Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Hukuman Mati


Baru saja saya menyelesaikan tugas sebagai moderator diskusi hukuman mati. Topik ini sebenarnya tidak pernah menjadi hal yang saya fokuskan. Soal hukuman mati saya selalu mengacu pada cerpen Anton Chekhov berjudul Pertaruhan. Dalam cerpen tersebut, diceritakan bagaimana bankir dan ahli hukum bertaruh mana hukuman yang lebih baik, hukuman mati atau hukuman seumur hidup. Ahli hukum, yang memilih opsi kedua, bersedia mendekam di penjara selama lima belas tahun dan jika ia berhasil melewatinya, maka lawan taruhannya harus membayarnya dua juta rubel. Bankir yakin akan memenangkan pertaruhan ini karena siapa yang mau secara sukarela mengurung dirinya sendiri di penjara selama lima belas tahun? 

Namun tak disangka-sangka, bankir berhasil membuat dirinya betah bertahun-tahun karena membaca buku. Begitu banyaknya ia membaca buku sehingga ia mendapatkan suatu kebijaksanaan yang membuat pertaruhan tersebut terasa sia-sia. Kita tidak perlu membahas bagaimana akhir dari pertaruhan ini karena takut menjadi spoiler bagi mereka yang berminat membacanya sendiri. Meski tidak tersurat, tetapi saya bisa setidaknya menyimpulkan bahwa hukuman seumur hidup, dalam tafsir saya terhadap cerpen Chekhov tersebut, lebih baik karena memberi kesempatan si terhukum untuk memperbaiki dirinya, berubah menjadi orang yang lebih baik. Sebenarnya alih-alih mengambil hikmah tentang hukuman mati dari cerpen tersebut, saya lebih tertarik membaca kesan si ahli hukum tentang membaca. Dalam cerpen tersebut, Chekhov menceritakan dengan indah bagaimana membaca membuat si ahli hukum dapat mengembangkan pikirannya jauh melampaui tembok-tembok penjara sehingga ia tidak pernah merasa bosan meski mendekam lima belas tahun. 

Meski ditulis dalam bentuk fiksi, argumen Chekhov tentang penolakan hukuman mati, bagi saya, tetap kokoh. Sementara itu, di sisi lain, umumnya mereka yang pro hukuman mati mempunyai sekurang-kurangnya dua alasan yaitu pertama, perkara retribusi atau pembalasan atau sering diilustrasikan dengan "mata dibalas mata". Hukuman mati dianggap "adil" karena mereka yang telah misalnya, membunuh seseorang, mesti juga kehilangan nyawanya. Immanuel Kant bahkan membela hukuman mati dengan mengatakan bahwa hukuman harus dijatuhkan sebagai bentuk penghargaan kita terhadap maksim universal si pelaku kejahatan yang jika ia membolehkan dirinya untuk membunuh, maka sudah sepatutnya kita selaku pengadil membolehkan diri kita juga untuk membunuh si pembunuh. Alasan kedua umumnya berkaitan dengan efek jera. Dengan melaksanakan hukuman mati terhadap suatu kejahatan, maka diharapkan orang menjadi enggan untuk melakukan kejahatan serupa. 

Bantahan terhadap dua alasan tersebut juga sudah sering dikemukakan. Tentang retribusi, kita tidak tahu hingga seberapa jauh pembalasan tersebut dapat terpuaskan. Misalnya, jika seseorang membunuh anak kandung orang lain, apakah orang lain tersebut merasa terpuaskan jika anak kandung si pembunuh juga dibunuh? Atau hal tersebut tidak membuatnya puas dan bisa jadi malah ingin membunuh seluruh keluarganya? Selain itu, alasan retributif juga seringkali gagal secara etis karena mengapa kejahatan seseorang mesti dibalas dengan kejahatan yang sama? Tidakkah kita menjadi "sama" dengan orang jahat tersebut? Sementara terhadap alasan efek jera, umumnya bantahan yang diungkapkan adalah terkait tidak adanya bukti meyakinkan bahwa hukuman mati menekan angka kejahatan. Bahkan bagi orang dengan ideologi tertentu, hukuman mati bisa menjadi suatu kebanggaan, ia merasa telah menjadi martir, yang membuat kelompoknya bertambah semangat. 

Masalah lain pada hukuman mati adalah ketidakmungkinannya untuk merevisi putusan pasca eksekusi dijalankan (karena orangnya sudah telanjur mati). Padahal putusan hakim bisa saja keliru. Selain itu, dalam pelaksanaannya, hukuman mati juga biasanya bias kelas. Umumnya pada orang-orang golongan ekonomi menengah ke bawah atau mereka yang mendapat diskriminasi secara sosial, hukuman mati lebih mudah dijatuhkan ketimbang pada orang-orang kaya dan berprivilese. Terakhir, dalam nuansa yang lebih teologis, kita bisa katakan bahwa negara bukan Tuhan, ia, dan siapapun juga, tidak berhak mengambil nyawa siapapun.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...