Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Surga di Telapak Kaki Kapitalisme

Konon, surga itu ada di atas sana. Tempat dimana semua-muanya ada. Semua yang menyenangkan dan membahagiakan tubuh dan jiwa, tinggal minta langsung tersedia.
Jujur, takut masuk neraka itu pasti, tapi saya juga takut masuk surga. Terbayang jika memang ia kekal, berarti betapa tidak menariknya berada di surga: ketika apa-apa hadir dengan sendirinya tanpa perlu berusaha. Tidakkah terkadang hidup menjadi menarik, karena adanya istilah "mengejar bahagia"? Artinya, bahagia adalah manifestasi dari sebuah usaha. Tanpa usaha, bahagia tak pernah ada dengan sendirinya. Karena jangan-jangan, kebahagiaan adalah usaha itu sendiri. Sekian berfilosofinya, karena saya sesekali ingin berbagi pengalaman kongkrit juga.

Alkisah, setiap Jumat malam, saya bekerja di hotel Hilton Bandung. Pekerjaan saya adalah menghibur para tamu lewat musik dan senyum. Hilton, barangkali hotel yang cukup dikenal, reputasinya internasional. Setidaknya orang mengenalnya lewat sosialita Paris Hilton yang rajin bikin heboh lewat reality-show serta sex tape-nya. Untungnya bukan Paris lah penyebab Hilton berdiri. Hotel itu awalnya bikinan Conrad Hilton di tahun 1919 (Conrad itu entah kakek atau buyutnya Paris). Sejak itu, bisnisnya berkembang pesat, buka cabang dimana-mana, dan menjadi salah satu hotel terdepan di dunia. Jika mau dikaitkan dengan budaya pop, hotel Hilton di Amsterdam pernah ditiduri oleh John Lennon dan Yoko Ono, ketika mereka sedang melancarkan protes bernama Bed in-for Peace selama seminggu (25 Maret-31 Maret 1969). Protes yang dilancarkan terhadap Perang Vietnam itu, menunjukkan aksi tidur bersama John dan Yoko tanpa bercinta, dan melahirkan slogan terkenal: "Make Love not War".
Bohong jika saya tidak bangga dan bahagia ketika direkrut menjadi bagian dari Hilton. Hanya jika saya seorang Marxis dan terorislah barangkali yang bisa membuat saya benci perekrutan ini. Reputasi global, upah layak, perlakuan istimewa, dan satu lagi, saat jeda diantara performa, saya disuruh beristirahat untuk merasakan seserpih surga di dunia. Jika surga bercerita soal makanan yang tiada habisnya, yang dengan leha-leha boleh kita minta yang manapun juga tanpa berusaha, maka tak berlebihan memang inilah serpihannya, di resto (hampir seperti aula sebenarnya saking besarnya) bernama Purnawarman itu. Benar-benar beragam makanannya, dan saya boleh ambil manapun yang saya suka. Setelah diambil, tak lupa si pelayan memberikan senyumnya, membukakan serbet, menuangkan air, dan menawarkan menu-menu lainnya.

Itu tempat saya makan di jam istirahat. Tempat saya tampil, adalah restoran bernama Fresco, di lantai enam. Tempatnya romantis dan remang-remang, temanya Italia. Di pinggir restonya, terdapat kolam renang tak beratap, sehingga airnya memantulkan cahaya bintang dan bulan. Suasana tempatnya hangat dan damai. Cukup apresiatif untuk diterpa bebunyian gitar klasik. Meja-mejanya juga dipenuhi lilin, sehingga wajah para tamu berkedut-kedut oleh cahaya yang mungil. Latar belakang yang serba temaram itu dilengkapi oleh suara-suara ramah berbunyi: Malam Pak, Malam Bu, yang intinya menyambut para tamu. Amboi, mendadak ada gadis lewat, pakai bikini. Tak perlu ditanya, kami toh sudah tahu, ia mau berenang. Berkecipak-kecipak dalam dinginnya kolam kala malam.

Saya bukan anti-Marx. Saya mengagumi pemikirannya, dan saya tahu ia punya surga versinya. Cerita tentang kondisi sama rata sama rasa, dimana para manusia berderajat setara soal kepemilikan, tanpa ada kelas-kelas sosial yang merintangi. Bagus, Marx, dan luar biasa jika itu kelak bisa kejadian. Dengan cerita surganya, ia menyimbahi dunia ini dengan darah, lewat pertarungannya melawan surga para kapitalis, yang mengisyaratkan: surga hanya ada dalam kelas sosial tertentu, mereka yang dibilang para pemilik modal. Hilton jelas masuk dalam kategori kapitalis menurut Marxian. Ia memiliki modal, alat produksi, dan mempekerjakan buruh, yang salah satunya adalah saya. Maka menurut Marx, seyogianya saya mesti bersatu dengan buruh-buruh sedunia untuk lalu menggalang revolusi proletariat dan menggulingkan tampuk kekuasaan borjuis sehingga akhirnya modal dimiliki bersama.

Tapi tolong Marx, itu keren, tapi tidak sekarang, izinkan saya menahan keinginan itu, karena di hadapanku ini, terhidang waffle dan crepes yang dilumuri saus maple, mangga dan vanila, dan didampingi eskrim rum raisin. Saya tidak tahu apakah di jamanmu para buruh disuguhi hal semacam ini? izinkan saya rehat sejenak, mencicipi surga musuhmu, untuk kemudian kelak ikut denganmu, menjadikannya surgamu. Sebelumnya, saya turut menyesal pada para teroris, karena sungguh saya tak yakin surga kalian lebih indah dari yang saya punya. Di mejaku ini, ada surga, yang meski tak menyediakan semuanya, tapi diperoleh dari kerja keras, usaha, dan tak perlu melenyapkan nyawa.







Comments

  1. sepertinya surga di akhirat itu membosankan y :) kita bebas memakan dan meminum hidangan terlezat disana tapi kita tidak dikarunia nafsu...bercinta sepuasnya dengan bidadari bidadari swarga tapi kita tidak merasa birahi..
    what a wonderful world :)

    ReplyDelete
  2. Sepertinya bener, membosankan.. kalo ga masuk surga dan neraka, jadi masuk apa dong yah kita sebaiknya?

    ReplyDelete
  3. Keren, nih ... ngajak mikir lebih jauh. Hidup "Imagine"-nya John Lennon !

    ReplyDelete
  4. Hidup "Imagine"-nya Opik: Imagine tidak ada Tombo Ati..

    ReplyDelete
  5. kenapa ya surga itu isinya makanan, minuman, dan bidadari pemuas birahi.
    kenapa ga berisi buku2, lukisan, alat musik dsb?

    ReplyDelete
  6. @G4reela: Iya yah hehe selalu berkaitan dengan pemuas kebutuhan tubuh, bukan kebutuhan hati dan jiwa. Emang sih yang aneh dari orang yang meminta surga dan segala tetek bengek di dalamnya, sepertinya adalah orang yang kesulitan memenuhi hasrat tubuhnya di dunia. Saya paling geli sebenarnya dengan pernyataan-pernyataan Imam Samudera dkk pasca divonis mati, katanya: "Tidak apa-apa kami mati, kami tak sabar untuk bercinta dengan bidadari di surga". Hehehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...