Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kisah Anak Penjual Ubi Cilembu


Ini kisah nyata. Pengalaman saya. Baru saja, sekira pukul 10.30 dialaminya. Sebelum bergegas mengajar, saya tentunya mestinya melewati pagar rumah. Seketika itu, di depan gerbang, lewatlah seorang anak perempuan, usianya sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Pakaiannya lusuh, pun tubuhnya. Ia membawa dua keresek besar berwarna hitam. Isinya apa entah tak kelihatan. Seketika ia datang menghampiri, bergumam apa tak jelas. Saya yang buru-buru, cepat-cepat berpikir bahwa ia anak yang minta shadaqah. Alah, biasa kan di kala mau lebaran. Anak-anak kecil sering keliling minta uang.

"Hui Cilembu-nya, A,"
"Apa? Hui?" saya bertanya balik.
"Iya, A, ini hui asli Cilembu. satu keresek lima ribu"
"Oh, oke oke sebentar," saya mengambil dompet di saku, mengintipnya, lalu melihat ada uang seratus tujuh puluh empat ribu. Karena saya pelit dan pecahan uangnya agak kurang enak, maka saya ambil si empat ribu. Saya sodorkan padanya, dan sadar uangnya kurang untuk beli satu keresek pun, maka saya bilang:
"Neng, ambil aja, hui-nya buat neng ya?"
Alih-alih senang, si anak malah terdiam lalu bilang:
"Empat ribu bisa buat tiga perempat keresek, A, saya ambilin ya?"
"Ga usah, neng, ambil aja yah uangnya, gak papa kok," ujar saya sambil masih memegang uang di tangan.
Si neng dengan cepat mengepak kereseknya, lalu berkata, "Pamit dulu ya, A."
Eh dia ngeloyor!
Saya kaget, "Neng, neng, tunggu sebentar, ini deh ini deh, saya beli dua-duanya, uangnya dua puluh ribu ya,"
"Saya ga ada kembalian, A,"
"Oh, gak papa, Neng, buat Neng aja kembaliannya. Tapi hui-nya tetep gakan saya ambil lagi ya? Buat neng jualan lagi aja."
"Saya gak mau, A. Aa, tetep harus ngambil hui-nya"

Waduh, jika kau menjadi saya. Sungguh sulit mengambil hui-nya. Kenapa? Karena di rumah saya belum tentu ada yang berminat, dan khawatir itu akan jadi mubazir. Saya sempat tertegun sejenak, sebelum ayah saya berseru dari pintu rumah, "De, ambil aja hui-nya." Ia memberi isyarat dengan mengatupkan mata perlahan sambil mengangguk, seolah berkata, "Ambil saja, dia akan lebih bahagia kalau kita mengambilnya." Oh, baiklah, akhirnya saya ambil itu dua keresek hitam yang bahkan saya belum lihat isinya. Si anak pergi sambil mengucap terima kasih. Saya tak menjawab karena tak bisa berhenti memandanginya.

***

Kau tahu, itu seperti pengalaman sepele. Tapi buat saya, maknanya banyak, barangkali setara Siddharta di Pohon Boddhi atau Muhammad di Gua Hira. Hehe. Saya jadi sadar, kesalahan pertama saya adalah: saya berprasangka negatif pada anak ini. Karena menyangka akan meminta shadaqah, saya lekas-lekas ingin menyelesaikan pertemuan tanpa mendengarkan ucapannya. Kau tahu lah, setiap dari kita mungkin punya kesadaran untuk berbagi harta, tapi kadang kita tak suka jika itu diminta. Kedua, saya pelit. Ia berjualan lima ribu, eh saya kasih empat ribu karena itu pecahan yang paling enak untuk 'dibuang'. Tapi ya itu, kepelitan saya juga berangkat dari keburukan prasangka. Karena saya pikir dia mau minta shadaqah, jadi alah, biar kelihatan berusaha, dia perhalus saja dengan berjualan. Yang mana entah terjual entah tidak, yang penting ia dapat uang.

Sambil menyetir menuju tempat tujuan, saya merenung takada habisnya. Saya kira anak tadi seorang agnostik. Tahu kenapa? ia tidak percaya bahwa lebaran adalah momen dimana Tuhan berbagi rejeki lewat belas kasihan. Ia hanya percaya, bahwa rejeki datang jika ia mau berusaha mencarinya. Itu tebakan ngasal sepertinya, tapi sebenarnya, rasa malu saya yang mendominasi. Kau tahu, ketika kau berpikir bahwa Tuhan mewahyukan dirinya lewat hal-hal hebat seperti Nabi, Rasul, Al-Quran, atau para ustadz yang rajin cari muka di televisi, ternyata saya mendapati hal yang lain sama sekali. Ia datang, berbicara sebagai anak yang menjual ubi: kecil, lusuh, tak berdaya, dan terbuka untuk ditindas siapa saja. Kau tahu, sungguh malu ketika siapa saja mereka yang status sosialnya ditinggikan, ternyata masih mau menerima uang tanpa mengeluarkan keringat, yang lantas membungkusnya dengan "rejeki Tuhan". Inilah ia, si anak penjual ubi Cilembu. Menyentuh kalbuku. Membuatku malu.

Neng, semoga kau menjadi presiden RI kelak nanti. Insya Allah negara ini akan jujur. Biarlah urusan gender jangan kau pikirkan.

Comments

  1. anak itu mengajarkan bagaimana menempatkan sesuatu pada haknya... kamu memberinya uang lima ribu, baginya hak kamu adalah mendapatkan sekeresek hui cilembu, dan dia tak ingin mengambil hak kamu itu.. perkara kamu mau sedekah sama dia itu perkara lain lagi, tapi yang menjadi penting dalam transaksi hui cilembu ini saling menghargai hak satu sama lain dan anak itu menurutku konsisten dengan kewajibannya memberikan hak itu setelah mau memberinya uang..

    dalam dunia orang dewasa yang seringkali tamak dan rakus, ga banyak contoh seperti yang dilakukan anak kecil itu..

    ReplyDelete
  2. Betul sekali mba Tarlen, rada tertegun saya sih tadi. Aneh, ketika musimnya anak-anak minta sedekah, ini ada yang dengan jujur berjualan, penuh pertimbangan hak dan kewajiban. Saya cuma mikir, orangtuanya barangkali hebat bisa mengajari anaknya jujur seperti ini.

    ReplyDelete
  3. terkadang kita mudah menilai sosok itu dari bungkusnya, kadang manusia tersiksa karena memikirkan penilaian orang atas dirinya..
    kisah yang menarik :)

    ReplyDelete
  4. alhamdulillah syarif. petunjuk bagi manusia datang bagi mereka yang Iqro-membaca petunjuk-Nya. segala sesuatu berjalan karena tangan Allah, sekecil apapun itu. semoga anak manis itu mendapatkan yang terbaik dalam hidup, amien.

    ReplyDelete
  5. @Artcoholic: Nuhun. Iya memang, kata Konfusius, "Jangan pusing kalo orang lain tidak bisa memahami kita. Pusinglah kalo kita tidak mampu memahami orang lain".
    @Raden Prisya: Amiiiien. Terima kasih Raden, kau punya andil juga.

    ReplyDelete
  6. Izin Promo gan,,, http://firmanzurig.blogspot.com saya ASLI CILEMBU, hehehe...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...