Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Jangan Tumbuh: Musik Sureal yang Menyakitkan

Ditulis dalam rangka acara TAWURAN (Tanya Jawab Ulas Rancangan) Jangan Tumbuh tentang peluncuran video klip Dhira Bongs di The Silk Hotel, Kamis, 26 Juli 2018. Membicarakan musik adalah sesuatu yang mudah sekaligus sukar. Mudah karena musik amat kuat menimbulkan suatu kesan - Bambang Sugiharto menyebut musik sebagai seni yang paling “langsung” dan “dalam” -. Musik tertentu dapat membuat kita ingat pantai, berduaan bersama kekasih, galau mengenang kematian, marah terhadap otoritas, dan lain sebagainya. Sehingga membicarakan musik menjadi mudah karena hanya tinggal membicarakan impresi-impresi apa yang terbangkitkan dari rangsangan audial itu sendiri. Membicarakan musik tapi juga sesuatu yang sukar. Alasannya, jika musik menimbulkan suatu impresi dan kemudian kita malah membicarakan impresi itu, lantas apakah kita menjadi membicarakan sesuatu di luar musik? Sebaliknya, jika kita membicarakan musik dalam konteks dirinya sendiri - dalam hal ini, misal, progresi akor, harmon...

Guriang di Cijaringao

Pada hari Rabu malam tanggal 19 Juli 2018, Kang Ismet Ruchimat, sang pendiri kelompok musik Sambasunda, mengontak saya tepat pukul sembilan. Sambil mengajar kelas filsafat ilmu di Kaka Cafe, saya mengangkatnya dengan terlebih dahulu meminta maaf pada peserta kelas. “Rif,” kata Kang Ismet di seberang telepon, “Ke sini, sekarang juga. Ke Saung Angklung Udjo. Ada hal penting.” Jika Kang Ismet mengatakan itu penting, maka itu benar-benar penting. Saya bergegas menyelesaikan kelas dan meminta maaf untuk kedua kalinya pada para peserta. Tepat pukul sepuluh, saya sampai di Padasuka, tempat Saung Angklung Udjo yang legendaris itu.  Di sebuah meja, telah duduk beberapa orang yaitu Kang Ismet Ruchimat, Kang Galih Sedayu dari Ruang Kolaborassa, Kang Taufik Hidayat dari Saung Angklung Udjo, Kang Adjie Dunston Iriana, dan beberapa staf Kang Galih maupun Kang Taufik. Inti pembicaraannya adalah ini: Bahwa festival musik internasional bernama Matasora World Music Festival, terancam gagal peny...

Mengembalikan Marwah Bebunyian: Catatan Diskusi tentang Sound Art

Ditulis sebagai catatan pasca siaran di Radio Norrm, 6 Juni 2018. Tanggal 6 Juni kemarin, saya diundang oleh Bob Edrian untuk mengisi salah satu program di Radio Norrm. Program tersebut secara umum membahas tentang sound art dan pada kesempatan kemarin, secara spesifik, pembahasan berkutat seputar “filsafat bunyi”. Saya tidak sendirian, tentu saja. Ada Guru Besar Filsafat UNPAR, Bambang Sugiharto (BS), dan musisi senior yang sedang mengambil S3 arsitektur, Jack Simanjuntak. Bob sendiri berperan sebagai moderator.  Bob adalah kurator seni rupa. Namun dalam beberapa tahun belakangan ini, ia sedang mengikhtiarkan aliran dalam seni rupa yang menggunakan medium bunyi yaitu sound art . Tentu saja upaya mengangkat sound art ini mendapat tantangan serus, terutama dari wilayah seni musik yang merasa berhak bicara soal bunyi. Berbagai diskusi yang ia gelar, salah satunya program streaming di Radio Norrm ini, adalah semacam cara untuk menaikkan wacana sound art di tengah medan sos...

Catatan dari Gerilya Filsafat (1 dan 2 Mei 2018)

Pada tanggal 1 dan 2 Mei kemarin, saya datang ke dua kota secara berurutan yaitu ke Tangerang dan Jakarta. Adapun tujuan kedatangan tersebut adalah terkait keberadaan forum pengkaji filsafat di masing-masing kota: Di Tangerang ada forum Ngobrol Sambil Ngopi yang diselenggarakan di Agano Coffee, sementara itu di Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan, ada forum Diskusi Rabuan yang diinisiasi Gereja Komunitas Anugerah di Diskusi Kopi - Ruang Berbagi.  Meski berasal dari dua undangan yang berbeda, namun akibat tanggal diskusi yang berdekatan, saya merangkumnya dalam satu kegiatan bernama "Gerilya Filsafat" - terinspirasi oleh Kang Ary Juliyant, musisi, yang menyebut proyek musik kelilingnya dengan istilah "Gerilya Musik" -. Atas gerilya dua hari yang menyenangkan tersebut, saya akan menuangkannya dalam catatan-catatan berikut ini: Hari Pertama Waktu: Selasa, 1 Mei 2018 Forum: Ngobrol Sambil Ngopi Tema: Kita, Cita, dan Kota Tempat: Agano Coffee, Jalan Daan M...

Teks Musik: Suatu Pengantar

Ditulis sebagai Suplemen "Workshop Penulisan Musik" di Jendela Ide, Sabuga, 20 April 2018   Mendefinisikan Musik  Sebelum membahas literasi ataupun penulisan musik, agaknya tidak berlebihan jika kita membahas hal paling mendasar yaitu: apa itu musik? Kita bisa pertama-tama menyepakati hal ini: pada dasarnya, segala sesuatu dalam alam semesta ini bergerak dalam ritmik (orang berjalan, gerak awan, ikan berenang, dan sebagainya). Segala sesuatu juga punya keselarasan atau harmoni dengan lainnya, misalnya: matahari pagi dengan bangun manusia dari tidurnya, kehidupan ikan dan ekosistem di sekitarnya, dan sebagainya. Selain itu, melodi juga dapat kita dengar di alam semesta ini: cuitan burung, bunyi deru knalpot, sampai ke senandung orang di kamar mandi. Sebuah buku tahun 1963 berjudul ABC of Music karya Imogen Holst kira-kira merangkum seluruh deskripsi tersebut dan mendefinisikan musik sebagai "gabungan antara melodi, harmoni, dan ritmik".  Apakah suda...

Membaca (Kembali) Media Baru dan Sangkut Pautnya dengan Etika

Ditulis untuk kegiatan diskusi Moro Referensi di UNISBA, 9 April 2018. Masifnya perkembangan media baru ( new media ) dalam satu hingga dua dekade belakangan ini, telah membuat ketergantungan baru bagi kehidupan manusia kontemporer. Demikian tergantungnya, hingga sudah menjadi semacam kebutuhan primer (anak “zaman now ” pernah mengibaratkan kebutuhan itu dalam ekspresi “sandang, pangan, colokan” alih-alih ekspresi lama yaitu “sandang, pangan, papan” - menunjukkan bahwa keterhubungan daring lebih penting dari mempunyai tempat tinggal -).  Demikian tergantungnya, hingga masyarakat hari ini menganggapnya sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai “perpanjangan tubuh” kita sendiri. Misalnya, Kita sudah menganggap media sosial sebagai dunia sosial kita yang hakiki, kita sudah menganggap obrolan melalui Whatsapp sebagai obrolan yang hakiki, kita sudah menganggap menyaksikan representasi pertunjukan via Youtube adalah pengalaman menghadiri live performance secara ...

Jumat Apresiasi Musik: Bereksplorasi Bersama Tesla Manaf

Pada hari Jumat, 16 Februari itu, saya diminta oleh Kang Djaelani untuk mengisi forum bernama Jurasik atau Jumat Apresiasi Musik. Acara yang katanya diadakan setiap bulan di minggu ketiga tersebut diadakan di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesha. Secara umum, Jurasik merupakan forum yang menampilkan berbagai musisi atau kelompok musik untuk kemudian diapresiasi sekaligus ditanggapi.  Pada Jurasik kemarin itu, yang tampil adalah musisi yang lebih dikenal sebagai gitaris jazz, Tesla Manaf. Acara dimulai cukup ngaret karena seperti biasa, menunggu lebih banyak audiens untuk hadir. Setelah acara dibuka oleh Kang Djaelani selaku inisiator dan juga salah satu penanggap, Tesla langsung tampil memainkan bebunyian, berduet dengan pemain drum Rio Abror.  Iya, Tesla tidak bermain gitar. Ia memainkan seperangkat alat yang menghasilkan bunyi-bunyi yang jauh dari kenyamanan. Kita bisa katakan, Tesla tengah memainkan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Dari seperangkat alat yang d...