluddin Rumi, pasca bertemu gurunya, Shams Tabriz, ia langsung menjauhkan diri dari hiruk pikuk dan menyatakan bahwa yang bisa dirasakan indra sesungguhnya cuma permukaan saja. Pun Yesus Kristus, saya rasa penerimaan tulus dia atas siksaan dan penyaliban, adalah bukti bahwa tubuh ini tak ada artinya. Tubuh ini adalah simbol penghubung dengan dunia yang memuat pemenuhan hasrat tiada habisnya. Maka cambuk dan siksalah karena tubuh adalah dosa.

Jadilah Kang Amab menambah satu lagi daftar sufi yang saya ketahui. Mereka yang tubuhnya menancap pada dunia, tapi ruhnya melayang mencari esensi Ilahiah semesta.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...