Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Moderator


Jika dihitung-hitung, saya lebih sering menjadi moderator ketimbang pembicara di dunia perdiskusian. Peran moderator ini sebenarnya sudah saya lakoni sejak mengurus komunitas Madrasah Falsafah yang berdiri sekitar tahun 2007. Waktu itu, sebelum saya dipercaya sepenuhnya untuk menjadi koordinator Madrasah Falsafah, saya terlebih dahulu mengamati peran moderator yang dijalankan oleh Rosihan Fahmi yang menurut saya justru lebih sentral dari peran pembicara. Di Madrasah Falsafah yang memegang prinsip dialog Sokrates, tidak ada yang benar-benar dinamakan narasumber secara khusus karena semua peserta diskusi diplot sekaligus sebagai pembicara. Moderator justru bertugas memancing para peserta agar bisa memberikan pandangan terhadap suatu topik yang bisa jadi sangat sederhana seperti misalnya tentang "sahabat" atau tentang "pagar". Kalaupun ada yang dinamakan "narasumber", maka istilah yang disematkannya adalah "pemasalah" karena tugasnya bukan menerangkan suatu informasi, tetapi lebih pada mengajukan masalah filosofis. 

Moderator, dalam prinsip Madrasah Falsafah, adalah seperti Sokrates, ia berupaya menggali "pengetahuan dari dalam" yang ada pada diri masing-masing peserta. Pendapat para peserta, yang sebagian besar bukan berlatar belakang studi akademis filsafat, mungkin bisa sangat acak dan hanya berupa letupan-letupan pengalaman seperti misalnya, "Sahabat ya bagi saya merupakan orang-orang di sekitar yang justru bisa menerima kekurangan-kekurangan saya." Moderator, mendengar pendapat tersebut, mesti mampu menariknya menjadi pernyataan filosofis seperti misalnya, "Jadi, menurut kamu, sahabat artinya adalah orang-orang yang mampu menerima hubungan yang asimetris ya?" Asimetris, yang dipinjam dari istilah Emmanuel Levinas, artinya adalah hubungan yang tidak harus saling menguntungkan secara "adil", melainkan bisa juga "berat sebelah". Kemudian, moderator juga bisa melemparkan pernyataan barusan pada forum untuk kemudian ditanggapi kembali, "Apakah benar-benar ada hubungan yang asimetris itu? Atau setiap orang pasti berharap ganjaran yang 'simetris', meski misalnya, dari surga?" Dengan demikian, forum menjadi hidup justru karena aktifnya moderator dalam "melangitkan" sekaligus "membumikan" setiap pernyataan. Maka itu, dulu kami punya semboyan: "Semua orang adalah filsuf." 

Kebiasaan menjalani peran moderator semacam itu membuat saya meyakini bahwa tugas moderator bukanlah sekadar "mengatur lalu lintas diskusi" atau bahkan lebih buruknya, hanya mempersilakan pembicara presentasi atau membuka sesi tanya jawab. Moderator, lebih dari itu, punya peran penting dalam menggali materi dari narasumber dan juga menajamkan pertanyaan atau tanggapan dari peserta. Narasumber bisa saja memaparkan materi yang kurang relevan dengan tema atau memaparkan materi dengan cara yang membosankan, tetapi hal tersebut harus segera diatasi oleh moderator untuk misalnya, memancing narasumber dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya membuat diskusi menjadi lebih menarik dan hidup. Moderator juga, bagi saya, mesti mampu merasakan apakah forum ini tampak terlalu lesu atau malah terlalu bersemangat sehingga perannya juga adalah untuk mengimbangi. Misalnya, jika forum terlalu "sepi" dari respons, maka moderator bisa melontarkan satu dua humor agar suasana lebih segar atau membuat "pertanyaan awam" yang membuat peserta merasa terhubung dengan materi yang mungkin dirasa terlalu rumit. 

Itu sebabnya, di Kelas Isolasi, istilah moderator, yang kami anggap terlalu "netral", akhirnya diputuskan untuk diubah menjadi "pengegas". Ia bukan hanya memoderasi diskusi, tetapi juga membuat diskusi menjadi lebih hangat dan bahkan bisa jadi provokatif.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...