Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Thoreau di Walden


Henry David Thoreau merupakan pemikir Amerika yang menjadi bagian dari gerakan “Pemikiran Baru” (New Thought) bernama transendentalisme yang dimulai awal abad ke-19 sebagai usaha pencarian spiritual yang lepas dari agama-agama yang sudah “mapan”. William James menyebutnya sebagai “the religion of healthy-mindedness”. Prinsip dasar transendentalisme adalah mandiri dan independen. Kebaikan dan kemurnian ada secara inheren di dalam diri setiap orang yang sejalan dengan alam, tidak boleh ditekan oleh masyarakat atau institusi manapun. Terkait keselarasan dengan alam, Ralph Waldo Emerson sebagai salah satu pendiri transendentalisme menegaskannya dalam Nature:

In the woods, we return to reason and faith. There I feel that nothing can befall me in life, — no disgrace, no calamity, (leaving me my eyes,) which nature cannot repair. Standing on the bare ground, — my head bathed by the blithe air, and uplifted into infinite space, — all mean egotism vanishes. I become a transparent eye-ball; I am nothing; I see all; the currents of the Universal Being circulate through me; I am part or particle of God.”

Thoreau lahir tahun 1817 dan meninggal tahun 1862 di Massachusetts, Amerika Serikat. Selain dikenal sebagai esais, penyair dan filsuf, Thoreau juga adalah seorang aktivis anti perbudakan (abolitionist) dan terutama melalui karyanya yang berjudul Civil Disobedience, Thoreau sering disebut-sebut sebagai anarkis. Thoreau punya pandangan berkenaan konsep Tuhan yang panteistik, yang dipengaruhi pembacaannya terhadap teks spiritual India. Tulisan-tulisannya dalam Civil Disobedience dan juga Walden mempengaruhi pandangan hidup tokoh besar seperti Leo Tolstoy, Martin Luther King Jr. dan Mahatma Gandhi. 

 Pada bulan Juli 1845, didasari oleh keinginannya untuk lebih fokus pada penulisan, Thoreau tinggal di rumah yang dibangunnya sendiri di atas tanah milik Emerson di pinggir Danau Walden. Thoreau tinggal di pinggir Danau Walden selama dua tahun dua bulan dan mempraktikkan apa yang disebut sebagai “simple living”. Tahun 1854, buku Walden; or, Life in the Woods terbit sebagai hasil refleksinya selama hidup di Danau Walden. Steven Fink, pengkaji pemikiran Thoreau menyebut Thoreau sebagai penulis yang “lambat”. 

Dalam tulisannya di Walden, Thoreau menyinggung tentang filsuf yang menurutnya bukan tentang orang yang memiliki pemikiran mendalam saja, melainkan tentang orang yang mencintai kebijaksanaan dan hidup berdasar pada kebersehajaan dan independensi (hlm 15). Dengan mengacu pada hidup yang bebas dan tanpa komitmen, bagi Thoreau, menjadi tidak ada perbedaan antara hidup di desa dan di penjara (hlm 70). Wujud dari hidup bebas dan tanpa komitmen ini ditunjukkan salah satunya melalui sikap tenang dan tidak rakus. Thoreau mempertanyakan: “Why should we live with such hurry and waste of life? We are determined to be starved before we are hungry.” (hlm 77) 

Orientasinya pada individu ini membuat Thoreau punya pandangan kurang baik terhadap masyarakat. Menurut Thoreau, masyarakat menuntut kita untuk bertemu secara singkat sehingga tidak punya waktu cukup untuk saling menggali nilai satu sama lain (hlm 113). Secara umum, prinsip transendentalisme ini bertentangan dengan konsep masyarakat yang menurutnya mengganggu keotentikan individu. Lebih jauh lagi, Thoreau menolak konsep negara yang menurutnya memfasilitasi otoritas yang memaksa sehingga kembali lagi, bertentangan dengan prinsip-prinsip individualisme yang menjadi dasar transendentalisme. Melalui kesendiriannya di Walden, Thoreau semakin menghayati individualisme tersebut. 

Melalui Walden, kita dapat lebih dalam memandang konsep kemandirian (self reliance) baik secara ekonomi maupun spiritual. Di Walden, Thoreau memang kerap didatangi oleh orang lain dan dia menikmati keberadaan orang lain tersebut. Namun ia tidak mengatakan bahwa ia "memerlukannya". Selain itu, Thoreau juga mengajak kita untuk menjalani kehidupan yang sederhana, yang ditunjukkan melalui perilaku konsumsi yang minimal dan fokus pada waktu luang. Thoreau, dalam tulisannya, mengritik konsep kemajuan (progress) yang menurutnya bertentangan dengan kedamaian diri. Ia ingin agar manusia lebih fokus pada pencerahan spiritual yang terkait dengan prinsip manusia sebagai bagian dari alam, alam sebagai refleksi perasaan manusia serta negara sebagai konsep yang korup dan tidak adil. 

Meski demikian, kita juga bisa mengajukan kritik pada gagasan Thoreau yang menunjukkan sikap khas yang dibangun di atas kehidupan materialistik orang-orang Amerika (menyepi, mengasingkan diri, seolah-olah “kabur” dari persoalan). Hal ini disinggung oleh Georg Simmel dalam Philosophy of Money: sikap penolakan terhadap dunia yang serba materialistik hanya dimungkinkan akibat keberadaan uang. Selain itu, ada paradoks menarik, yaitu kenyataan bahwa ketenangan yang diperoleh Thoreau hanya dimungkinkan akibat kepemilikan Emerson atas wilayah tersebut (ujung-ujungnya menjadi sikap kekayaan yang justru dibangun di atas kekayaan). Kemudian kita bisa mengajukan pertanyaan: Bisakah hidup di alam "tanpa dikenal"? Karena jika hidup di alam kemudian dipublikasikan (seperti juga terjadi hingga hari ini melalui media sosial dan program-program televisi), tidakkah malah berpotensi merusak alam itu sendiri, karena orang-orang kemudian berbondong-bondong untuk hidup di alam? Terakhir, kita juga bisa pertanyakan soal sisi kebaruan dari Walden. Bukankah "Timur" sudah lebih "duluan" dalam menghayati alam dan spiritualitasnya, tanpa harus berangkat dari kemuakan atas industrialisasi dan sikap materialistik? Maka itu, ketimbang belajar pada Walden, kita bisa menggali kembali kearifan lokal kita sendiri.

Comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...