Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Obituari untuk Dwi Cahya Yuniman


Berita wafatnya Dwi Cahya Yuniman, yang akrab kami panggil Mas Niman, pada Senin sore, 15 September 2025, datang seperti petir di siang bolong. Begitu mendadak, begitu tak terduga. Pagi harinya ia masih sempat menuliskan ucapan selamat ulang tahun kepada seorang sahabat di grup, seakan memberi tanda kecil bahwa ia tetap hadir, sebelum akhirnya berpamitan untuk selamanya. 

Bagi banyak orang, Mas Niman bukan sekadar seorang pecinta musik. Ia adalah pusat gravitasi, sosok yang dengan caranya yang sederhana tapi penuh semangat berhasil mengikat orang-orang dalam lingkaran jazz yang hangat. Saya sendiri pertama kali mengenalnya lebih dari dua dekade lalu, di Common Room. Saat itu, Klab Jazz, komunitas yang didirikannya, tengah menyiapkan konser JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami. Dalam kesempatan itu, saya dan beberapa kawan diperkenalkan pada sebuah nama baru: KlabKlassik. 

Kami tampil dengan gitar klasik berempat. Formatnya agak janggal. Bukan ansambel, melainkan solo bergantian. Namun justru dari momen itu lahir satu sejarah kecil: lahirnya KlabKlassik, sebuah komunitas yang kemudian bertahan belasan tahun lamanya. Sejak hari itu, dalam hati kami selalu terpatri satu hal: Mas Niman-lah yang melahirkan KlabKlassik. 

Setelah pertemuan pertama itu, jejak kami semakin sering bersinggungan. Saya kerap terlibat dalam berbagai kegiatan Klab Jazz, kadang sebagai panitia, kadang pula sebagai pengisi acara. Tahun 2016 menjadi titik penting: Mas Niman memberi saya kesempatan tampil untuk pertama kalinya dalam format pemusik jazz dengan nama Syarif and His Lovely Friends. Sejak saat itu, hampir tiap dua hingga tiga bulan, ia selalu mengajak saya naik ke panggung. Saya tahu kemampuan saya terbatas, tapi Mas Niman selalu menyalakan api percaya diri: “Pede saja, musik itu untuk dinikmati.” Dari ucapannya itu, saya belajar bahwa musik bukanlah soal kesempurnaan teknis, melainkan soal keberanian membagikan rasa. 

Perjalanan kreatif Mas Niman juga menembus batas antara musik dan sastra. Sekitar tahun 2018 atau 2019, ia menggagas Jazz Poet Society, sebuah inisiatif yang menyisipkan puisi di tengah gelaran jazz. Dari situ, setiap konser Klab Jazz tidak lagi sekadar peristiwa musikal, tapi juga perjumpaan lintas bahasa, lintas rasa: antara nada dan kata. Kehadirannya membuat suasana lebih hidup, lebih reflektif, dan lebih puitis. 

Namun, lebih dari semua itu, Mas Niman adalah pecinta jazz sejati. Ia tidak datang dengan analisis rumit atau teori panjang, ia hadir dengan hati. Ia tahu mana yang enak, mana yang asyik, mana yang menggugah, dan ia menikmatinya tanpa pretensi. Ia bukan hanya penikmat, tapi juga seorang pencium bakat. Dari panggung-panggung Klab Jazz yang ia kelola dengan penuh cinta, muncul generasi demi generasi musisi muda. Banyak dari mereka yang kemudian menjulang tinggi, menemukan panggungnya sendiri, berkelana jauh, tapi tetap membawa jejak awal dari sebuah komunitas bernama Klab Jazz, jejak yang tak lepas dari sentuhan tangan Mas Niman. 

Kini, ketika ia telah berpulang, kami mengenangnya bukan dengan air mata semata, tapi juga dengan nada-nada yang pernah ia hidupkan. Ia mengajarkan bahwa musik adalah ruang bersama, tempat siapa pun boleh hadir, berpartisipasi, dan merasa berarti. 

Selamat jalan, Mas Niman. Tiupan Miles Davis semoga mengiringi langkahmu menuju surga. Jazz yang kau cintai akan terus bergema, bersama kenanganmu, dalam hati kami.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...