Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Untuk 30 November 2009

Sudah lebih dari dua puluh hari sejak saya terakhir mengupdate blog ini. Jika ditanya alasannya kenapa, saya tidak tahu. Daripada saya cari-cari alasan padahal intinya cuma malas.
Artinya, saya melewatkan juga hari ulang tahun saya untuk dituliskan. Maksudnya, dituliskan secara berdekatan dengan momennya. Padahal, ulang tahun saya tahun ini, terasa sangat bermakna. Bermakna karena banyak hal, yang akan saya ceritakan:


Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, bagi orangtua saya, itu adalah tanda: bahwa tepat dua puluh empat tahun lalu, saya lahir ke dunia. Lahir untuk entah apa, yang pasti awal mulanya, adalah untuk membahagiakan orangtua saya. Untuk meyakinkan sebenarnya mereka punya garis keturunan yang melanjutkan apa-apa yang pernah ia bangun dalam hidupnya. Yang lewat keturunan ini, seolah-olah orangtua saya disajikan, tentang nikmatnya menyaksikan rekaman ulang kejadian kehidupan.
Melanjutkan keturunan itu barangkali, memberi tahu dengan gamblang: bahwa, Subhanallah, hidup itu berputar adanya, hidup itu begitu-begitu saja. Dan oleh karena itu, kita, manusia, adalah satu-satunya pemberi dinamisasi: pemakna sejati. Dengan demikian kita punya perbedaan dari hewan, yang melanjutkan keturunan untuk semata-mata mempertahankan spesiesnya dari kepunahan. Secara lebih keren, melanjutkan keturunan adalah berarti memberi tahu secara lebih intim, bahwa kehidupan ini, seperti kata Yasraf Amir Piliang, adalah sebuah repetisi dinamis.
Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, saya cukup diajarkan sejak kecil, bahwa bolehlah itu dianggap spesial setiap tahunnya. Waktu SD, itu adalah hari dimana saya mentraktir teman-teman nonton bioskop. Waktu SMP juga. Beda lagi masa SMA, saya biasa mentraktir makan, yang berlanjut hingga kuliah. Hari yang seolah orangtua saya mau memberitahu saya, bahwa kau, Nak, sudah dua puluh empat tahun lamanya di dunia ini. Dua puluh empat tahun lalu kau membahagiakan kami dengan kehadiran. Maka dua puluh empat tahun kemudian kau membahagiakan kami juga dengan kehadiran. Kehadiran yang sedari dulu nyata dan ada, tapi rasanya tumbuh dan berbeda. Seperti kau sirami bibit mawar di halaman, dan kau menyaksikannya tumbuh merekah berbunga, dengan duri-durinya. Kau pasti pernah punya bayangan tentang bagaimana seharusnya mawar ini menjadi nantinya. Tapi ketika mawar tersebut berbeda dari yang kau bayangkan, misalnya: kelopaknya terlipat sebagian, merahnya tak merona, wanginya tak semerbak, atau durinya terlalu tajam, tidakkah yang masih penting, adalah kenyataan bahwa bunga itu masih disana, memberitahu bahwa ia, setidaknya bagi si mawar, ia tumbuh normal dan baik-baik saja?
Hari itu 30 November 2009, dan saya mengadakan acara makan-makan. Sederhana saja di rumah. Saya ajak teman-teman, ada teman SMA, teman KlabKlassik, teman bermusik, dan teman pascasarjana. Semuanya berkumpul, meski tak membaur semua. Tapi saya berbahagia menyaksikan semua. Mereka, di hadapan saya, adalah bagaikan menyaksikan juga repetisi dinamis. Karena lagi-lagi mereka hadir, lagi-lagi, yang harusnya bosan tapi tidak. Tidak karena dimaknai, tidak karena mereka membuat saya ada. Ada berada bukan dalam makna eksistensial, tapi esensial. Membuat saya selalu punya alasan kenapa saya ingin tetap di dunia.
Hari itu 30 November 2009 jam dua belas malam, dan saya sedang dalam jalur telepon. Berbincang. Mendengarkan suara nyanyian dari seberang sana, 180 kilometer katanya. Menyanyikan dendang yang, ah, metafor bidadari yang bernyanyi tak penting lagi. Persoalannya, kita tak pernah tahu apakah memang iya ada bidadari di kahyangan sana yang suaranya emas dan menggetarkan. Yang saya tahu pasti, ada bidadari disini, ya, aku menunjuk ulu hatiku. Dan iya, suaranya menggetarkan dawai-dawai batin yang pernah usang. Dawai-dawai batin yang resonansinya menggelegakkan darah di tubuh. Yang lagi-lagi saya suka metafor ini: seperti mawar yang ditetesi embun, seperti tenggakan dari anggur Dyonisus yang kemudian mengaliri kerongkongan. Yang membuat saya, sungguh-sungguh, mencintai dunia dan enggan meninggalkannya.


Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire...

Comments

  1. Entah kenapa, gw merasa terinspirasi kalau baca tulisan2 lo, Rif. Hahaha. Selamat ulang tahun yang terlambat :D

    ReplyDelete
  2. "Mereka, di hadapan saya, adalah bagaikan menyaksikan juga repetisi dinamis. Karena lagi-lagi mereka hadir, lagi-lagi, yang harusnya bosan tapi tidak. Tidak karena dimaknai, tidak karena mereka membuat saya ada. Ada berada bukan dalam makna eksistensial, tapi esensial. Membuat saya selalu punya alasan kenapa saya ingin tetap di dunia."

    bagian ini keren banget om :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...